PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP PSIKOLOGI
Banyak pengertian psikologi yang dikemukan para ahli yang
masing-masing menekankan pada susdut pandangan sendiri-sendiri mana yang
dianggap penting. Perbedaan ini mungkin disebabkan metode yang digunakan maupun
pendekatan permasalahannya.
A.Pengertian psikologi Menurut para ahli
1. Psikologi (dari bahasa Yunani Kuno: psyche = jiwa dan
logos = kata) dalam arti bebas psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang
jiwa/mental. Psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena
sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi
dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya,
sehingga Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang
mempelajari tingkah laku dan proses mental
2,
Crow & Crow
Pschycology
is the study of human behavior and human relationship.
(Psikologi ialah tingkah laku manusia, yakni interaksi manusia dengan dunia
sekitarnya, baik berupa manusia lain (human relationship) maupun bukan manusia:
hewan, iklim, kebudayaan, dan sebagainya
Sartain
Psychology is the scientific study of the behavior of living organism, with
especial attention given to human behavior. (Psikologi adalah ilmu yang
mempelajari tingkah laku organisme yang hidup, terutama tingkah laku manusia)
Bruno (1987)
Pengertian Psikologi dibagi dalam tiga bagian, yaitu:
Pertama, psikologi adalah studi (penyelidikan) mengenai “ruh”. Kedua, psikologi
adalah ilmu pengetahuan mengenai “kehidup mental”. Ketiga, psikologi adalah
ilmu pengetahuan mengenai “tingkah laku” organisme.
Psikologi ialah ilmu pengetahuan mengenai perilaku
manusia dan hewan
Ensiklopedia Pendidikan, Poerbakawatja dan Harahap (1981)
Psikologi sebagai cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas
gejala-gejala dan kegiatan – kegiatan jiwa
Richard Mayer (1981)
Psikologi merupakan analisi mengenai proses mental dan
struktur daya ingat untuk memahami perilaku manusia
James,W.
(dlm Harriman,P.L.,1963 ,Handbook of Psychological Terms): “the science of
mental life, both of its phenomena, and of their condition”
1. Psikologi perkembangan
Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari
perkembangan manusia dan faktor-faktor yang membentuk prilaku seseorang sejak
lahir sampai lanjut usia. Psikologi perkembangan berkaitan erat dengan psikologi
sosial, karena sebagian besar perkembangan terjadi dalam konteks adanya interaksi
sosial. Dan juga berkaitan erat dengan psikologi kepribadian,
karena perkembangan individu dapat membentuk kepribadian khas dari individu
tersebut
2.
Psikologi sosial
Bidang ini mempunyai 3 ruang lingkup, yaitu :
studi tentang pengaruh sosial terhadap proses
individu, misalnya : studi tentang persepsi, motivasi proses
belajar, atribusi (sifat)
studi
tentang proses-proses individual bersama, seperti bahasa, sikap
sosial, perilaku meniru dan lain-lain
studi tentang interaksi kelompok, misalnya kepemimpinan,
komunikasi hubungan kekuasaan, kerjasama dalam kelompok, dan persaingan.
3. Psikologi kepribadian
Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari tingkah
laku manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, psikologi
kepribadian berkaitan erat dengan psikologi perkembangan dan psikologi
sosial, karena kepribadian adalah hasil dari perkembangan individu
sejak masih kecil dan bagaimana cara individu itu sendiri dalam berinteraksi
sosial dengan lingkungannya.
4. Psikologi kognitif
Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari kemampuan kognisi,
seperti: Persepsi, proses belajar, kemampuan memori, atensi,
kemampuan bahasa dan emosi.
Wilayah terapan psikologi adalah wilayah-wilayah dimana kajian
psikologi dapat diterapkan. walaupun demikian, belum terbiasanya orang-orang Indonesia
dengan spesialisasi membuat wilayah terapan ini rancu, misalnya,
seorang ahli psikologi pendidikan mungkin saja bekerja pada HRD
sebuah perusahaan, atau sebaliknya.
1. Psikologi sekolah
Psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang
mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik,
sosialisasi, dan emosi. Yang bertujuan untuk membentuk mind set anak
2. Psikologi industri dan organisasi
Psikologi industri memfokuskan pada menggembangan, mengevaluasi dan
memprediksi kinerja suatu pekerjaan yang dikerjakan oleh individu,
sedangkan psikologi organisasi mempelajari bagaimana suatu organisasi
memengaruhi dan berinteraksi dengan anggota-anggotanya
3. Psikologi kerekayasaan
Penerapan psikologi yang berkaitan dengan interaksi
antara manusia dan mesin untuk meminimalisasikan kesalahan manusia
ketika berhubungan dengan mesin (human error)
4. Psikologi klinis
Adalah bidang studi psikologi dan juga penerapan
psikologi dalam memahami, mencegah dan memulihkan keadaan psikologis individu
ke ambang normal.
Adapun menurut Sumadi Suryobroto ( 1984 ) juga
mengatakan bahwa yang menjadi ruang lingkup psikologi pendidikan meliputi
:
Pengetahuan tentang psikologi pendidikan : pengertian
ruang lingkup, tujuan mempelajari dan sejarah munculnya psikologi pendidikan
Pembawaaan
Lingkungan fisik dan
psikologis
Perkembangan siswa
Proses – proses
tingkah laku
Hakekat dan ruang
lingkup belajar
Faktor yang
mempengaruhi belajar
Hukum dan teori
belajar
Pengukuran pendidikan
Aspek praktis
pengukuran pendidikan
Transfer belajar
Ilmu statistik dasar
Kesehatan mental
Pendidikan membentuk
watak / kepribadian
Kurikulum pendidikan
sekolah dasar
Kurikulum
pendidikan sekolah menengah
Definisi Perkembangan
Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan
berkesinambungan dan progresif dalam organisme, dari lahir sampai mati (Chaplin
C.P.,1989:134). Sedangakan Hurlock E.B. (1978:23) menyatakan bahwa
“Perkembangan dapat didefinisikan sebagai deretanm progresif dari perubahan yang
teratur dan koheren “.”Progresif “ menandai bahwa perubahannya terarah,
membimbing mereka maju, dan bukan mundur. “Teratur” dan “ koheren” menunjukan
hubungan yang nyata antara perubahan yang terjadi dan telah mendahului atau
mengikutinya.
Ini berarti bahwa perkembangan juga berhubungan dengan proses belajar terutama
mengenai isinya yaitu tentang apa yang akan berkembang berkaitan dengan
perbuatan belajar. Disamping nitu juga bagaimana suatu hal itu dipelajari,
apakah melalui memorisasi (menghafal) atau melalui peniruan dan atau dengan
menangkap hubungan-hubungan, hal-hal ini semuaikut menentukan proses
perkermbangan.
Dapat pula dapat dikatakan bahwa perkembangan sebagai suatu proses yang kekal
dan tetap yang menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang
lebih tinggi terjadi berdasarkan proses pertumbuhan, kemasakan, dan belajar.
2. Prinsip-prinsip Perkembangan
Carol Getswicki( 1995) mengemukakan beberapa prinsip
dasar perkembangan.
1. Dalam perkembangan terdapat urutan yanng diramalkan pemahaman tentang
perilaku yag seharusnya terjadi berikutnya, akan membantu para praktis untuk
mengenal perkembangan yang khusus dan menantang fase berikutya yang semestinya.
2. Perkembangan pada suatu tahap merupakan landasan bagi perkembangan
berikutnya. Suatu perkembangan tidak akan mungkin terjadi berkesinambungan
dengan baik bila anank didorong untuk melampaui atau secara tergesa-gesa
menjalani tahap-tahap awal. Anak harus diberi waktu yang sesuai dengan yang
mereks butuhkan sebelum berlanjut pada tahap berikutnya.
3. Dalam perkembangan terdapat waktu-waktu yang optimal .
waktu-waktu yang menunjukan kesiapan harus dikenai melalui pengamatan yang
cermat . proses belajar akan terjadi dengan sangat mudah pada saat yang
optimal. Setiap pengajaran tidak akan menjadikan proses belajar dengan mudah
sebelum mencapai kepuasan.
4. Perkembangan merupakan hasil interaksi faktor-faktor biologis (kematangan)
dan faktor-faktor lingkungan (belajsr). Kematangan merupakan prasyarat
munculnya kesiapan untuk belajar . lingkungan menentukan arah perkembangan.
5. Perkembangan maju berkelanjutan merupakan kesatuan yang saling emosional ,
sosial berhubungan , dengan semua aspek-aspek(fisik,kognitif, emosional,sosial)
yang saling mempengaruhi.
atau
1. Perkembangan Melibatkan Perubahan
Tujuan perubahan perkembangan, menurut Maslow adalah
“aktualisasi diri” , yaitu upaya untuk menjadi orang terbaik secara fisik dan
mental. Agar merasa bahagia dan puas orang harus diberi kesempatan untuk
memenuhi dorongan tersebut.
2. Perkembangan Awal Lebih Kritis daripada Perkembangan Selanjutnya, Karena
dasar awal sangat dipenaruhi oleh proses belajar dan pengalaman.
3. Perkembangan Merupakan Hasil Proses Kematangan dan Belajar
Berbagaoi bukti menunjukkan, bahwa ciri perkembangan fisik dan mental sebagian
berasal dari proses kematangan intrinsik dan sebagian berasal dari latihan dan
usaha individu.
4. Pola Perkembangan Dapat Diramalkan, walaupun pola yang dapat diramalkan ini
dapat diperlambat atau dipercepat oleh kondisi awal pada masa pralahir dan
pasca lahir.
5. Pola Perkembangan Mempunyai Karakteristik yang Dapat Diramalkan
Yang penting di antaranya adalah adanya persamaan pola perkembangan bagi
semuaanak: perkembangan berlangsung dari tanggapan yang umum ke tanggapan yang
spesifik; perkembangan terjadi secara berkesinambung; berbagai bidang
berkembang dengan kecepatan yang berbeda;dan terdapat korelasidalam berkembang.
6. Terdapat Perbedaan Individ Dalam Berkembang, yang sebagian karena pengaruh
bawaan dan sebagian karena kondisi lingkungan. Ini berlaku bagi perkembangan
fisik maupun psikologi.
7. Terdapat periode perkembangan, yang disebut periode pralahir, masas
noenatus, masa bayi, masa kanak-kanak awal, akhir masa kanak-kanak, dan masa
puber.
8. Adanpan Harapan Sosial Untuk Setiap Periode Perkembangan. Harapan sosial ini
berbentuk tugas perkembangan yanmg memungkinan para orang tua dan guru
mengetahui pada usia berapa usia anak-anak mampu menguasai berbagai pola
perilaku yang diperlukan bagi penyesuaian yang baik.
9. Setiap Bidang Perkembangan Mengandung Bahaya yang Potensial, baik fisik
maupun psikologi yang dapat mengubah pola perkembangan.
10. Kebahagian Bervariasi pada Berbagai Periode dalam Pola Perkembangan. Tahun
pertama kehidupan biasasnya yang paling bahagia dan masa puber biasanya yang
palingn tidak bahagia.
A. HEREDITAS
Hereditas dapat diartikan sebagai
pewarisan atau pemindahan karakteristik biologis individu dari pihak kedua
orang tua ke anak atau karakteristik biologis individu yang dibawa sejak lahir
yang tidak diturunkan dari pihak kedua orang tua.
a. Keturunan
Kita dapat mengatakan bahwa sifat-sifat atau ciri-ciri
pada seorang anak adalah keturunan, jika sifat-sifat atau ciri-ciri
tersebut diwariskan atau diturunkan melalui sel-sel kelamin dari generasi yang
lain. Meskipun kita melihat suatu sifat atau ciri-ciri yang sama antara orang
tua dan anaknya, kita belum dapat mengambil kesimpulan bahwa sifat-sifat atau
ciri-ciri pada anak itu merupakan keturunan. Umpamanya: Bapak malas dan anaknya
juga malas, ini belum berarti bahwa kemalasan anak itu adalah keturunan.
Mungkin sifat malas pada anak itu disebabkan karena dengan tiada sadar anak itu
“meniru” dari orang tuanya, jadi mungkin adalah pengaruh lingkungan.
Memang benar bahwa
anak-anak kembar yang berasal dari satu telur menunjukkan persamaan-persamaan
yang banyak sekali, baik mengenai sifat-sifat kejasmanian maupun mengenai
kerohaniannya, jadi merupakan sifat-sifat yang menurun. Tapi dari penyelidikan,
ternyata jika anak kembar yang berasal dari satu telur masing-masing dididik
dalam lingkungan yang berlain-lainan akan terlihat pula perbedaannya. Nyatalah
di sini bahwa lingkungan berpengaruh besar pula, sehingga sulit penentuan bahwa
suatu sifat itu keturunan atau bukan.
Sifat ataupun
ciri-ciri jasmaniah yang tertentu yang diperoleh karena keturunan, seperti
seorang anak yang berambut pirang atau ikal, bermata lebar atau sipit, berbada
tinggi atau pendek, periang, lincah atau pendiam.
Sifat-sifat
kejiwaan lebih sulit ditentukan, apakah diperoleh dari keturunan atau bukan,
hal ini dikarenakan sifat-sifat kejiwaan lebih mudah berubah atau terpengaruh
oleh keadaan-keadaan lingkungan selama perkembangannya.
Banyak para ahli
yang berusa menyelidiki sifat-sifat kejiwaan manusia yang berkenaan dengan
keturunan, tetapi sampai sekarang penyelidikan itu masih belum mendapatkan
hasil yang memuaskan. Hal ini dikarenakan faktor-faktor berikut:
1. Pada manusia
tidak dapat dilakukan persilangan (kruising) menurut rencana tertentu umpamanya
persilangan antara dua ras yang sangat berlainan asalnya.
2. Masa perkembangan
manusia begitu lama, sehingga mengakibatkan sifat-sifat yang ada terjadi karena
keturunan dapat tersembunyi dengan lamanya, sebelum sifat-sifat itu muncul pada
individu.
3. Adanya jumlah
anak manusia yang relatif.
b. Pembawaan
Pembawaan ialah seluruh
kemungkinan-kemungkinan atau kesanggupan-kesanggupan (potensi) yang terdapat
pada seorang individu dan yang selama masa perkembangannya benar-benar dapat
diwujudkan (direalisasikan). Misalnya: sejak dilahirkan anak mempunyai
kesanggupan untuk dapat berjalan, potensi berkata-kata, potensi untuk belajar
ilmu pasti, pembawaan untuk bahasa, untuk menggambar, intelegensi yang baik dan
lain-lain.
Potensi-potensi yang bermacam-macam itu tentu saja tidak
dapat direalisasikan atau dapat dinyatakan begitu saja, malainkan harus
mengalami perkembangan serta membutuhkan latihan-latihan. Potensi dapat
diketahui dengan memperhatikan prestasi-prestasi (actual ability), bentuk
wataknya dan tingkah laku seorang individu.
Semua yang dibawa oleh si anak sejak dilahirkan dan
diterima karena kelahirannnya adalah pembawaan. Tetapi pembawaan itu tidaklah
semuanya diperoleh karena keturunan. Sebaliknya, semua yang diperoleh karena
keutunan adalah dapat dikatakan pembawaan (pembawaan keturunan. (Purwanto,
M. Ngalim, 1990: 24)
Beberapa macam
pembawaan:
1. Pembawaan jenis
Tiap-tiap manusia biasa di waktu lahirnya telah memiliki
pembawaan jenis, yaitu jenis manusia. Bentuk badannya, anggota-anggota
tubuhnya, intelegensinya, inggatannya dan sebagainya semua itu menunjukkan
ciri-ciri yang khas dan berbeda dengan jenis-jenis mahluk lain.
2. Pembawaan ras
Dalam jenis manusia pada umumnya masih terdapat lagi
bermacam-macam perbedaan yang termasuk pembawaan keturunan, yaitu pembawaan
keturunan mengenai ras. Seperti ras Indo Jerman, ras Mongolia, ras Negro dan
lain-lain. Masing-masing ras itu dapat terlihat perbedaannya satu sama lain.
3. Pembawaan jenis
kelamin
Setiap manusia yang normal sejak lahir telah membawa
pembawaan jenis kelamin masing-masing: laki-laki atau perempuan. Pada kedua
jenis kelamin itu terdapat pula perbedaan sikap dan sifatnya terhadap dunia
luar.
4. Pembawaan
perseorangan
Tiap-tiap orang sendiri-sendiri (individu) memiliki
pembawaan yang bersifat individual (pembawaan perseorangan) yang tipikal.
Tiap-tiap individu meskipun bersamaan ras atau jenis kelaminnya, masing-masing
mempybai pembawaan watak, intelegnsi, sifat-sifat dan sebagainya yang
berbeda-beda.
Pembawaan ras, pembawaan jenis, dan pembawaan kelamin
sedikit sekali dipengaruhi oleh lingkungan, akan tetapi pembawaan perorangan
dalam pertumbuhannya lebih ditentukan oleh lingkungan, antara lain ialah:
a. Konstitusi
tubuh: termasuk dalamnya: motorik, seperti sikap badan, sikap berjalan, air
muka, gerakan bicara.
b. Cara bekerja
alat-alat indera: ada orang yang lebih menyukai beberapa jenis stimulus
tertentu yang mirip dengan kesukaan yang dimiliki oleh ayah atau ibunya.
c. Sifat-sifat
ingatan dan kesanggupan belajar.
d. Tipe-tipe
perhatian, intelegensi kosien (IQ) serta tipe-tipe intelegensi.
e. Cara-cara
berlangsungnya emosi-emosi yang khas: cepat atau lambatnya bereaksi
terhadap sesuatu: dengan keras atau tenang; cara timbulnya perasaan atau
pikiran dan sebagainya (temperamen).
f. Tempo
dan ritme perkembangan.
B. LINGKUNGAN
Lingkungan ialah faktor yang
datang dari luar diri individu, merupakan pengalaman-pengalaman, alam sekitar,
pendidikan dan sebagainya. Pengaruh pendidikan dan pengaruh lingkungan sekitar
itu sebenarnya terdapat perbedaan. Pada umumnya pengaruh lingkungan bersifat
pasif, dalam arti bahwa lingkungan tidak memberikan suatu paksaan kepada
individu. Lingkungan memberikan kemungkinan-kemungkinan atau
kesempatan-kesempatan kepada individu. Bagaimana individu mengambil manfaat
dari kesempatan yang diberikan oleh lingkungan tergantung kepada individu
bersangkutan. Tidak demikian halnya dengan pendidikan. Pendidikan dijalankan
dengan penuh kesadaran dan dengan secara sistematis untuk mengembangkan
potensi-potensi ataupun bakat-bakat yang ada pada individu sesuai dengan
cita-cita atau tujuan pendidikan. Dengan demikian pendidikan bersifat aktif,
penuh tanggung jawab dan ingin mengarahkan perkembangan individu ke suatu
tujuan tertentu.
Lingkungan secara
garis besar dapat dibedakan:
a. Lingkungan
fisik, Yaitu lingkungan yang berupa alam, misalnya keadaan tanah, keadaan
musim, dan sebagainya. Lingkungan alam yang berbeda akan memberikan pengaruh
yang berbeda pula kepada individu. Misalnya: daerah pegungungan akan memberikan
pengaruh yang lain bila dibandingkan dengan daerah pantai. Daerah yang
mempunyai musin dingin akan memberikan pengeruh yang berbeda dengan daerah yang
penuh dengan musim panas.
b. Ligkungan
sosial, yaitu merupakan lingkungan mayarakat, di mana dalam lingkungan
masyarakat ini adanya interaksi individu satu dengan individu lain. Keadaan masyarakatpun
akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan individu.
Lingkungan sosial dibedakan:
1. Lingkungan
sosial primer, yaitu lingkungan sosial di mana terdapat hubungan yang erat
antara anggota satu dengan anggota lain, anggota satu saling kenal mengenal
dengan baik dengan anggota lain. Oleh karena di antara anggota telah ada
hubungan yang erat, maka sudah tentu pengaruh dari lingkungan sosial ini akan
lebih mendalam bila dibandingkan dengan lingkungan sosial yang hubungannya
tidak erat.
2. Lingkungan
sosial sekunder, yaitu lingkungan sosial yang hubungan anggota satu dengan
anggota lain agak longgar. Pada umumnya anggota satu dengan anggota lain kurang
atau tidak saling kenal mengenal. Karena itu pengaruh lingkungan sosial
sekunder akan kurang mendalam bila dibandingkan dengan pengaruh lingkungan
sosial primer.
Hubungan individu dengan lingkungannya ternyata tidak
hanya berjalan sebelah, dalam arti hanya lingkungan saja yang mempunyai
pengaruh terhadap individu, Hubungan antara individu dengan lingkungan terdapat
hubungan yang saling timbal balik, yaitu lingkungan dapat mempengaruhi
individu, tetapi sebaliknya individu juga dapat mempengaruhi lingkungan.
(Walgito, Bimo, 1980: 50)
Sikap individu
terhadap lingkungan dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Individu
menolak atau menentang lingkungan
Dalam keadaan ini
lingkungan tidak sesuai dengan yang ada dalam diri individu. Dalam keadaan yang
tidak sesuai ini individu dapat memberikan bentuk atau perubahan lingkungan
seperti yang dikehendaki oleh individu yang bersangkutan. Misalnya akibat
banjir sebagian jalan terputus. Untuk mengatasi ini dibuat tanggul untuk
melawan pengaruh dari lingkungan, sehingga orang tidak menerima begitu saja
pengaruh lingkungan tetapi orang menolak atau mengatasi pengaruh lingkungan
demikian itu.
b. Individu
menerima lingkungan
Dalam hal ini
keadaan lingkungan sesuai atau sejalan dengan yang ada dalam diri manusia.
Dengan demikian individu akan menerima lingkungan itu.
c. Individu
bersikap netral
Dalam hal ini
individu tidak menerima tetapi tidak menolak. Individu dalam keadaan status quo
terhadap lingkungan.
- Motivasi
Motivasi adalah salah satu factor yang memengaruhi
keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasilah yang mendorong siswa ingin
melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai
proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan
menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 1994). Motivasi juga diartikan sebagai
pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah
perilaku seseorang.
Dari sudut sumbernya motivasi dibagi menjadi dua, yaitu
motivasi intrinsic dan motivasi ekstrinsik. Motaivasi intrinsic adalah semua
factor yang berasal dari dalam diri individu dan memberikan dorongan untuk
melakukan sesuatu. Seperti seorang siswa yang gemar membaca, maka ia tidak
perlu disuruh-suruh untuk membaca, karena membaca tidak hanya menjadi aktifitas
kesenangannya, tapi bisa jadi juga telah mejadi kebutuhannya. Dalam proses
belajar, motivasi intrinsic memiliki pengaruh yang efektif, karena motivasi
intrinsic relaatif lebih lama dan tidak tergantung pada motivasi dari
luar(ekstrinsik).
Menurut Arden N. Frandsen (Hayinah, 1992), yang termasuk
dalam motivasi intrinsic untuk belajar anatara lain adalah:
a. Dorongan ingin
tahu dan ingin menyelisiki dunia yang lebih luas;
b.
Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk
maju;
c.
Adanaya keinginan untuk mencapai prestasi sehingga mendapat dukungan dari
orang-orang penting, misalkan orang tua, saudara, guru, atau teman-teman, dan
lain sebaginya.
d.
Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengetahuan yang berguna bagi
dirinya, dan lain-lain.
Motivasi ekstrinsik adalah factor yang dating dari luar
diri individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan untauk belajar. Seperti
pujian, peraturan, tata tertib, teladan guru, orangtua, danlain sebagainya.
Kurangnya respons dari lingkungansecara positif akan memengaruhi semangat
belajar seseorang menjadi lemah.
-
Minat
Secara sederhana,minaat (interest) nerrti
kecemnderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap
sesuatu. Menurut Reber (Syah, 2003) minat bukanlah istilah yang popular dalam
psikologi disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai factor internal
lainnya, seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, moativasi, dan kebutuhan.
Namun lepas dari kepopulerannya, minat sama halnya dengan
kecerdasan dan motivasi, karena memberi pengaruh terhadap aktivitas belajar, ia
akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar. Oleh karena itu, dalam
konteks belajar di kelas, seorang guru atau pendidik lainnya perlu
membangkitkan minat siswa agar tertarik terhadap materi pelajaran yang akan
dihadapainya atau dipelajaranya.
Untuk membagkitkan minat belajar tersebut, banyak cara
yang bisa digunakan. Anatara lain, pertama, dengan mebuat materi yang akan
dipelajarai semenarik mingkin dan tidak membosankan, baik dari bentuk buku
materi, desai pembelajaran yang membebaskan siswa mengeksplor apa yang dipelajari,
melibatkan seluruh domain belajar siswa (kognitif, afektif, psikomotorik)
sehingga siswa menjadi aktif, maupun performansi guru yang menarik saat
mengajar. Kedua, pemilihan jurusan atau bidang studi. Dalam hal ini,
alangkah baiknya jika jurusan atau bidang studi dipilih sendiri oleh siswa
sesuai dengan minatnya.
- Sikap
Dalam proses belajar, sikap individu dapat memengaruhi
keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala internal yang mendimensi
afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dangan cara yang
relative tetap terhadap obyek, orang, peristiwa dan sebaginya, baik secara
positif maupun negative (Syah, 2003).
Sikap siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan
senang atau tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan
sekitarnya. Dan untuk mengantisipasi munculnya sikap yang negative dalam
belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang professional dan
bertanggungjawab terhadap profesi yang dipilihnya. Dengan
profesionalitas,seorang guru akan berusaha memberikan yang terbaik bagi
siswanya; berusaha mengambangkan kepribadian sebagai seorang guru yang empatik,
sabar, dan tulus kepada muridnya; berusaha untuk menyajikan pelajaranyang
diampunya dengan baik dan menarik sehingga membuat siswa dapat mengikuti
pelajaran dengan senang dan tidak menjemukan; meyakinkansiswa bahwa bidang
studi yang dipelajara bermanfaat bagi ddiri siswa.
- Bakat
Faktor psikologis lain yang memengaruhi proses
belajar adalah bakat. Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan sebagai
kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada
masa yang akan dating (Syah, 2003). Berkaitan dengan belajar, Slavin (1994)
mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang dimilki seorang siswa untauk
belajar. Dengan demikian, bakat adalah kemampuan seseorang menjadi salah
satukomponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat
seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan
mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan berhasil.
Pada dasarnya setiap orang mempunyai bakat atau potensi
untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Karena itu, bakat juga diartikan sebagai kemampuan dasar individu untuk
melakukan tugas tertentu tanpa tergantung upaya pendidikan dan latihan.
Individu yang telah mempunyai bakat tertentu, akan lebih mudah menyerap
informasiyang berhungan dengan bakat yang dimilkinya. Misalnya, siswa yang
berbakat dibidang bahasa akan lebih mudah mempelajari bahasa-bahasa yang lain
selain bahasanya sendiri.
Karena belajar jug dipengaruhi oleh potensi yang dimilki
setiap individu,maka para pendidik, orangtua, dan guru perlu memerhatikan dan
memahami bakat yang dimilki oleh anaknya atau peserta didiknya, anatara lain dengan
mendukung,ikut mengembangkan, dan tidak memaksa anak untuk memilih jurusan yang
tidak sesuai dengan bakatnya.
b. Factor-faktor eksogen/eksternal
Selain karakteristik siswa atau factor-faktor endogen,
factor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi proses belajar siswa.dalam hal
ini, Syah (2003) menjelaskan bahwa faktaor-faktor eksternal yang memengaruhi
balajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu factor lingkungan social
dan factor lingkungan nonsosial.
1)
Lingkungan social
a.
Lingkungan social sekolah, seperti ggggggguru, administrasi, dan teman-teman
sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan harmonis antra
ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baikdisekolah.
Perilaku yang simpatik dan dapat menjadi teladan seorang guru atau administrasi
dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk belajar.
b.
Lingkungan social massyarakat. Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal
siswa akan memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak
pengangguran dan anak terlantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajarsiswa,
paling tidak siswa kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau
meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilkinya.
c.
Lingkungan social keluarga. Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar.
Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah),
pengelolaankeluarga, semuannya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar
siswa. Hubungan anatara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang
harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.
2) Lingkungan non social.
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan
nonsosial adalah;
a.
Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak
dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap,
suasana yang sejuk dantenang. Lingkungan alamiah
tersebut mmerupakan factor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar
siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar
siswa akan terlambat.
b.
Factor instrumental,yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam.
Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar,fasilitas belajar,
lapangan olah raga dan lain sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum
sekolah, peraturan-peraturan sekolah, bukupanduan, silabi dan lain sebagainya.
c.
Factor materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa). Factor ini hendaknya
disesuaikan dengan usia perkembangan siswa begitu juga denganmetode mengajar
guru, disesuaikandengan kondisi perkembangan siswa. Karena itu, agar guru dapat
memberikan kontribusi yang postif terhadap aktivitas belajr siswa, maka guru
harus menguasai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat
diterapkan sesuai dengan konsdisi siswa.
TEORI-TEORI BELAJAR
A. Teori
Behaviorisme
Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang
memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek –
aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan,
bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar
semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan
yang dikuasai individu.
Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini,
diantaranya :
1.
Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.
Dari
eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum
belajar, diantaranya
Law
of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons
menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin
kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan
efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara
Stimulus- Respons.
Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa
kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction
unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme
untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin
bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang
atau tidak dilatih.
2.
Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor
anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
Law
of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang
salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya
akan meningkat.
Law
of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut.
Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu
didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan
menurun.
3.
Operant Conditioning menurut B.F. Skinner
Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap
tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar,
diantaranya :
Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus
penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat
melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan
perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang
dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang
sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa
didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer
itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan
timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai
pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.
4. Social
Learning menurut Albert Bandura
Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational
learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan
dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme
lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis
atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai
hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri.
Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu
terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation)
dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang
pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment,
seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang
perlu dilakukan.
Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang
mengembangkan teori belajar behavioristik ini, seperti : Watson yang
menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan, Guthrie dengan teorinya
yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the
treshold method), metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode
rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method), Miller dan
Dollard dengan teori pengurangan dorongan.
B. Teori Belajar
Kognitif menurut Piaget
Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut
sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang
banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu
yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa
perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory
motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal
operational. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi
pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. James
Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah “the process by which a
person takes material into their mind from the environment, which may mean
changing the evidence of their senses to make it fit” dan akomodasi adalah
“the difference made to one’s mind or concepts by the process of
assimilation”
Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil
apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta
didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek
fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh
pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan
kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif,
mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam
pembelajaran adalah :
1. Bahasa dan cara berfikir anak
berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan
bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
2. Anak-anak akan belajar lebih baik
apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar
dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
3. Bahan yang harus dipelajari anak
hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4. Berikan peluang agar anak belajar
sesuai tahap perkembangannya.
5. Di dalam kelas, anak-anak
hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan
teman-temanya.
C. Teori
Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran
merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan
hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran
terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga
menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi
terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal
individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan
untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu.
Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi
individu dalam proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi
delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4)
penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan
balik.
D. Teori Belajar Gestalt
Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan
arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa
obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang
terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang
terpenting yaitu :
1. Hubungan bentuk dan latar (figure
and gound relationship); yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan
dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan
suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure
dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan
terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.
2. Kedekatan (proxmity);
bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang
pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
3. Kesamaan (similarity);
bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu
obyek yang saling memiliki.
4. Arah bersama (common direction);
bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung
akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.
5. Kesederhanaan (simplicity);
bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana,
penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan
susunan simetris dan keteraturan; dan
6. Ketertutupan (closure)
bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan
yang tidak lengkap.
Terdapat empat
asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu:
1. Perilaku “Molar“
hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Perilaku
“Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya
kelenjar, sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan
lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah, bermain sepakbola adalah
beberapa perilaku “Molar”. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna
dibanding dengan perilaku “Molecular”.
2. Hal yang penting dalam
mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan
lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya
ada, sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak.
Misalnya, gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah.
(lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang
penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis).
3. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan
lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap
keseluruhan obyek atau peristiwa. Misalnya, adanya
penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius, virgo, pisces, gemini dan
sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain, gumpalan
awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu.
4. Pemberian makna terhadap suatu
rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan
sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang
dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.
Aplikasi teori
Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
1. Pengalaman tilikan (insight);
bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses
pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu
kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
2. Pembelajaran yang
bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait
akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang
dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya
dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal
yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis
dengan proses kehidupannya.
3. Perilaku bertujuan (pusposive
behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi
akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan
tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika
peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru
hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu
peserta didik dalam memahami tujuannya.
4. Prinsip ruang hidup (life
space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan
dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki
keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
5.
Transfer dalam
Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran
tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi
dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi
tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam
tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip
pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan
umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah
menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi
untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh
karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai
prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
Intelegensi dan IQ
Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan
untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi
lingkungannya secara efektif. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi
Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan
untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi
lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa
inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir
secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara
langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang
merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah
Faktor bawaan atau
keturunan
Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari
satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai
tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang
diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang
sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya
bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap
berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal
Faktor lingkungan
Walaupun ada ciri-ciri yang pada
dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan
perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari
otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain
gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan
juga memegang peranan yang amat penting
Inteligensi dan IQ
Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ,
padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti
inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari
Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan.
Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan
seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan
umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age)
Bila kemampuan individu dalam memecahkan
persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut
sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat
itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan
100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah
karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan
pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan
Pengukuran Inteligensi
Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang
psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk
mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang
kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian
direvisi pada tahun 1911 Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari
Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya
adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio
(perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini
disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan
oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal
dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan
untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes
itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan
bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general
factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini
disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang
dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence
Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children)
untuk anak-anak.
Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan
alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di
mana alat tes tersebut dibuat.
Inteligensi dan Bakat. Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan
umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan
yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik.
Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi
yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu
setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena
suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan
khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat
atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar
pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di
bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh
dari Scholastic Aptitude Test adalah Tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate
Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau
Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder
Occupational Interest Survey.
Inteligensi dan Kreativitas
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang
inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses
kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak
selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa
kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi,
tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal
itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah
pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas
yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang
cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya
hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.
Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford
menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat
divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban
berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya
dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu
kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan
informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional
yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau
kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai
oleh ilmu pengetahuan.
Walaupun
keliatannya simetris secara struktur, tapi keduanya mempunyai fugsi yang
berbeda, bila Otak kiri bertanggung jawab terhadap proses berfikir logis,
berdasar realitas, mampu melakukan penafsiran secara abstrak, dan simbolis,
cara berfikirnya sesuai untuk tugas tugas verbal, menulis, membaca, menempatkan
detail, fakta. Sedangkan cara berfkir otak kanan lebih bersifat acak, tidak
teratus,intuitif, holistik, bersifat non verbal, kearah perasaan dan emosi,
kesadaran yang berkenaan dengan perasaan (merasakan kehadiran suatu benda atau orang),
pengenalan bentuk, pola, musik, kepekaan warna, kreativitas, visualisasi.
(Bobbi De Potter,1999, 37 – 38)
Kedua
belahan otak penting artinya , orang yang memanfaatkan kedua belah otak ini
cenderung seimbang dalam setiap aspek kehidupannya, Belajar dapat dengan mudah
bagi mereka karena mereka mempunyai pilihan untuk menggunakan bagian otak yang
diperlukan dalam setiap pekerjaan yang mereka hadapi. Emosi yang positif akan
mendorong kearah kekuatan otak kearah yang lebih berhasil (Bobbi De Potter, 1999,
38)Kedua belahan otak penting artinya , orang yang memanfaatkan kedua belah
otak ini cenderung seimbang dalam setiap aspek kehidupannya, Belajar dapat
dengan mudah bagi mereka karena mereka mempunyai pilihan untuk menggunakan
bagian otak yang diperlukan dalam setiap pekerjaan yang mereka hadapi. Emosi yang positif akan mendorong kearah kekuatan otak
kearah yang lebih berhasil (Bobbi De Potter, 1999, 38)
MEMORI
Memori adalah kemampuan jiwa untukmemasukan (learning),
menyimpan (retention) dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang telah
lampau. Dengan adanya kemampuan untuk
mengingat, manusia mampumenyimpan dan menimbulkan kembali apa yang telah pernah
dialaminya.
Memori mempunyai tiga fungsi/proses, yaitu: memberi
kode/sandi, menyimpan dan menimbulkan kembali.
Pada proses penyimpanan, informasi yang telah diberi kode tersebut
diletakkan dalam struktur memori. Pada
proses penimbulan kembali informasi yang tersimpan berusaha diakses kembali
pada saat dibutuhkan. Proses memunculkan
kembali memori (record) yang tersimpan dalam memori permanent meliputi tiga
cara, yaitu: recall, recognition dan rekonstruksi inferensial.
Sistem memori manusia tersusun dari tiga komponen storage
(penyimpanan). Informasi (yaitu stimulus
dari lingkungan) terlebih dahulu melalui
sensory storage, lalu melawati short-term memory dan pada akhirnya berakhir
dalam long term memory.
Stimuli beragam yang akan mengaktifkan seorang pembelajar
dalam memproses suatu memori dapat berupa data atau elemen psikologi, persepsi,
fisiologi, lingkungan, emosi dan sosial. Dengan bimbingan seorang guru maka
seorang pembelajar atau pelajar akan mampu menyimpan memori yang di-encoded dengan
baik. Memori yang disimpan dalam encoding yang baik akan lebih mudah
diakses kembali dan lebih mudah digunakan untuk membuat suatu konsep atau
memecahkan suatu masalah.
Peningkatan memori dapat dilakukan dengan berbagai cara
misalnya: Mempelajari sesuatu berulang-ulang, menyediakan waktu lebih banyak
untuk rehearsing atau mengulang encoding data tertentu, membuat
bahan/materi yang memiliki arti atau kesan spesifik/tertentu, menggunakan mnemonic
devices seperti cerita, akronim, mengaktifkan retrieval cues-
rekreasi mental, me-recall peristiwa ketika masih segar (fresh) kemudian
menuliskan sebelum terjadi gangguan (interference), meminimalisir interference
dan melakukan ujian (test) terhadap diri sendiri tentang apa yang mungkin
membuat kita lupa.
Pembentukan memori secara biologi, merupakan hal yang
sangat kompleks yang terutama diperankan oleh sistem saraf yang berpusat di
otak. Pusat dari proses mengingat di otak terletak pada area hippocampus.
Secara sederhana, proses pembentukan memori atau proses terbentuknya ingatan
dimulai dari adanya stimuli berupa audio, visual dan taktil (sentuhan) yang
akan ditangkap oleh indra kita. Sebagian dari stimuli tersebut akan di-encoded
dan sebagian tidak. Stimuli atau data yang di-encoded
akan disimpan dalam bentuk short term memory atau immediate memory
atau serupa pada RAM komputer. Selanjuitnya data akan di-encoded untuk
kedua kalinya dan kemungkinan diperkaya dengan pengalaman atau memori yang
telah ada sebelumnya atau nilai/kepercayaan yang telah ada untuk disimpan dalam
bentuk long term memory atau setara disimpan dalam hard disc
komputer. Proses pengayaan
dengan nilai tertentu tersebut setara dengan penamaan atau notasi file
pada komputer.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Memori
Faktor-faktor yang mempengaruhi memori antara lain
kondisi fisik dan usia. Kondisi yang
sangat berpengaruh dalam mengingat adalah kelelahan, kurang tidur dan
sakit. Seseorang yang dalam kondisi
lelah, kurang tidur dan sakit akan mengalami kesulitan untuk mengingat
sesuatu. Hal ini disebabkan karena pada
kondisi seperti itu individu mengalami kemunduran kemampuan metal yang
disebabkan oleh gangguan fisik tadi.
Ingatan yang paling kuat terjadi pada masa anak-anak, yaitu pada usia
10-14 tahun. Orang yang sudah lanjut
usia akan mengalami kesulitan jika diminta untuk mengingat kembali apa yang
sudah dipelajari ataupun dialaminya, karenanya gejala yang paling umum ditemui
pada masa ini adalah pikun.
Lupa
Lupa adalah hilangnya kemampuan untuk menyebutkan atau
memunculkan kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari. Tidak berarti apa yang sudah kita pelajari
akan hilang, hanya saja informasi tersebut terlalu lemah untuk ditimbulkan
kembali.
Perkembangan Memori
Kemampuan memori manusia berkembang sejalan dengan
pertambahan usia. Pada bayi yang baru
lahir baru dimiliki kemampuan rekognisi, sedangkan kemampuan recall baru
dicapai pada usia satu tahun. Anak-anak
yang masih kecil dan bayi memiliki kapasitas memori, tetapi masih diragukan
bahwa memori yang dibentuk dapat dipercaya atau dapat diakses kembali sebelum
berusia dua tahun. Orang dewasa lebih
bersandar pada representasi semantik, sementara anak-anak lebih bersandar pada
representasi berbasis persepsi (yaitu imagery).
Dalam hal menggunakan strategi memori seiring bertambah usia maka
strategi memori seseorang semakin meningkat.
Anak-anak yang sudah cukup besar dan orang dewasa lebih cepat mengingat
informasi dibandingkan dengan anak-anak yang masih kecil.
Hubungan Memori dan Belajar
Terdapat hubungan yang berat antara memori dan
belajar. Dalam proses belajar akan
melibatkan pengolahan dan penyimpanan informasi. Hasil belajar bisa diketahui melalui proses
pengungkapan kembali apa yang telah diketahui siswa. Jadi, dalam belajar dibutuhkan pemanfaatan
kemampuan memori oleh siswa guna menyerap informasi yang diterima, menyimpannya
dan memunculkannya kembali pada saat menjawab soal ulangan atau ujian.
EMOSI
Emosi
adalah suatu kondisi biologi, psikologi dan fisiologi dan serangkaian
kecenderungan untuk bertindak. Emosi
seringkali disamakan dengan perasaan, namun keduanya dapat dibedakan. Emosi
bersifat lebih intens dibanding dengan perasaan, sehingga perubahan jasmaniah
yang ditimbulkan oleh emosi lebih jelas dibandingkan perasaan. Perasaan
menunjukan suasana batin yang lebih tenang dan tertutup ibarat riak air atau
hembusan angin sepoy-sepoy. Emosi sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung
ciri- ciri sebagai berikut: Pengalaman emosional bersifat pribadi, adanya
perubahan aspek jasmaniah, emosi
diekspresikan prilaku dan emosi sebagai motif.
Fungsi Emosi.
Emosi tidak hanya berfungsi untuk survival, atau
sekedar untuk mempertahankan hidup, Akan tetapi emosi juga berfungsi sebagai energizer
atau pembangkit energy yang memberikan kegairahan dalam kehidupan manusia.
Selain itu, emosi juga merupakan messenger atau pembawa pesan.
Jenis dan Pengelompokan Emosi
Secara
garis besar emosi manusia dibedakan dalam dua bagian yaitu, emosi yang
menyenangkan atau emosi positif, dan emosi yang tidak menyenangkan atau emosi
negative. Emosi yang menyenangkan adalah emosi yang menimbulkan perasaan
positif pada orang yang mengalaminya, diantaranya adalah cinta, sayang,
gembira, kagum dan sebagainya. Sedang emosi yang tidak menyenangkan adalah
emosi yang menimbulkan perasaan negatif pada orang yang mengalaminya,
diantaranya adalah sedih, marah,benci, takut dan sebagainya. Manusia mempunyai
empat jenis emosi dasar yang telah dibawa sejak lahir dan akan berkembang
sesuai dengan pengaruh lingkungan yaitu emosi takut, marah, sedih dan
senang. Semakin bertambah usia seseorang
maka akan semakin bertambah jumlah/jenis emosi.
Ekspresi emosi akan ditampakan dalamperilaku. Misalnya: Emosi sedih akan diekspresikan
dalam bentuk menangis. Perkembangan
emosi ditandai dengan perkembangan ekspresi.
Jika ekspresi
emosi berkembang maka akan semakin baik.
Teori-teori Emosi
Walgito mengemukakan tga teori emosi yaitu: Teori
sentral, teori periferal dan teori kepribadian.
1. Teori sentral
,
Menurut teori ini, gajala kejasmanian merupakan akibat
dari emosi yang dialami oleh individu; jadi individu mengalami emosi terlebih
dahulu baru kemudian mengalami perubahan- perubahan dalam kejasmanian. Teori
ini dikemukakan oleh Cannon.
2. Teori Periferal
Menurut teori ini, gejala-gejala kejasmanian bukanlah
merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh individu, tetapi emosi yang
dialami oleh individu merupakan akibat dari gejala-gejala kejasmanian. Teori
ini dikemukakan oleh William James(1842-1910) dari amerika Serikat, yang
bersamaan waktunya juga dikemukan oleh Carl Lange yang barasal dari Denmark.
3. Teori Kepribadian
Menurut teori ini, emosi merupakan suatu aktifitas
pribadi, dimana pribadi tidak dapat dipisahkan dalam jasmani dan psikis sebagai
dua substansi yang terpisah. Karena itu maka emosi meliputi pula
perubahan-perubahan kejasmanian masalnya apa yang dikemukakan oleh J.Linchoten.
Memelihara Emosi yang Konstruktif
Beberapa usaha untuk memelihara emosi-emosi yang
konstruktif adalah:
3.
Bangkitkan rasa humor
4.
Periharalah selalu emosi-emosi yang
positif, jauhkanlah emosi negative.
5.
Berorientasi kepada kenyataan.
6.
Kurangi dan
hilangkan emosi yang negative.
Beberapa cara menekan emosi negatif dalam kegiatan
belajar mengajar adalah guru memberikan perhatian kepada siswa. Jangan menimbulkan perasaan yang tidak
menyenangkan, mengalihkan emosi negatif siswa menjadi emosi positif.
Emosi marah
(emosi negative) sebaiknya dikeluarkan jangan ditahan dengan jalan marah yang
sehat. Beberapa cara marah yang sehat
yaitu: marah pada orang yang tepat, marah pada waktu yang tepat, marah dengan
kadar yang tepat (disesuaikan) dan dengan kesalahan yang tepat.
Pengaruh Emosi pada Belajar
Emosi
berpengaruh besar pada kualitas dan kuantitas belajar. Emosi yang positif dapat
mempercepat proses belajar dan mencapai hasil belajar yang lebih baik,
sebaliknya emosi yang negatif dapat memperlambat belajar atau bahkan
menghentikannya sama sekali. Pembelajaran
yang berhasil haruslah dimulai dengan menciptakan emosi positif pada diri
pembelajar. Jika siswa mengalami emosi positif, mereka dapat menggunakan
neokorteks untuk tugas-tugas belajar. Untuk menciptakan emosi positif pada diri
siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan
menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Lingkungan yang dimaksud
adalah lingkungan fisik dan lingkungan psikologis. Lingkungan fisik mencakup
penataan ruang kelas dan penggunaan alat bantu belajar, sedangkan lingkungan
psikologis mencakup penggunaan music untuk meningkatkan hasil belajar.
Kecerdasan
Emosi
kecerdasan emosi (emotional
intelligence) adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan
orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi
dengan baik, pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Kecerdasan
emosi mencakup kemampuan-kemampuan yang berbeda tetapi saling melengkapi dengan
kecerdasan akademik (academic intelligence), yaitu kemampuan-kemampuan kognitif
murni yang diukur dengan IQ. Meskipun IQ tinggi, tetapi bila kecerdasan emosi
rendah tidak banyak membantu. Banyak orang cerdas dalam arti terpelajar tetapi
tidak mempunyai kecerdasan emosi, ternyata bekerja menjadi bawahan orang yang
IQ nya blebih rendah, tetapi unggul
dalam kecerdasan emosi.
Kecerdasan umum semata-mata hanya dapat memprediksi
kesuksesan hidup sesorang sebanyak 20 % saja, sedangkan 80 % lainnya adalah apa
yang disebut Emotional Intelligence. Bila tidak ditunjang dengan pengolahan
emosi yang sehat, kecerdasan saja tidak akan menghasilkan seorang yang sukses
hidupnya dimasa yang akan datang .
Kecerdasan emosi jelas mempengaruhi kesuksesan hidup tetapi dalam
konteks belajar disekolah kecerdasan intelektual (intelegensi) adalah modal
utama dalam keberhasilan belajar.
Kecerdasan emosi perlu ditumbuhkan semenjak anak masih kecil melalui
naskah emosi yang sehat.
Pertemuan ke 8
BERFIKIR
Menurut Khodijah ( 2006:117 ) mengatakan bahwa berpikir
adalah sebuah representasi simbol dari beberapa peristiwa atau item. Sedangkan
menurut Drever dalam Khodijah (2006:117) berpikir adalah melatih ide-ide dengan
cara yang tepat dan seksama yang dimulai dengan adanya masalah. Jadi berpikir adalah
satu keatipan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada
suatu tujuan. Kita berpikir untuk menemukan pemahaman / pengertian yang kita
kehendaki.
Beberapa pendapat aliran psikologi tentang berfikir,
yaitu :
7.
Psikologi
asosiasi, mengemukakan bahwa berfikir merupakan jalannya atau bekerjanya tenggapan – tanggapan.
8.
Aliran
Behaviorisme, berpendapat berfikir bahwa berfikir adalah gerakan – gerakan
reaksi yang dilakukakan oleh urat syaraf
dan otot – otot bicara seperti halnya bila kita mengucapkan ”buah
pikiran”.
9.
Psikologi
Gestalt, berfikir merupakan keaktifan
psikis yang absrak, yang prosesnya tidak dapat kita amati dengan alat indera
kita.
Jenis
Berpikir
Menurut
Floyd L. Ruch, berpikir ada tiga macam yaitu:
10.
Berpikir deduktif adalah berpikir dari
yang umum menuju yang umum.
11.
Berpikir induktif
adalah berpikir menarik kesimpulan dari berbagai kejadian dengan observasi.
12.
Berpikir Evaluatif
adalah berpikir kritis.
Menurut Khodijah (2006), pikiran sendiri ada dua macam
yaitu pikiran sadar dan bawah sadar. Sedang manusia hanya memanfaatkan 12%
kekuatan pikiranya, sementara 88% ada pada kekuatan bawah sadar, yg semacam
"perasaan". Diantara pikiran sadar dan bawah sadar ada Reticular
Activating System (RAS) atau filter, yang untuk membuka, pintu otak kita
mesti berada pada gelombang Alfa. Pikiran bawah sadar (yang 88% tadi)
menyimpan: Memori, Self-image, Personality & Habits (kebiasaan).
Proses Berpikir
Menurut Suryabrata (2004), proses atau jalannya berpikir
itu pada pokonya ada tiga langkah yaitu
:
13.
Pembentukan
pengertian
pengertian dibentuk melalui tiga tingkatan, sebagai berikut :
1. Menganalisis ciri-ciri dari sejumlah objek
yang sejenis.
2. Membandingkan ciri tersebut untuk diketemukan
ciri-ciri mana yang sama, mana yang tidak sama, mana yang selalu ada dan mana
yang tidak selalu ada.
3. Mengabstrasikan.
b. Pembentukan
pendapat
Membentuk pendapat adalah meletakkan hubungan antara dua
buah pengertian atau lebih. Pendapat dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu
14.
Pendapat afirmatif
atau positif adalah pendapat yang menyatakan keadaan sesuatu.
15.
Pendapat negatif
adalah pendapat yang menidakkan, yang secara tegas menerangkan tentang adanya
sesuatu sifat pada sesuatu hal.
16.
Pendapat modalitas
atau kebarangkalian adalah pendapat yang menerangkan keberangkalian,
kemungkinan sesuatu sifat pada sesuatu hal.
c. Penarikan
kesimpulan atau pembentukan keputusan
Keputusan ialah hasil perbuatan akal untuk membentuk
pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada. Ada tiga macam
keputusan adalah sebagai berikut :
17.
Keputusan induktif
Adalah keputusan yang diambil dari pendapat-pendapat
khusus menuju kesatu pendapat yang umum.
18.
Keputusan deduktif
Keputusan deduktif ditarik dari hal yang umum ke hal yang
khusus, jadi berlawanan dengan keputusan induktif.
19.
Keputusan analogis
Adalah keputusan yang diperoleh dengan jalan
membandingkan atau menyesuaikan dengan pendapat-pendapat khusus yang telah ada.
PEMBAHASAN
I. DEFINISI LUPA DAN HILANG INGATAN
Ingatan memberikan kemampuan manusia untuk dapat
mengingat suatu hal. Hal tersebut juga menunjukan bahwa manusia mampu untuk
menyimpan dan menimbulkan kembali apa yang telah pernah dialaminya. Hal yang
pernah dialaminya tersebut tidak sepenuhnya hilang, tetapi tetap tersimpan
dalam jiwanya dan pada suatu waktu tertentu jika dibutuhkan dapat ditimbulkan
kembali. Tetapi bukan berarti semua yang telah pernah dialaminya itu akan tetap
tersimpan seutuhnya dalam ingatan kita dan dapat ditimbulkan kembali saat
dibutuhkan. Terkadang ada hal-hal yang tidak dapat ditimbulkan kembali atau
yang dilupakan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa lupa merupakan
ketidakmampuan untuk mengingat atau menimbulkan kembali hal-hal tertentu yang
telah pernah dialaminya. Lupa (forgetting) ialah hilangnya kemampuan untuk
menyebut atau mereproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari.
Secara sederhana, Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai
ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau
dialami. Sedangkan hilang ingatan adalah hilangnya kemampuan untuk mengingat
atau menimbulkan kembali yang disebabkan oleh hilangnya item informasi dan
pengetahuan dari akal kita. Dibandingkan dengan hilang ingatan, lupa memiliki
cakupan yang lebih sempit yaitu hanya pada hal-hal tertentu saja. Dalam hal
lupa, item informasi dan pengetahuan yang tersimpan di dalam ingatan tidak
hilang (masih ada) tetapi hanya disebabkan lemahnya item tersebut untuk
ditimbulkan kembali. Sedangkan dalam hal hilang ingatan, item tersebut hilang
dari ingatan kita. Lupa tidak dapat diukur secara langsung (Wittig: 1981).
Sering terjadi, apa yang dinyatakan telah terlupakan oleh seseorang siswa
justru ia katakan. Sebagai contoh, ketika seorang pengajar menanyakan kepada
anak didiknya tetang hal-hal apa yang telah mereka lupakan mengenai materi yang
telah ia berikan. Salah seorang peserta didik menjawabnya dengan mengatakan
sebagian besar materi yang telah diajarkan kepadanya. Apakah peserta didik
tersebut juga masih dikatakan lupa? Tentu, tidak. Materi-materi yang
dikatakannya tersebut merupakan hal-hal yang mereka ingat dan hanya sebagian
kecil yang tidak dikatakannya merupakan yang dilupakan. Sehingga dapat
disimpulkan lupa merupakan kegagalan untuk mereproduksi kembali hal-hal yang
sebelumnya telah terjadi yang disebabkan oleh lemahnya item informasi untuk
ditimbulkan ulang saat informasi tersebut dibutuhkan.
II. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB LUPA
Seseorang dapat mengingat suatu kejadian, berarti
kejadian yang diingat tersebut pernah dialami atau dengan kata lain pernah
dimasukkan dalam kesadaran, kemudian disimpan dan pada suatu ketika kejadian
itu ditimbulkan kembali diatas kesadaran. Dengan demikian ingatan itu merupakan
kemampuan jiwa untuk menerima dan memasukkan (learning), menyimpan (retention)
dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang sudah lampau. Yang secara
skematis dapat dikemukakan sebagai berikut: Sehingga dapat dikatakan ketiga
faktor utama diataslah yang menjadi penyebab lupa. Ketidakmampuan individu
(siawa) untuk mengingat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya:
a. Gangguan konflik antara item-item informasi
Dalam interference theory (teoti mengenai gangguan), gangguan konflik terbagi
menjadi dua yaitu proactive interverence dan retroactive interverence (Reber
1988; Best 1989; Anderson 1990). Gangguan proaktif terjadi jika materi
pelajaran lama yang sudah tersimpan dalam subsistem akal permanen mengganggu
masuknya materi pelajaran baru. Hal ini bisa terjadi apabila seorang siswa
mempelajari materi baru yang hampir mirip dengan materi yang sudah dikuasainya
dalam waktu yang singkat. Hal ini akan membuat materi baru akan sulit diingat
kembali. Sedangkan gangguan retroaktif terjadi apabila masuknya materi baru
membuat konflik dan gangguan terhadap pemanggilan materi lama yang tersimpan di
subsistem akal permanen siswa tersebut. Dalam hal ini materi pelajara lama akan
sulit sekali untuk diingat dan akan terlupakan.
b. Tekanan terhadap item-item yang sudah ada, baik
disengaja atupun tidak Berdasarkan repression theory (teori represi /
penekanan) oleh Reber dan Sigmund Freud, penekanan ini terjadi karena beberapa
kemungkinan seperti:
i. Karena item informasi (berupa pengetahuan,
tanggapan, kesan, dan sebagainya) yang diterima siswa kurang menyenangkan,
sehingga ia dengan sengaja menekannya hingga kealam ketidaksadarannya.
ii. Karena item informasi yang baru secara
otomatis menekan item informasi yang sudah ada.
iii.Karena item informasi yang akan direproduksi
itu tertekan kealam bawah sadar dengan sendirinya lantaran tidak pernah
dipergunakan.
c. Perubahan situasi lingkungan antara waktu
belajar dengan waktu mengingat kembali
Perubahan situasi lingkungan yang dimaksud adalah
perubahan keadaaan obyek belajar saat dipelajari dengan lama waktu belajar
terhadap keadaan realnya. Sebagai contoh, ketika seorang guru mengajarkan
tentang pengenalan nama-nama hewan melalui gambar yang ada disekolah, maka
kemungkinan, ia akan lupa menyebutkan nama hewan tadi saat ia melihatnya
dikebun binatang.
d. Perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses
dan situasi belajar tertentu
Minat dan sikap siswa dalam mengikuti proses
belajar akan sangat mempengaruhi besarnya pemahaman siswa terhadap materi yang
disampaikan. Ketika sikap dan minat siswa sudah tidak ada, misal karena tidak
senang terhadap guru, maka materi yang diajarkan akan mudah dilupakan.
e. Tidak pernah digunakannya materi pelajaran yang
sudah dikuasai
Menurut law of disuse oleh Hilgard dan Bower
(1975), lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak
pernah digunakan atau dihafalkan siswa. Para ahli mengasumsikan, materi yang
diperlakukan demikian dengan sendirinya akan masuk ke alam bawah sadar atau
mungkin juga bercampur aduk dengan materi pelajaran baru.
f. Perubahan urat syaraf otak
Perubahan urat syaraf otak tersebut dapat disebabakan
oleh penyakit tertentu seperti keracunan, kecanduan alkohol, dan gegar otak
sehingga kita mengalami kehilangan ingatan yang ada dalam memori permanennya.
Meskipun faktor penyebab lupa banyak sekali seperti kekurangan asupan makanan,
terlalu fokusnya perhatian dan pemikiran seperti memforsirkan diri, dan
kurangnya olahraga, tetapi yang paling penting untuk diperhatikan adalah faktor
pertama yang meliputi gangguan proaktif dan retroaktif. Kecuali hal tesebut,
lupa dapat dikarenakan item informasi yang mereka serap rusak sebelum masuk ke
memori permanennya. Item yang rusak (decay) itu tidak hilang dan tetap
terproses oleh memori siswa, tetapi terlalu lemah untuk dipanggil kembali.
Kerusakan item informasi tersebut disebabkan karena tenggang waktu antara saat
diserapnya item informasi dengan saat proses pengkodean dan transformasi dalam
memori jangka pendek. Kemampuan cepat atau tidaknya setiap siswa dalam
memasukkan apa yang dipelajarinya berbeda-beda. Semakin cepat ia memasukkan
materi yang dipelajarinya, makin besar kemungkinan ia akan mengingatnya. Materi
yang lemah itu dapat diperkuat lagi dengan melakukan relearning (belajar lagi)
atau mengikuti remidial teaching (pengajaran perbaikan) ternyata dapat
menunjukan kinerja akademik yang lebih memuaskan dari pada kinerja akademik
sebelumnya. Hal ini bermakna bahwa relearning dan remidial teaching berfungsi
memperbaiki atau menguatkan item-item informasi yang rusak dalam memori siswa.
III. KIAT-KIAT MENGURANGI LUPA
Sebagai seorang pengajar yang profesional, seorang
guru harus dapat mencegah peristiwa lupa yang sering dialami oleh siswa. Pada
dasarnya lupa dapat ditangani dengan berbagai cara. Apabila materi yang
disajikan kepada siswa dapat diserap, diproses, dan disimpan dengan baik oleh
sistem memori siswa, maka peristiwa lupa tidak terjadi, atau terjadi namun
tidak total. Jadi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kiat pengjar membuat
sistem memori atau akal siswa agar berfungsi secara optimal untuk memproses
materi yang akan disampaikan. Kiat terbaik yang dapat dilakukan untuk
mengurangi lupa adalah dengan meningkatkan daya ingat akal siswa. Menurut
Barlow, Reber, dan Anderson, kiat-kiat tersebut adalah sebagai berikut.
1. Overlearning Overlearning, artinya upaya
belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu.
Overlearning dapat terjadi apabila respon atau reaksi tertentu muncul setelah
siswa melakukan pembelajaran atas respon tersebut dengan cara diluar kebiasaan.
Sebagai contoh pembacaan Pancasila setiap hari Senin pada Upacara Bendera
memungkinkan siswa memiliki pemahanan lebih mengenai materi Pendidikan
Pancasila.
2. Extra Study Time Extra Study Time adalah upaya
penambahan alokasi waktu belajar atau penambahan frekuensi ( kekerapan ) waktu
aktivitas belajar. Penambahan alokasi waktu belajar materi tertentu, berarti
siswa menambah jam belajarnya. Misalnya, dengan menambah 30 menit waktu belajar
siswa. Sedangkan penambahan frekuensi belajar berarti meningkatkan kekerapan
belajar materi tertentu, misalnya dari sekali sehari menjadi dua kali sehari.
3. Mnemonic Device Muslihat memori atau mnemonic
device yang lebih sering disebut mnemonic saja berarti kiat-kiat khusus yang
biasa dijadikan “alat pengait” mental untuk memasukkan item-item informasi
kedalam memori siswa. Ragam mnemonic ini banyak ragamnya tetapi yang paling
menonjol adalah sebagai berikut.
a. Rima ( Rhyme ), yaitu sajak yang dibuat
sedemikian rupa yang isinya terdiri atas kata dan istilah yang harus diingat
siswa. Sajak ini akan lebih baik pengaruhnya apabila diberi not-not sehingga
dapat dinyanyikan. Contohnya seperti nyanyian anak-anak TK yang berisi
pesan-pesan moral.
b. Singkatan, yakni terdiri dari huruf-huruf awal
nama atau istilah yang harus diingat siswa. Contoh jika seorang siswa hendak
mengingat nama Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, mereka dapat
menyingkatnya menjadi ANIM. Pembuatan singkatan seyogyanya dilakukan sedemikian
rupa sehingga dapat menarik dan memberi kesan tersendiri.
c. Sistem kata pasak ( peg word system), yakni
sejenis teknik mnemonik yang menggunakan komponen-komponen yang sebelumnya
telah dikuasai sebagai pasak (paku) pengait memeori baru. Kata komponen pasak
ini dibentuk berpasangan seperti merah-saga, panas-api. Kata-kata ini berguna
untuk mengingat kata dan istilah yang memiliki watak yang sama seperti darah,
lipstik, pasangan langit dan bumi; neraka dan kata atau istilah lain yang
memiliki kesamaan watak (warna, rasa, dan seterusnya).
d. Model Losai ( Method of Loci ), yaitu kiat
mnemonik yang menggunakan tempat-tempat khusus dan terkenal sebagai sarana
penempatan kata dan istilah tertentu yang harus diingat siswa. Kata “Loci”
sendiri adalah jamak dari kata “lokus” yang artinya tempat. Dalam hal ini
nama-nama kota, jalan, dan gedung yang terkenal dapat dipakai untuk menempatkan
kata dan istilah yang kurang lebih relevan, dalam arti memiliki kemiripan ciri
dan keadaan. Contoh: nama ibukota Amerika Serikat untuk mengingat nama presiden
pertama negara itu (George Washington).
e. Sistem Kata Kunci ( Key Word System ), kiat yang
satu ini masih tergolong baru dibandingkan kiat-kiat yang lainnya. Kiat ini
dikembangkan oleh Raugh dan Atkinsen. Sistem ini biasanya direkayasa secara
khusus untuk mempelajari kata dan istilah asing, Inggris misalnya. Sistem ini
berbentuk daftar kata yang terdiri atas unsur-unsur sebagai berikut: i)
kata-kata asing, ii) kata-kata kunci, yakni kata-kata bahasa lokal yang paling
kurang suku pertamanya memiliki suara atau lafal yang mirip dengan kata yang
dipelajari, iii) arti kata asing yang dipelajari. Contoh: Kata Inggris Kata
Kunci Arti Astute Butterfly Challenge Domination Eyesight Fussy Astuti Baterai
Celeng Domino Aisyah Fauzy Cerdik, lihai Kupu-kupu Tantangan Penguasaan
Penglihatan Cerewet
4. Pengelompokan Maksud kiat pengelompokan
(Clustering) adalah menata ulang item-item materi menjadi kelompok-kelompok
kecil yang dianggap lebih logis dalam arti bahwa item-item tersebut memiliki
signifikasi dan lafal yang sama atau sangat mirip. Penataan atau pengelompokan
ini direkayasa sedemikian rupa dalam bentuk daftar-daftar item seperti: a.
Daftar I, terdiri atas nama-nama negara serumpun, seperti: Indonesia, Malaysia,
Brunai dan seterusnya; b. Daftar II, terdiri atas singkatan-singkatan lembaga
negara, seperti MPR, DPR, dan seterusnya: c. Daftar III, terdiri dari
singkatan-singkatan nama-nama badan internasional, seperti: WHO, ILO, dan
sebagainya
5. Latihan Terbagi Latihan terbagi atau
distributed practice adalah latihan terkumpul (massed pratice), yang sudah
dianggap tidak efektif lagi karena mendorong siswa membuat cramming, yakni
belajar banyak materi dengan tergesa-gesa dalam waktu yang singkat. Dalam
melaksanakan distributed practice, siswa dapat menggunakan berbagai metode dan
strategi belajar yang efisien.
6. Pengaruh Letak Bersambung Untuk memperoleh efek
positif dari pengaruh letak bersambung (the serial position effect), siswa
dianjurkan menyusun daftar kata-kata (nama, istilah, dan sebagainya) yang
diawali dan diakhiri dengan kata-kata yang harus diingat. Kata-kata yang harus
diingat oleh siswa tersebut sebaiknya ditulis dengan menggunakan huruf dan
warna yang mencolok agar tampak sangat berbeda dari kata-kata lainnya yang
tidak perlu diingat. Dengan demikian kata yang ditulis pada awal dan akhir
daftar tersebut memberi kesan tersendiri dan diharapkan melekat erat dalam
subsistem akal permanen siswa.
Selain ke enam kiat-kiat diatas, Seorang guru
dapat mengurangi lupa dengan berbagai cara lain seperti berikut ini.
Pertama, mencoba menimbulkan atau meningkatkan
memotivasi belajar siswa dengan menyadarkan mereka akan tujuan instruksional
yang harus mereka capai. Hal ini dapat dilakukan, misalnya dengan menjelaskan
manfaat materi pelajaran dalam kehidupan sehari-hari, dan masa depan mereka
Kedua, mencoba selalu menjelaskan unsur-unsur
pokok sebelum menunjukkan unsur-unsur penunjang yang relevan dalam materi
pelajaran yang disajikan. Dalam hal ini seorang guru direkomendasikan untuk
mendemonstrasikan dengan alat-alat peraga yang tersedia atau memberi
tanda-tanda khusus pada kata atau istilah pokok.
Ketiga, mencoba untuk selalu menghubungkan materi
yang akan diajarkan dengan materi yang telah diajarkan pada sesi yang lalu.
Keempat, ketika seorang guru bertanya kepada anak didiknya mengenai materi yang
telah diajarkan, dengan memperhatikan:
a. Seyogyanya pertanyaan itu disampaikan dengan
cara yang akrab dan tidak menegangkan, tetapi wibawa tetap dijaga.
b. Pertanyaan harus jelas dan tidak mengandung
banyak tafsiran
c. Pertanyaan hendaknya mengandung suatu masalah
agar siswa dapat memusatkan proses sistem akalnya untuk mencari respon
d. Pertanyaan tidak hanya untuk mendorong siswa
menjawab “ya” atau “tidak” sebab hal ini akan menghambat kreativitasnya.
e. Jika siswa tidak mampu menjawab, Pendidik tidak
perlu mendesaknya.
f. Segera tawarkan pertanyaan yang tidak terjawab
tersebut ke teman lain agar teman yang tidak bisa menjawab dapat menggambil
pelajaran dari teman lainnya.
g. Berilah pujian terhadap anak didik ketika ia
bisa menjawab pertanyaan tersebut.
IV. TRANFER BELAJAR
PENGERTIAN TRANFER BELAJAR
Menurut L.D. Crow dan A. Crow, transfer belajar
adalah pemindahan-pemindahan kebiasaan berfikir, perasaan atau pekerjaan, ilmu
pengetahuan atau keterampilan, dari suatu keadaan ke keadaan belajar yang lain.
Pengetahuan dan keterampilan siswa sebagai hasi belajar pada masa lalu
seringkali mempengaruhi proses belajar yang sedang dialaminya sekarang. Tranfer
dalam belajar yang biasa disebut dengan tranfer belajar (tranfer of learning)
itu mengandung arti pemindahan keterampilan hasil belajar dari suatu situasi ke
situasi berikutnya (Reber: 1988). Kata “pemindahan keterampilan” tidak
berkonotasi hilangnya keterampilan melakukan sesuatu pada masa lalu karena
digantikan dengan keterampilan baru pada masa sekarang. Oleh sebab itu,
definisi diatas harus dipahami sebagai pemindahan pengaruh atau pengaruh
keterampilan melakukan sesuatu terhadap tercapainya keterampilan melakukan
sesuatu lainnya. Setiap pemindahan pengaruh (tranfers) seperti yang disebut
diatas pada umumnya selalu membawa dampak baik itu positif ataupun negatif terhadap
aktifitas dan hasil pembelajaran materi pelajaran lain atau keterampilan lain.
V. TEORO-TEORI TRASFER BELAJAR
Secara umum para ahli berpendapat bahwa trasfer
dalam belajar itu bisa terjadi, akan tetapi, apa yang sebenarnya hakekat
trasfer itu dan bagaimana dalam belajar, Para ahli berbeda pendirian. Yang
secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga teori yaitu:
a. Teori Disiplin Formal/Ilmu Jiwa Daya
Bertitik tolak dari anggapan bahwa jiwa manusia
terdiri dari berbagai daya seperti daya ingat dan daya pikir, maka mereka
beranggapan bahwa transfer belajar hanya dapat terjadi bila “diperkuat” dan
“didisiplinkan” dengan latihan-latihan yang keras dan terus menerus. Setelah
daya-daya tersebut terlatih maka akan mudah terjadi transfer secara otomatis ke
bidang-bidang lain.
b. Teori Elemen Identik/Ilmu Jiwa Asosiasi
William James dan Edward Thorndike tidak
sependapat dengan pandangan para ahli jiwa daya, kedua tokoh ini lalu
mengkritik antara lain sebagai berikut:
i) Daya ingat tidak dapat diperkuat melalui
latihan.
ii) Pelajaran bahasa Latin misalnya, tidak dapat
menaikan IQ.
iii) Ilmu-ilmu dalam bidang tertentu (bila
ditunjuk dengan istilah Ilmu Jiwa Daya mereka telah terlatih) ternyata lemah
dan tidak mampu mengamati dan menganalisis dalam bidang-bidang lain, ini
berarti tranfer secara oomatis tidak terjadi. Kemudian kelompok asosiasi ini
berpendapat bahwa transfer hanya akan terjadi bila dalam situasi yang baru
terdapat unsur-unsur yang sama (identical elements) dengan situasi terdahulu
yang telah dipelajari. Misalnya, individu yang telah lihai naik sepeda motor
honda, ia tidak akan mengalami kesulitan bila mengendarai motor merk suzuki,
karena sepeda motor ini mempunyai banyak unsur yang sama, maka bila sekolah
menghendaki terjadinya transfer, bahan-bahan pelajaran harus dan mempunyai
unsur-unsur kesamaan dengan kehidupan masyarakat.
c. Teori Generalisasi
Peletak pandangan ini adalah Charles Judd, ia
beranggapan bahwa transfer bisa terjadi bila situasi baru dan situasi lama
telah dipelajari mempunyai kesamaan prinsip, pola atau struktur, tidak kesamaan
unsur-unsur. Seseorang memahami prinsip demokrasi akan mampu mengamalkan dalam
situasi yang berbeda, demikian pula prinsip ekonomi, hukum, pendidikan dan
lain-lain. Ketiga teori diatas, sampai sekarang masih menunjukkan kebenaran,
kemampuan berfikir logis sistematis, ternyata cukup membantu dibidang-bidang
lain (Ilmu Jiwa Daya). Unsur-unsur yang sama atau pola-pola yang mirip bila
dipahami betul orangpun tertolong dalam menghadapi situasi yang sama sekali baru
(elemen identik dan generasi).
VI. RAGAM-RAGAM TRANSFER BELAJAR
Pada perkembangan awal, transfer belajar terbagi
menjadi dua yaitu transfer positif dan transfer negatif. Dikatakan transfer
positif, apabila membawa efek positif terhadap kegiatan belajar selanjutnya,
sedangkan dikatakn transfer negatif, jika membawa efek negatif terhadap
kegiatan belajar selanjutnya. Menurut Theory of Identical Element yang
dikembangkan oleh E. L. Thorndike, transfer positif akan terjadi apabila
terjadi kesamaan elemen antara materi yang lama dengan materi yang baru. Contoh
seorang siswa yang telah menguasai matematika akan mudah mempelajari
statistika, seseorang yang telah mampu untuk naik sepeda maka ia akan mudah
untuk belajar naik sepeda bermotor. Sedangkan trasfer negatif terjadi ketika
keterampilan yang telah dikuasai menjadi penghambat belajar keterampilan
lainnya. Contoh seorang yang terbiasa untuk mengetik dengan satu jari, akan
mengalami kesulitan ketika harus belajar mengetik dengan sepuluh jari. Pada
perkembangan selanjutnya, Gagne, seorang education psychologist membedakan
transfer belajar menjadi empat kategori yaitu
1. Transfer positif
Transfer positif yaitu transfer yang berefek baik
terhadap kegiatan belajar selanjutnya. Tranfer ini dapat terjadi jika seorang
guru membantu untuk belajar dalam situasi tertentu yang mempermudah siswa
belajar dalam situasi lainnya. Dalam konteks ini, Barlow mendefinisikan
transfer positif adalah belajar dalam suatu situasi yang dapat membantu belajar
dalam situasi-situasi lain.
2. Transfer negatif
Transfer negatif yaitu transfer yang berefek buruk
terhadap kegiatan belajar selanjutnya. Tranfer ini dapat terjadi jika seorang
siswa belajar dalam situasi tertentu yang memiliki pengaruh merusak terhadap
keterampilan yang dipelajari dalam situasi berikutnya.
3. Transfer vertikal, yaitu transfer yang berefek
baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan/keterampilan yang lebih tinggi.
Tranfer ini dapat terjadi apabila seorang siswa belajar dalam situasi yang
tertentu yang dapat meyebabkan siswa tadi mampu untuk menguasai
pengetahuan/keterampilan yang lebih rumit. Contohnya, ketika seorang anak SD
belajar mengenai penjumlahan dan pengurangan maka ia akan lebih mudah belajar
perkalian di kelas berikutnya.
4. Transfer lateral, yaitu transfer yang berefek
baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan/keterampilan yang sederajat. Tansfer
ini akan terjadi ketika seorang siswa telah mampu menggunakan materi yang
dipelajarinya untuk mempelajari materi yang sama kerumitannya dalam
situasi-situasi yang lain. Contohnya, seorang siawa STM yang telah menguasai
teknologi “X” dari sekolahnya akan mudah menggunakan teknologi itu di tempat
kerjanya.
VII. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TRANSFER BELAJAR
1. Intelegensi
Individu yang lancar dan pandai biasanya segera
mampu menganalisa dan dapat melihat hubungan logis, ia segera melihat
unsur-unsur yang sama serta pola dasar atau kaidah hukum, sehingga sangat mudah
terjadi transfer.
2. Sikap
Meskipun orang mengerti dan memahami sesuatu serta
hubungannya dengan yang lain, tetapi pendirian/kecenderungannya menolak/sikap
negatif, maka transfer tidak akan terjadi, dan demikian sebaliknya.
3. Materi Pelajaran
Biasanya mata pelajaran yang mempunyai daerah
berdekatan akan mudah terjadi transfer. Contohnya: Matematika dengan Statistika,
Ilmu Jiwa Daya dengan Sosiologi akan lebih mudah terjadi transfer.
4. Sistem Penyampaian Guru
Pendidik yang senantiasa menunjukkan hubungan
antara suatu pelajaran yang sedang dipelajari dengan mata pelajaran yang lain
atau dengan menunjuk kehidupan nyata yang dialami anak, biasanya akan mudah
terjadi transfer.
GANGGUAN BELAJAR
DEFINISI
Gangguan belajar meliputi kemampuan untuk memperoleh, menyimpan, atau
menggunakan keahlian khusus atau informasi secara luas, dihasilkan dari
kekurangan perhatian, ingatan, atau pertimbangan dan mempengaruhi performa
akademi.Gangguan belajar sangat berbeda dari keterlambatan mental dan terjadi
dengan normal atau bahkan fungsi intelektual tinggi. Gangguan belajar hanya
mempengaruhi fungsi tertentu, sedangkan pada anak dengan keterlambatan mental,
kesulitan mempengaruhi fungsi kognitif secara luas. Terdapat tiga jenis
gangguan belajar : gangguan membaca, gangguan menuliskan ekspresi, dan gangguan
matematik. Dengan demikian, seorang anak dengan gangguan belajar bisa mengalami
kesulitan memahami dan mempelajari matematika yang signifikan, tetapi tidak
memiliki kesulitan untuk membaca, menulis, dan melakukan dengan baik pada
subjek yang lain. Diseleksia adalah gangguan belajar yang paling dikenal.
Gangguan belajar tidak termasuk masalah belajar yang disebabkan terutama
masalah penglihatan, pendengaran, koordinasi, atau gangguan emosional.
PENYEBAB
Meskipun penyebab gangguan belajar tidak sepenuhnya dimengerti. Mereka
termasuk kelainan pada proses dasar yang berhubungan dalam memahami atau
menggunakan ucapan atau penulisan bahasa atau numerik dan pertimbangan ruang.
Diperkirakan 3 sampai 15% anak bersekolah di Amerika Serikat memerlukan
pelayanan pendidikan khusus untuk menggantikan gangguan belajar. Anak laki-laki
dengan gangguan belajar bisa melebihi anak gadis lima banding satu, meskipun
anak perempuan seringkali tidak dikenali atau terdiagnosa mengalami gangguan
belajar. Kebanyakan anak dengan masalah tingkah laku tampak kurang baik di
sekolah dan diperiksa dengan psikologis pendidikan untuk gangguan belajar.
Meskipun begitu, beberapa anak dengan jenis gangguan belajar tertentu
menyembunyikan gangguan mereka dengan baik, menghindari diagnosa, dan oleh
karena itu pengobatan, perlu waktu yang lama.
GEJALA
Anak kecil kemungkinan lambat untuk mempelajari nama-nama warna atau
huruf, untuk menyebutkan kata-kata untuk objek yang dikenal, untuk menghitung,
dan untuk kemajuan pada awal keahlian belajar lain. Belajar untuk membaca dan
menulis kemungkinan tertunda. Gejala-gejala lain dapat berupa perhatian dengan
jangka waktu yang pendek dan kemampuan yang kacau, berhenti bicara, dan ingatan
dengan jangka waktu yang pendek. Anak tersebut bisa mengalami kesulitan dengan
aktifitas yang membutuhkan koordinasi motor yang baik, seperti mencetak dan
mengkopi. Anak dengan gangguan belajar bisa mengalami kesulitan komunikasi.
Beberapa anak mulanya menjadi frustasi dan kemudian mengalami masalah tingkah
laku, seperti menjadi mudah kacau, hiperaktif, menarik diri, malu, atau
agresif.
DIAGNOSA
Anak yang tidak membaca atau belajar pada tingkatan yang diharapkan
untuk kemampuan verbal atau kecerdasan harus dievaluasi. Pemeriksaan
pendengaran dan penglihatan harus dijalankan, karena masalah pikiran sehat ini
bisa juga berhubungan dengan keahlian membaca dan menulis. Dokter meneliti anak
tersebut untuk berbagai gangguan fisik. Anak tersebut melakukan rangkaian tes
kecerdasan, baik verbal maupun non verbal, dan tes akademik pada membaca,
menulis, dan keahlian aritmatik.
PENGOBATAN
Pengobatan yang paling berguna untuk gangguan belajar adalah pendidikan
yang secara hati-hati disesuaikan dengan individu anak. Cara seperti membatasi
makanan aditif, menggunakan vitamin dalam jumlah besar, dan menganalisa sistem
anak untuk trace mineral seringkali dicoba tetapi tidak terbukti. Tidak ada
obat-obatan yang cukup efektif pada pencapaian akademis, intelegensi, dan
kemampuan pembelajaran umum. Karena beberapa anak dengan gangguan belajar juga
mengalami ADHD, obat-obatan tertentu, seperti methylphenidate, bisa meningkatkan
perhatian dan konsentrasi, meningkatkan kemampuan anak untuk belajar.
Gangguan belajar adalah defisiensi pada kemampuan belajar
sepesifik dalam konteks
Tipe-tipe
Gangguan Belajar
- Gangguan Matematika
Gangguan Metematika menggambarkan anak-anak dengan kekurangan kemampuan
aritmatika.
- Gangguan Menulis
Gangguan Menulis mengacu pada anak-anak dengan keterbatasan kemampaun menulis
- Gangguan Membaca ( disleksia )
Gangguan Membaca –disleksia- mengacu pada anak-anak yang memiliki perkembangan
ketrampilan yang buruk dalam mengenali kata-kata dan memahami bacaan.
Perspektif Teoritis
Penyebab gangguan belajar cenderung terfokus pada
masalah-masalah kognitif-perseptual dan kemungkinan faktor-faktor neorologis
yang mendasarinya. Banyak anak dengan gangguan belajar memiliki masalah dengan
persepsi visual dan auditori.
Intervensi
gangguan belajar
Intervensi-intervensi untuk gangguan belajar umumnya menggunakan perspektif
berikut (Lyon & Moats,1988)
1. Model Psikoedukasi
Menekankan pada kekuatan-kekuatan dan preferensi-preferensi anak daripada usaha
untuk mengoreksi definisi yuang diduga mendasarinya.
2. Model Behavioral
Mengasumsikan bahwa belajar akademik dibangun diatas hierarki
ketrampilan-ketrampilan dasar, atau “perilaku yang memampukan (enabling
behaviours).”
3. Model Medis
Mengasumsikan bahwa gangguan belajar merupakan simtom-simtom dari defisiensi
dalam pengolahan kognitif yang memiliki dasar biologis.
4. Model neuropsikologi
Berasal dari model psikoedukasi dan medis, diasumsikan bahwa gangguan belajar merefleksikan
deficit dalam pengolahan informasi yang memiliki dasar biologis (model medis).
5. Model lingguistik
Berfokus pada defisiensi dasar dalam bahasa anak, seperti kegagalan untuk
mengenali bagaimana suara-suara dan kata-kata saling dikaitkan untuk
menciptakan arti, yang akan menimbulkan masalah dalam membaca, mengeja, dan
menemukan kata-kata untuk mengekspresikan diri mereka.
6. Model kognitif
Berfokus pada bagaimana anak-anak mengatur pemikiran-pemikiran mereka ketika
mereka balajar materi-materi akademik.
Jenis jenis Gangguan Belajar/Learning Disorders
(LD):
Gangguan membaca (Disleksia)
Gangguan matematik (Diskalkulia)
Gangguan menulis ekspresif (Spelling Dyslexia, Spelling Disorder)
Gangguan belajar lainnya / tidak spesifik
1. Gangguan Membaca (Disleksia):
Adalah ketrampilan membaca yang berada di bawah tingkatan usia,
pendidikan dan inteligensi anak.Ciri khasnya: gagal dalam mengenali kata-kata,
lambat & tidak teliti bila membaca, pemahaman yang buruk.∑ 4% dari
anak usia sekolah di AS∑ anak laki-laki 3-4 kali > anak
perempuanGangguan. emosi & perilaku yang sering menyertai: - ADHD, Conduct
disorder, & depresi (remaja)
2. Gangguan Matematik (diskalkulia)
Adalah ketrampilan matematik yang berada di bawah tingkatan usia,
pendidikan dan inteligensi anakCiri khasnya adalah kegagalan dalam ketrampilan
:
- linguistik (memahami istilah matematika, mengubah soal tulisan ke
simbol matematika),
- perseptual (kemampuan untuk memahami simbol dan mengurutkan kelompok
angka)
- matematik (+/-/x/: dan cara mengoperasikannya)
- atensional (mengkopi bentuk dengan benar, mengoperasikan simbol
dengan benar)
- Prevalensi ± 5% anak usia sekolah
- Anak perempuan > anak laki-laki
- Biasanya disertai gangguan belajar yang lain
- Kebanyakan terdeteksi ketika berada di kelas 2 dan 3 SD (6-8 th)
3. Gangguan Menulis Ekspresif (Spelling Dyslexia, Spelling Disorder)
Adalah ketrampilan menulis yang berada di bawah tingkatan usia, pendidikan
dan inteligensi anakBanyak, ditemukan kesalahan dalam menulis dan penarnpilan
tulisan yang buruk (cakar ayam). Biasanya sudah tampak sejak kelas 1 5DRasa
frustrasi, marah oleh karena kegagalan dalam prestasi akademik menyebabkan
munculnya gangguan depresi yang kronis. Bagaimana
Deteksi Dini Gangguan Belajar pada Anak
Gangguan belajar pada anak penting untuk dideteksi sejak dini. Hal ini
karena gangguan belajar dapat mempengaruhi perasaan dan perilaku anak. Perilaku
anak dengan gangguan belajar dapat diamati saat di kelas. Anak biasanya tidak
dapat duduk tenang di tempatnya, lambat menyelesaikan tugas atau bahkan tidak
mau mengerjakan tugas yang diberikan. Hal ini sebetulnya merupakan bentuk
penghindaran dari mengerjakan tugas yang dirasanya sulit.
Perkembangan anak sejak kecil juga bisa merupakan pertanda kemungkinan
terjadinya gangguan belajar pada usia sekolah dasar. Anak dengan keterlambatan
bicara (belum bisa mengucapkan kalimat sederhana di usia 2 tahun), bisa
merupakan faktor prediksi terjadinya gangguan belajar. Gangguan koordinasi
motorik, terutama pada usia menjelang taman kanak-kanak, juga bisa menjadi
faktor prediksi terjadinya gangguan belajar.
Jika orang tua atau guru melihat tanda-tanda adanya gangguan belajar
pada anak, perlu segera dikonsultasikan kepada dokter. Pertama kali dilakukan
pemeriksaan ada atau tidaknya gangguan pada penglihatan dan pendengaran. Karena
seringkali gangguan pada penglihatan dan pendengaran juga dapat mengganggu
kemampuan belajar anak. Pemeriksaan psikologis seperti tingkat kecerdasan (tes
IQ), juga perlu dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya tingkat
kecerdasan yang kurang, seperti pada retardasi mental. Selain itu, diperiksa
juga kemungkinan adanya gangguan jiwa lain seperti autisme, gangguan pemusatan
perhatian dan perilaku, atau gangguan kecemasan.
Cara Membantu Anak Mengatasi Gangguan Belajar,
Tips Bagi Orang TuaAnak yang
mengalami gangguan belajar sering kali akan menunjukkan gangguan perilaku. Hal
ini bisa berdampak pada hubungan pasien dengan orang-orang di sekitarnya
(keluarga, guru dan teman-teman sebaya). Untuk itu anak perlu didampingi untuk
menghadapi situasi ini.Orang tua merupakan guru yang pertama dan terdekat
dengan anak. Dengan demikian, peran orang tua sangat penting untuk mengenali permasalahan
apa yang dialami anak. Selain itu, penting juga untuk menemukan kekuatan atau
kemampuan yang dimiliki anak. Hal ini akan membantu orang tua mendukung anak
mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga dapat meningkatkan
kepercayaan diri anak. Tugas anak adalah bermain, maka proses belajar pun
sebaiknya menjadi proses yang menyenangkan untuk anak. Apalagi pada anak dengan
gangguan belajar, penting untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan
dan tidak membebani anak. Kenali hal apa yang membuat anak merasa senang.
Misalnya, jika anak tersebut menyukai lagu tertentu, ajak anak itu belajar
sambil memutarkan lagu tersebut. Ijinkan anak membawa mainan kesayangannya saat
belajar. Jika anak senang dengan suatu obyek tertentu, misalnya kereta api,
sertakan bentuk kereta api dalam pelajaran. Sebagai contoh, anak dengan
gangguan berhitung, saat belajar berhitung dapat digunakan gambar kereta api
yang dia senangi.
Anak dengan gangguan belajar juga bisa mengalami perasaan rendah diri
karena ketidakmampuannya atau karena sering diejek oleh teman-temannya. Untuk
itu, penting bagi orang tua memberikan pujian jika ia berhasil melakukan suatu
pencapaian. Misalnya, bila suatu kali anak berhasil mendapat nilai yang cukup
baik atau mengerjakan tugas dengan benar, maka orang tua hendaknya memberi
pujian pada anak. Hal ini akan memotivasi anak untuk berbuat lebih baik,
meningkatkan rasa percaya diri dan membantu anak merasa nyaman dengan dirinya.
Keterlibatan pihak sekolah juga perlu diperhatikan karena sebagian
besar waktu belajar anak ada di sekolah. Diskusikan dengan guru kelas mengenai
kesulitan dan kemampuan anak dalam belajar. Posisi tempat duduk anak di kelas
juga bisa membantu anak untuk lebih berkonsentrasi dalam belajar. Akan lebih
baik jika anak duduk di depan kelas sehingga perhatiannya tidak teralih ke
anak-anak lain atau ke jendela kelas. Masalah gangguan belajar penting sekali
dipahami oleh orang tua dan guru sehingga dapat mendukung dan membantu anak
dalam belajar. Jika ditangani dengan tidak benar maka hanya akan menambah
permasalahan pada anak. Deteksi dan konsultasi dini pada anak yang diduga
mengalami gangguan belajar menjadi faktor penting sehingga anak dapat segera
ditangani dengan tepat. Kerja sama antara orang tua, guru dan profesional kesehatan
jiwa (psikiater dan psikolog) diperlukan untuk membantu anak menghadapi
permasalahan gangguan belajar tersebut.
BERBAGAI JENIS GANGGUAN FISIK DAN PSIKIATRIK YANG
BERHUBUNGAN DENGAN TIMBULNYA KESULITAN BELAJAR PADA ANAK
I. GANGGUAN FISIK
Gangguan dalam sistim saraf pusat/otak anak atau organ pendengaran atau
organ penglihatan, misalnya oleh karena adanya infeksi baik langsung maupun
tidak langsung pada otak, trauma pada otak, penyakit bawaan, gangguan konduksi
listrik ( epilepsi ), gangguan metabolic sistemik, dll. Semua ini dapat yang
menyebabkan timbulnya disfungsi otak minimal, yang mungkin bermanifestasi dalam
berbagai bentuk gangguan psikiatrik, di antaranya ialah kesulitan belajar.
II. GANGGUAN PSIKIATRIK
v Retardasi
Mental Kondisi ini ditandai oleh tingkat kecerdasan anak yang berada di bawah
rata-rata. Anak akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan kegiatan
sehari-hari sebagaimana anak seusianya, seperti mengurus dirinya sendiri,
melakukan pekerjaan rumah atau berinteraksi dengan lingkungannya. o Gangguan
Pemusatan Perhatian & Hiperaktivitas. Ciri utama dari gangguan ini adalah
kesulitan anak untuk memusatkan perhatian-nya yang timbul pada lebih dari satu
situasi, misalnya di rumah, di sekolah dan di dalam kendaraan, dll, dapat
disertai atau tidak disertai dengan hiperaktivitas. Gangguan ini disebabkan
oleh adanya kelainan fungsi inhibisi perilaku dan kontrol diri. Anak tidak
mampu untuk berkonsentrasi pada satu pekerjaan tertentu, dan merencanakan
tujuan dari pekerjaan tersebut. Ia tidak mampu menyusun langkah-langkah dalam
usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian ia akan mengalami
kesulitan dalam menyimak pelajaran yang diberikan gurunya, dan akhirnya ia
tidak mengerti apa yang diterangkan oleh gurunya itu. Gangguan Tingkah Laku Pada
anak yang mengalami gangguan ini seringkali dikatakan sebagai anak nakal, sulit
diatur, suka melawan, sering membolos dan berperilaku antisosial, dll. Anak
dengan Gangguan Tingkah Laku ini seringkali mempunyai prestasi akademik di
bawah taraf yang diperkirakan. Kesulitan belajar yang terjadi dikarenakan anak
sering membolos, malas, motivasi belajar yang kurang, kurang disiplin, dll.
v Gangguan
Depresi Seorang anak yang mengalami Gangguan Depresi akan menunjukkan gejala-
gejala seperti :
· Perasaan
sedih yang berkepanjangan
· Suka
menyendiri
· Sering
melamun di dalam kelas/di rumah
· Kurang
nafsu makan atau makan berlebihan
· Sulit
tidur atau tidur berlebihan
· Merasa
lelah, lesu atau kurang bertenaga
· Merasa
rendah diri
· Sulit
konsentrasi dan sulit mengambil keputusan
· Merasa
putus asa
· Gairah
belajar berkurang
· Tidak
ada inisiatif, hipo/hiperaktivitas Anak dengan gejala-gejala depresi akan
memperlihatkan kreativitas, inisiatif dan motivasi belajar yang menurun, dengan
demikian akan menimbulkan kesulitan belajar sehingga membuat prestasi belajar
anak
DAMPAK KESULITAN BELAJAR
elajar merasa lebih terpojok
n Kesulitan belajar yang terjadi pada seorang anak tidak hanya berdampak bagi
pertumbuhan dan perkembangan anak saja, tetapi juga berdampak dalam kehidupan
keluarga dan juga dapat mempengaruhi interaksi anak dengan lingkungannya.
Sistim keluarga dapat mengalami disharmoni oleh karena saling menyalahkan di
antara ke dua orang tua. Orang tua merasa frustrasi, marah, kecewa, putus asa,
merasa bersalah atau menolak, dengan kondisi ini justru membuat anak dengan
kesulitan belajar merasa lebih terpojok lagi. Anak dengan kesulitan belajar
seringkali menuding dirinya sebagai anak yang bodoh, lambat, berbeda dan
keterbelakang. Mereka menjadi tegang, malu, rendah diri dan berperilaku nakal,
agresif, impulsif atau bahkan menyendiri/menarik diri untuk menutupi kekurangan
pada dirinya. Seringkali mereka tampak sulit berinteraksi dengan teman-teman
sebayanya, dan lebih mudah bagi mereka untuk bergaul dan bermain dengan
anak-anak yang mempunyai usia lebih muda dari mereka. Hal ini menandakan terganggunya
sistim harga diri anak. Kondisi ini merupakan sinyal bahwa anak membutuhkan
pertolongan segera.
MENGENAL
GANGGUAN BELAJAR DISKALKULIA & DISGRAFIA
Banyak orang tua langsung
menduga anaknya bodoh atau malas ketika melihatnya mengalami kesulitan membaca,
berhitung atau mengikuti pelajaran di sekolah. Padahal, bisa jadi si anak
mengalami gangguan persarafan.
DISKALKULIA
Menurut Jacinta F.
Rini, M.Psi, dari Harmawan Consulting, Jakarta, diskalkulia dikenal juga
dengan istilah “math difficulty” karena menyangkut gangguan pada kemampuan
kalkulasi secara matematis. Kesulitan ini dapat ditinjau secara kuantitatif
yang terbagi menjadi bentuk kesulitan berhitung (counting) dan
mengkalkulasi (calculating). Anak yang bersangkutan akan menunjukkan
kesulitan dalam memahami proses-proses matematis. Hal ini biasanya ditandai
dengan munculnya kesulitan belajar dan mengerjakan tugas yang melibatkan angka
ataupun simbol matematis.
CIRI-CIRI
Inilah beberapa hal yang bisa dijadikan pegangan:
1. Tingkat perkembangan bahasa dan kemampuan lainnya normal, malah
seringkali mempunyai memori visual yang baik dalam merekam kata-kata tertulis.
2. Sulit melakukan hitungan matematis. Contoh sehari-harinya, ia sulit
menghitung transaksi (belanja), termasuk menghitung kembalian uang. Seringkali
anak tersebut jadi takut memegang uang, menghindari transaksi, atau apa pun
kegiatan yang harus melibatkan uang.
3. Sulit melakukan proses-proses matematis, seperti menjumlah,
mengurangi, membagi, mengali, dan sulit memahami konsep hitungan angka atau
urutan.
4. Terkadang mengalami disorientasi, seperti disorientasi waktu dan arah.
Si anak biasanya bingung saat ditanya jam berapa sekarang. Ia juga tidak mampu
membaca dan memahami peta atau petunjuk arah.
5. Mengalami hambatan dalam menggunakan konsep abstrak tentang waktu.
Misalnya, ia bingung dalam mengurut kejadian masa lalu atau masa mendatang.
6. Sering melakukan kesalahan ketika melakukan perhitungan angka-angka,
seperti proses substitusi, mengulang terbalik, dan mengisi deret hitung serta
deret ukur.
7. Mengalami hambatan dalam mempelajari musik, terutama karena sulit
memahami notasi, urutan nada, dan sebagainya.
8. Bisa juga mengalami kesulitan dalam aktivitas olahraga karena bingung
mengikuti aturan main yang berhubungan sistem skor.
FAKTOR
PENYEBAB
Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi gangguan
ini, di antaranya:
1. Kelemahan pada proses penglihatan atau visual
Anak yang memiliki kelemahan ini kemungkinan besar
akan mengalami diskalkulia. Ia juga berpotensi mengalami gangguan dalam mengeja
dan menulis dengan tangan.
2. Bermasalah dalam hal mengurut informasi
Seorang anak yang mengalami kesulitan dalam mengurutkan
dan mengorganisasikan informasi secara detail, umumnya juga akan sulit
mengingat sebuah fakta, konsep ataupun formula untuk menyelesaikan kalkulasi
matematis. Jika problem ini yang menjadi penyebabnya, maka anak cenderung
mengalami hambatan pada aspek kemampuan lainnya, seperti membaca kode-kode dan
mengeja, serta apa pun yang membutuhkan kemampuan mengingat kembali hal-hal
detail.
3. Fobia matematika
Anak yang pernah mengalami trauma dengan pelajaran
matematika bisa kehilangan rasa percaya dirinya. Jika hal ini tidak diatasi
segera, ia akan mengalami kesulitan dengan semua hal yang mengandung unsur
hitungan.
CARA
PENANGGULANGAN
Diagnosa diskalkulia harus dilakukan oleh
spesialis yang berkompeten di bidangnya berdasarkan serangkaian tes dan observasi
yang valid dan terpercaya. Bentuk terapi atau treatment yang
akan diberikan pun harus berdasarkan evaluasi terhadap kemampuan dan tingkat
hambatan anak secara detail dan menyeluruh.
Bagaimanapun, kesulitan ini besar kemungkinan
terkait dengan kesulitan dalam aspek-aspek lainnya, seperti disleksia.
Perbedaan derajat hambatan akan membedakan tingkat treatment dan
strategi yang diterapkan. Selain penanganan yang dilakukan ahli, orang tua pun
disarankan melakukan beberapa latihan yang dapat mengurangi gangguan belajar,
yaitu:
1. Cobalah memvisualisasikan konsep matematis yang sulit dimengerti,
dengan menggunakan gambar ataupun cara lain untuk menjembatani langkah-langkah
atau urutan dari proses keseluruhannya.
2. Bisa juga dengan menyuarakan konsep matematis yang sulit dimengerti
dan minta si anak mendengarkan secara cermat. Biasanya anak diskalkulia tidak
mengalami kesulitan dalam memahami konsep secara verbal.
3. Tuangkan konsep matematis ataupun angka-angka secara tertulis di atas
kertas agar anak mudah melihatnya dan tidak sekadar abstrak. Atau kalau perlu,
tuliskan urutan angka-angka itu untuk membantu anak memahami konsep setiap
angka sesuai dengan urutannya.
4. Tuangkan konsep-konsep matematis dalam praktek serta aktivitas
sederhana sehari-hari. Misalnya, berapa sepatu yang harus dipakainya jika
bepergian, berapa potong pakaian seragam sekolahnya dalam seminggu, berapa
jumlah kursi makan yang diperlukan jika disesuaikan dengan anggota keluarga
yang ada, dan sebagainya.
5. Sering-seringlah mendorong anak melatih ingatan secara kreatif, entah
dengan cara menyanyikan angka-angka, atau cara lain yang mempermudah
menampilkan ingatannya tentang angka.
6. Pujilah setiap keberhasilan, kemajuan atau bahkan usaha yang dilakukan
oleh anak.
7. Lakukan proses asosiasi antara konsep yang sedang diajarkan dengan
kehidupan nyata sehari-hari, sehingga anak mudah memahaminya.
8.
Harus ada kerja
sama terpadu antara guru dan orang tua untuk menentukan strategi belajar di
kelas, memonitor perkembangan dan kesulitan anak, serta melakukan
tindakan-tindakan yang perlu untuk memfasilitasi kemajuan anak. Misalnya, guru
memberi saran tertentu pada orang tua dalam menentukan tugas di rumah,
buku-buku bacaan, serta latihan yang disarankan.
DISGRAFIA
Kelainan neurologis ini menghambat kemampuan
menulis yang meliputi hambatan secara fisik, seperti tidak dapat memegang
pensil dengan mantap ataupun tulisan tangannya buruk. Anak dengan gangguan
disgrafia sebetulnya mengalami kesulitan dalam mengharmonisasikan ingatan
dengan penguasaan gerak ototnya secara otomatis saat menulis huruf dan angka.
Kesulitan dalam menulis biasanya menjadi problem
utama dalam rangkaian gangguan belajar, terutama pada anak yang berada di
tingkat SD. Kesulitan dalam menulis seringkali juga disalahpersepsikan sebagai
kebodohan oleh orang tua dan guru. Akibatnya, anak yang bersangkutan frustrasi
karena pada dasarnya ia ingin sekali mengekspresikan dan mentransfer pikiran
dan pengetahuan yang sudah didapat ke dalam bentuk tulisan. Hanya saja ia
memiliki hambatan.
Sebagai langkah awal dalam menghadapinya, orang
tua harus paham bahwa disgrafia bukan disebabkan tingkat intelegensi yang
rendah, kemalasan, asal-asalan menulis, dan tidak mau belajar. Gangguan ini
juga bukan akibat kurangnya perhatian orang tua dan guru terhadap si anak,
ataupun keterlambatan proses visual motoriknya.
CIRI-CIRI
Ada beberapa ciri khusus anak dengan gangguan ini.
Di antaranya adalah:
1. Terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya.
2. Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur.
3. Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional.
4. Anak tampak harus berusaha keras saat mengkomunikasikan suatu ide,
pengetahuan, atau pemahamannya lewat tulisan.
5. Sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap. Caranya memegang
alat tulis seringkali terlalu dekat bahkan hampir menempel dengan kertas.
6. Berbicara pada diri sendiri ketika sedang menulis, atau malah terlalu
memperhatikan tangan yang dipakai untuk menulis.
7. Cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang tepat dan
proporsional.
8. Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh
tulisan yang sudah ada.
MEMBANTU
ANAK DISGRAFIA
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua
untuk membantu anak dengan gangguan ini. Di antaranya:
1. Pahami keadaan anak
Sebaiknya pihak orang tua, guru, atau pendamping
memahami kesulitan dan keterbatasan yang dimiliki anak disgrafia. Berusahalah
untuk tidak membandingkan anak seperti itu dengan anak-anak lainnya. Sikap itu
hanya akan membuat kedua belah pihak, baik orang tua/guru maupun anak merasa
frustrasi dan stres. Jika memungkinkan, berikan tugas-tugas menulis yang
singkat saja. Atau bisa juga orang tua meminta kebijakan dari pihak sekolah
untuk memberikan tes kepada anak dengan gangguan ini secara lisan, bukan
tulisan.
2. Menyajikan tulisan cetak
Berikan kesempatan dan kemungkinan kepada anak
disgrafia untuk belajar menuangkan ide dan konsepnya dengan menggunakan
komputer atau mesin tik. Ajari dia untuk menggunakan alat-alat agar dapat
mengatasi hambatannya. Dengan menggunakan komputer, anak bisa memanfaatkan
sarana korektor ejaan agar ia mengetahui kesalahannya.
3. Membangun rasa percaya diri anak
Berikan pujian wajar pada setiap usaha yang
dilakukan anak. Jangan sekali-kali menyepelekan atau melecehkan karena hal itu
akan membuatnya merasa rendah diri dan frustrasi. Kesabaran orang tua dan guru
akan membuat anak tenang dan sabar terhadap dirinya dan terhadap usaha yang
sedang dilakukannya.
4. Latih anak untuk terus menulis
Libatkan anak secara bertahap, pilih strategi yang
sesuai dengan tingkat kesulitannya untuk mengerjakan tugas menulis. Berikan
tugas yang menarik dan memang diminatinya, seperti menulis surat untuk teman, menulis
pada selembar kartu pos, menulis pesan untuk orang tua, dan sebagainya. Hal ini
akan meningkatkan kemampuan menulis anak disgrafia dan membantunya menuangkan
konsep abstrak tentang huruf dan kata dalam bentuk tulisan konkret.
intervensi
gangguan belajar
Intervensi-intervensi untuk gangguan belajar
umumnya menggunakan perspektif berikut (Lyon & Moats,1988)
1. Model Psikoedukasi Menekankan pada
kekuatan-kekuatan dan preferensi-preferensi anak daripada usaha untuk
mengoreksi definisi yuang diduga mendasarinya.
2. Model Behavioral Mengasumsikan bahwa belajar
akademik dibangun diatas hierarki ketrampilan-ketrampilan dasar, atau “perilaku
yang memampukan (enabling behaviours).”
3. Model Medis Mengasumsikan bahwa gangguan
belajar merupakan simtom-simtom dari defisiensi dalam pengolahan kognitif yang
memiliki dasar biologis.
4. Model neuropsikologi Berasal dari model
psikoedukasi dan medis, diasumsikan bahwa gangguan belajar merefleksikan
deficit dalam pengolahan informasi yang memiliki dasar biologis (model medis).
5. Model lingguistik Berfokus pada defisiensi
dasar dalam bahasa anak, seperti kegagalan untuk mengenali bagaimana
suara-suara dan kata-kata saling dikaitkan untuk menciptakan arti, yang akan
menimbulkan masalah dalam membaca, mengeja, dan menemukan kata-kata untuk
mengekspresikan diri mereka.
6. Model kognitif Berfokus pada bagaimana
anak-anak mengatur pemikiran-pemikiran mereka ketika mereka balajar
materi-materi akademik.
Tugas utama seorang pelajar adalah belajar. Banyak
siswa yang sudah belajar, tetapi kegagalan dalam mengikuti ujian kelihatannya
tidak sedikit. Ini mungkin disebabkan system belajar mereka yang kurang tepat.
Tulisan ini dimaksudkan untuk memberi solusi
cerdas teman-teman di dalam menentukan system belajar yang baik.
Disiplin
Belajar
Disiplin belajar, dalam arti menentukan
program-program belajar dan melaksanakannya sesuai dengan
program-program/jadwal yang telah ditentukan. Mungkin teman-teman juga
merasakanbahwa ada seribu satu macam gangguan belajar, misalnya melamun, malas,
fasilitas tidak memadai, gangguan situasi keluarga, dan lain-lain. Gangguan
seperti ini sering menimpa teman-teman sehingga belajar pun terganggu dan
alibatnya gagal di dalam ujian. Di sinilah pentingnya disiplin belajar agar
dampak-dampak negatif dari gangguan tersebut dapat ditekan semaksimal mungkin.
Pembagian Waktu BelajarJadwal belajar perlu
dibuat. Kapan waktu belajar dan pelajaran apa saja yang dipelajari tiap hari.
Ada sebagian siswa yang kegiatannya setiap hari ditulis di dalam daftar rencana
kerja sampai mendetail dari bangun tidur sampai tidur lagi. Cara ini memang ada
baiknya, tetapi ada waktunya kita menemukan kelemahannya. Karena dengan
menepati ketentuan yang ada di tabel kita akan menyingkirkan hal-hal lain yang
justru merupakan hal-hal yang penting. Lalu bagaimanakah langkah kita dapat
menentukan waktu belajar? Untuk itu tentukan saja pelajaran apa saja yang harus
dipelajari pada tiap-tiap hari, misalnya tiap hari harus belajar dua atau tiga
mata pelajaran. Minimal harus belajar satu kali tiap mata pelajaran dalam satu
minggu.
Konsentrasi
Belajar
Belajar tanpa konsentrasi tidak akan membuahkan
hasil yang diharapkan. Untuk membantu konsentrasi belajar, perhatikan hal-hal
di bawah ini.
1.
Sediakan tempat
belajar lengkap dengan meja belajar serta penunjang yang lainnya.
2.
Hilangkan
hal-hal/sesuatu yang mengganggu. Usahakan agar di atas meja hanya tersedia
alat-alat yang diperlukan untuk belajar. Alat lain yang belum dibutuhkan
sebaiknya disimpan terlebih dahulu.
3.
Tentukan waktu,
misalnya dalam waktu satu jam harus sudah dapat membaca sekian halaman, atau
waktu sekian harus sudah dapat memahami satu atau dua bab.
4.
Untuk menambah
konsentrasi gunakanlah alat tulis untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting
dan menggaris bawahi hal yang penting.
5.
Apabila konsentrasi
buyar mungkin kejenuhan merupakan salah satu faktor penyebabnya. Untuk itu
gantilah membaca buku lain, tapi jika masih belum juga berkonsentrasi,
sebaiknya tinggalkan saja meja belajar.
6.
Pakailah hukum 1
X 5 lebih baik daripada 5 X 1. Membaca sedikit dengan cara berulang-ulang lebih
baik daripada membaca banyak dalam waktu yang singkat/ satu kali baca.
Proses
Belajar
Di dalam membaca buku kita dapat memilih atu dari
tiga cara proses belajar berikut ini.
1.
Membaca permulaan
sampai akhir dengan berurutan secara langsung.
2.
Membaca dari
permulaan sampai akhir dengan cara urut, tetapi waktunya tidak langsung.
3.
Membaca bab-bab
yang disukai atau yang dianggap penting saja.
Mengenali
masalah gangguan belajar anak dari segi okupasi dan sensori integrasi
Masih banyak sekali tenaga pengajar atau guru di
sekolah belum mengetahui masalah sesungguhnya mengapa anak peserta didiknya
menjadi “malas”, “tidak mau menulis”, “kurang huruf saat menulis atau membaca”,
“tidak konsentrasi” ataupun “tidak mau mendengar”. Sering sekali para tenaga
pengajar sangat mudah sekali “mencap” anak sebagi anak yang “nakal”, “malas”
ataupun “bodoh”. Tenaga pengajar yang baik atau bijak sana seharnya tidak dapat
dengan mudah mencap anak nakal, malas atau bodoh. Akan lebih baik apabila
sebelum memberikan cap kepada seorang anak anak terlebih dahulu melihat kepada
faktor dari luar dan faktor dari dalam diri anak. Faktor dari luar seperti pola
asuh keluarga, lingkungan tempat tinggal dan bermain mungkin dapat kita
observasi di lingkungan aslinya ataupun dapat menanyakan langsung kepada
orang-orang yang berhubungan dengan anak. Yang paling sulit adalah untuk
melihat ataupun memahami faktor dari diri anak, seperti, taraf kecerdasan,
masalah visual, persepsi perseptual), dan gerak tubuh (motor).
• Visual
Banyak anak menunjukkan kesulitan dalam hal oculo-motor control (kontrol otot
mata) ketika diasses. Dalam kegiatan yang sederhana yang mengharuskan
penggunaan objek, misalnya pensil, anak gagal memberikan respons yang sesuai.
Jika kita memahami bahwa penglihatan adalah suatu indra yang dasar dan penting
di lingkungan belajar, ketidakmampuan menunjukkan dasar gerakan-gerakan
oculo-motor akan memberikan konsekuensi yang signifikan. Kesulitan dalam
mengikuti jejak secara horizontal (horizontal tracking) – mempengaruhi
kemampuan membaca – dengan kecenderungan melompati kata-kata/baris tertentu,
dll. Kesulitan dalam hal memadukan data (convergence) – menyebabkan kelelahan
di mata – perhatikan apakah mata sering digosok saat membaca dan juga kemampuan
yang kurang baik dalam bermain bola. Gerakan mata yang cepat di antara 2 benda
(saccadic) – menyebabkan anak mempunyai kesulitan menyalin dari halaman/papan
tulis karena mereka kehilangan titik / tempat acuan / referensi.
• Perceptual
Dapat didefinisikan bukan hanya sebagai apa yang dilihat tetapi bagaimana otak
kita menginterpretasikan apa yang kita lihat. Kesulitan yang paling umum
ditemukan adalah dalam bidang visual figure – tugas yang mengharuskan anak
menemukan bentuk tertentu yang tersembunyi dalam latar belakang dan dapat
diasosiasikan dengan pengamatan ‘melihat’ tetapi tidak memperhatikan.
Ingatan visual yang kurang baik (jangka pendek) sering mengindikasikan
kesulitan dalam membaca, terutama di mana metode membaca tertentu digunakan
(‘slight’ method of reading). Anak sering gagal mengenali kata baru padahal dia
baru saja membacanya di 2 – 3 baris sebelumnya. Pada anak yang lebih kecil,
sering juga terjadi keterbalikan membaca yang umum – p, b, d; saw menjadi was,
dsb.
Karenanya, dari beberapa faktor di atas ini dapat dilihat bahwa membaca dapat
menjadi masalah dan sering mengakibatkan perilaku menghindar (avoidance
behaviours).
Anak usia 8 tahun keatas seringkali menunjukkan faktor-faktor lain yang pada
dasarnya penting untuk perkembangan berikutnya. Dengan kata lain anak seumur
ini diharapkan dapat melakukan ……….. Dua bidang yang signifikan adalah adanya
ketetapan bentuk (form constancy) dan daya ingat urutan visual (visual
sequential memory) (jangka panjang). Agar dapat melengkapi tes yang mencakup
dua hal tersebut, diperlukan kemampuan kognitif yang lebih tinggi karena
jawaban tidak tercantum secara jelas pada teks.
Kesulitan dalam bidang-bidang ini sering mempengaruhi bidang lain :
Bahasa (language) – pada umumnya anak tidak dapat melengkapi tes komprehensif
di mana jawaban harus diperoleh melalui pengambilan kesimpulan (inference).
Matematika – anak mungkin menunjukkan kemampuan dalam hal tugas penambahan,
dsb. Tetapi tidak dapat mengintrepretasikan jika sudah ditulis dalam bahasa
rumus tertentu. Keterampilan sosial – secara sosial, anak mengalami kesulitan
memahami peraturan dalam permainan, dan pengertian dari isyarat non-verbal.
Pada prakteknya, Occupational Therapist dan Speech Pathologist bekerjasama
dengan anak memberikan terapi bahasa dan proses visual. Kesulitan menulis juga
dapat dihubungkan dengan bidang ini. Anak-anak mengalami kesulitan dalam
melihat kesamaan antar huruf dan cenderung melihat setiap huruf sebagai
karakter yang berdiri tersendiri. Misal : b d f h l t semuanya memiliki punggung
yang tegak. Selain itu, dalam menulis halus juga terdapat masalah karena
ketidakmampuan anak mendeteksi sambungannya. Secara luas, kesemua hal di atas
ini konsisten dengan yang dianggap sebagai executive function (E.F) yang
disebut-sebut dalam literatur (CHADD Conf. Oktober 99).
• Motor
Dua pola umum seringkali ditemui saat assessment :
1.
Kebingungan antara Kiri-Kanan (L-R Confusion) atau kebingungan menetap dalam
menggunakan dua tangan secara bersamaan (persistence of ambidexterity hand
confusion).
Anak-anak dengan masalah ini lebih cenderung mengalami kesulitan belajar. Di
samping itu, mereka juga akan mengalami kesulitan dengan kegiatan yang
memerlukan 2 tangan, misal : mengendalikan halaman, membuat stabil kertas
dengan tangan yang tidak dominan.
2. Motor Dyspraxia – ketidakmampuan mengorganisasikan / mengurutkan ketrampilan
motorik, misal : lari, lompat, menangkap bola. Anak dengan tipe ini lebih
cenderung ’kikuk’ / ’ceroboh’ (clumsy) dan mempunyai kesulitan di bidang
motorik kasar dan halus.
Penanganan
dan Strategi
Karena kemampuan fungsi kurang bekerja dengan
baik, terapi dilihat sebagai mengajarkan dan memperkuat strategi sebagai
kompensasi. Bagi kebanyakan dari kita, secara otomatis kita menggunakan alat
bantu atau strategi yang dapat meningkatkan atau mengurangi frustasi kita dalam
rangka meningkatkan hasil kerja. Kita sekarang tahu bahwa sangat sering
populasi ini mempunyai kesulitan mengevaluasi hasil kerja. Keadaan ini sering
memberi pengaruh yang nyata dalam hal bagaimana tugas-tugas diajarkan dan
strategi diaplikasikan karena anak-anak ini cenderung lebih merupakan pemikir
yang harafiah dan konkret. Karena itu mereka memerlukan :
1. Tingkatan atau derajat reinforcement yang
tinggi dan spesifik dengan tugas yang dilakukan.
2. Instruksi yang spesifik. Saya ingin mata kamu melihat ke mata saya. Bila
instruksinya hanya “Lihat Saya“, respons yang diberikan anak kemungkinan tidak
seperti yang diharapkan.
3. Reinforcement verbal harus spesifik tugas – “bagus cara kamu menggerakkan
bahu dan siku” dibandingkan dengan komentar seperti ‘anak baik’ (‘good boy’
atau ‘good girl’).
4. Langkah-langkah untuk mencapai keterampilan tertentu / penguasaan harus
dibagi menjadi langkah kecil dan bertambah sedikit demi sedikit.
5. Pengulangan
6. Konsekuensi – coba lagi – dimana anak
diperkenalkan dengan konsep kendali mutu (quality control), misal menggunakan
skate board melalui halangan-halangan, kalau sampai ada yang tertabrak mulai
lagi dari awal.
7. Memberikan reinforcement / penguat respons yang
hampir benar dalam melakukan tugas, misal : “Wow, hebat ya kantongnya masuk
karena kamu pakai matamu untuk melihat!“
Tujuan penggunaan strategi adalah untuk mencapai
sukses dalam mengerjakan tugas yang akan berdampak pada rasa percaya diri anak.
Kesulitan yang dihadapi sifatnya sering membuat anak merasa kewalahan dan
frustasi sehingga menyebabkan anak menyerah dan atau belajar untuk merasa tak
berdaya. Untuk anak-anak dengan gangguan spektrum autisme, assassment tidak
selalu sukses karena tergantung dari derajat minat anak atau perilaku dan juga
hal-hal lain yang mungkin dapat ditentukan saat sesi observasi dalam terapi.
Strategi yang digunakan untuk terapi tetap sangat cocok, tetapi anak pada
awalnya perlu lebih banyak struktur untuk membantu mengatasi kesulitan dalam
bidang bahasa dan pemahaman. Akhirnya, dengan memahami penyebab dasar masalah,
kita memperoleh informasi yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektifitas
terapi dan remediasi.
1. Apa
yang dimaksud dengan disleksia?
Disleksia berasal dari bahasa Greek, yakni dari
kata ”dys” yang berarti kesulitan, dan kata ”lexis” yang berarti bahasa. Jadi
disleksia secara harafiah berarti ” kesulitan dalam berbahasa.” Anak disleksia
tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja,
menulis dan beberapa aspek bahasa yang lain. Kesulitan membaca pada anak
disleksia tidak sebanding dengan tingkat intelegensi ataupun motivasi yang
dimiliki untuk kemampuan membaca dengan lancar dan akurat, karena anak
disleksia biasanya mempunyai lebel intelegensi yang normal bahkan sebagian di
antaranya di atas normal. Disleksia merupakan kelainan dengan dasar kelainan
neurobiologis, yang ditandai dengan kesulitan dalam mengenali kata dengan tepat
/ akurat, dalam pengejaan dan dalam kemampuan mengkode simbol.
Ada juga ahli yang mendefinisikan disleksia sebagai suatu kondisi pemprosesan
input/informasi yang berbeda (dari anak normal) yang seringkali ditandai dengan
kesulitan dalam membaca, yang dapat mempengaruhi cara kognisi seperti daya
ingat, kecepatan pemprosesan input, kemampuan pengaturan waktu, aspek
koordinasi dan pengendalain gerak. Dapat terjadi kesulitan visual dan
fonologis, dan biasanya terdapat perbedaan kemampuan di berbagai aspek
perkembangan.
Menurut Jovita Maria Ferliana (dalam pengantar
Living with Dyslexia, 2007), penderita disleksia sebenarnya mengalami kesulitan
membedakan bunyi fonetik yang menyusun sebuah kata. Mereka bisa menangkap
kata-kata tersebut dengan indera pendengarnya. Namun, ketika harus
menuliskannya dengan huruf-huruf yang mana saja. Dengan demikian, dia juga
kesulitan menuliskan apa yang ia inginkan ke dalam kalimat-kalimat panjang yang
akurat.
2.
Disleksia dan otak kita.
Tahun 1891 Dejerine telah melaporkan bahwa proses
membaca diatur oleh bagian khusus dari sistem saraf manusia yaitu di bagian
belakang otak. Pada tahun 1896, British Medical Journal melaporkan artikel dari
Dr. Pringle Morgan, mengenai seorang anak lelaki berusia 14 tahun bernama Percy
yang pandai dan mampu menguasai permainan dengan cepat tanpa kekurangan apapun
dibandingkan teman-temannya yang lain namun Percy tidak mampu mengeja, bahkan
mengeja namanya sendiri.
Beberapa teori mengemukakan penyebab disleksia.
Selikowitz (1993) mengemukakan beberapa penyebab utama disleksia. Selikowitz
membagi pada dua keadaan penyebab secara umum, yakni faktor genetik dan faktor
lingkungan. Faktor genetis, yaitu dari garis keturunan orangtuanya (tidak harus
orangtua langsung, bisa dari kakek-nenek atau buyutnya).
Penelitian terkini menunjukkan bahwa terdapat anatomi antara otak anak
disleksia dengan anak normal, yakni di bagian temporal-parietal-oksipitalnya
(otak bagian samping dan bagian belakang). Pemeriksaan Magnetic Resonance
Imaging yang dilakukan untuk memeriksa otak saat dilakukan aktivitas membaca
ternyata menunjukkan bahwa aktivitas otak individu disleksia jauh berbeda
dengan individu biasa terutama dalam hal pemprosesan input huruf/kata yang
dibaca lalu ”diterjemahkan” menjadi suatu makna.
4. Diagnosis Disleksia pada Anak
Tidak ada satu jenis tes pun yang khusus atau
spesifik untuk menegakkan diagnosis disleksia. Diagnosis disleksia ditegakkan
secara klinis berdasarkan cerita dari orang tua, observasi dan tes psikometrik
yang dilakukan oleh dokter anak atau psikolog. Selain dokter anak dan psikolog,
profesional lain seyogyanya juga terlibat dalam observasi dan penilaian anak
disleksia yaitu dokter saraf anak (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan
neurologis), audiologis (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan
pendengaran), opthalmologis (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan
penglihatan), dan tentunya guru sekolah.
Anak disleksia di usia pra sekolah menunjukkan adanya keterlambatan berbahasa
atau mengalami gangguan dalam mempelajari kata-kata yang bunyinya mirip atau
salah dalam pelafalan kata-kata, dan mengalami kesulitan untuk mengenali
huruf-huruf dalam alphabet, disertai dengan riwayat disleksia dalam keluarga.
Keluhan utama pada anak disleksia di usia sekolah biasanya berhubungan dengan
prestasi sekolah, dan biasanya orang tua ”tidak terima” jika guru melaporkan
bahwa penyebab kemunduran prestasinya adalah kesulitan membaca. Kesulitan yang
dikeluhkan meliputi kesulitan dalam berbicara dan kesulitan dalam membaca.
• Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya.
• Kesulitan membuat pekerjaan tertulis secara terstruktur
misalnya esai
• Huruf tertukar-tukar, misal ’b’ tertukar ’d’,
’p’ tertukar ’q’, ’m’ tertukar ’w’, ’s’ tertukar ’z’
• Membaca lambat dan terputus-putus serta tidak
tepat.
• Menghilangkan atau salah baca kata penghubung
(“di”, “ke”, “pada”).
• Mengabaikan kata awalan pada waktu membaca
(“menulis” dibaca sebagai “tulis”).
• Tidak dapat membaca ataupun membunyikan
perkataanyang tidak pernah dijumpai.
• tertukar-tukar kata (misalnya : dia-ada,
sama-masa, lagu-gula, batu-buta, tanam-taman, dapat padat, mana-nama).
• Daya ingat jangka pendek yang buruk
• Kesulitan memahami kalimat yang dibaca atau pun
yang didengar
• Tulisan tangan yang buruk
• Mengalami kesulitan mempelajari tulisan sambung
• Ketika mendengarkan sesuatu, rentang
perhatiannya pendek
• Kesulitan dalam mengingat kata-kata
• Kesulitan dalam diskriminasi visual
• Kesulitan dalam persepsi spatial
• Kesulitan mengingat nama-nama
• Kesulitan / lambat mengerjakan PR
• Kesulitan memahami konsep waktu
• Kesulitan membedakan huruf vokal dengan konsonan
• Kebingungan atas konsep alfabet dan symbol
• Kesulitan mengingat rutinitas aktivitas
sehari-hari
• Kesulitan membedakan kanan kiri Pertanda
disleksia pada anak usia sekolah dasar. Kesulitan dalam berbicara :
• Salah pelafalan kata-kata yang panjang
• Bicara tidak lancer
• Menggunakan kata-kata yang tidak tepat dalam
berkomunikasi Kesulitan dalam membaca:
• Sangat lambat kemajuannya dalam ketrampilan
membaca
• Sulit menguasai / membaca kata-kata baru
• Kesulitan melafalkan kata-kata yang baru dikenal
• Kesulitan membaca kata-kata ”kecil” seperti: di,
pada, ke
• Kesulitan dalam mengerjakan tes pilihan ganda
• Kesulitan menyelesaikan tes dalam waktu yang
ditentukan
• Kesulitan mengeja
• Membaca sangat lambat dan melelahkan
• Tulisan tangan berantakan
• Sulit mempelajari bahasa asing (sebagai bahasa
kedua)
• Riwayat adanya disleksia pada anggota keluarga
lain. (Shaywitz. S. Overcoming dyslexia. Ney York: Alfred A Knopf, 2003:12-124)
4.
Penyembuhan Disleksia
Penelitian retrospektif menunjukkan disleksia
merupakan suatu keadaan yang menetap dan kronis. “Ketidak mampuannya” di masa
anak yang nampak seperti “menghilang” atau “berkurang” di masa dewasa bukanlah
kareana disleksia nya telah sembuh namun karena individu tersebut berhasil
menemukan solusi untuk mengatasi kesulitan yang diakibatkan oleh disleksia nya
tersebut. Mengingat demikian “kompleks”nya keadaan disleksia ini, maka sangat
disarankan bagi orang tua yang merasa anaknya menunjukkan tanda-tanda seperti
tersebut di atas, agar segera membawa anaknya berkonsultsi kepada tenaga medis
profesional yang kapabel di bidang tersebut. Karena semakin dini kelainan ini
dikenali, semakin “mudah” pula intervensi yang dapat dilakukan, sehingga anak
tidak terlanjur larut dalam kondisi yang lebih parah.
Bantuan yang dapat diberikan kepada penderita disleksia :
- Adanya komunikasi dan pemahaman yang sama
mengenai anak disleksia antara orang tua dan guru
- Anak duduk di barisan paling depan di kelas
- Guru senantiasa mengawasi / mendampingi saat
anak diberikan tugas, misalnya guru meminta dibuka halaman 15, pastikan anak
tidak tertukar dengan membuka halaman lain, misalnya halaman 50
- Guru dapat memberikan toleransi pada anak
disleksia saat menyalin soal di papan tulis sehingga mereka mempunyai waktu
lebih banyak untuk menyiapkan latihan (guru dapat memberikan soal dalam bentuk
tertulis di kertas)
- Anak disleksia yang sudah menunjukkkan usaha
keras untuk berlatih dan belajar harus diberikan penghargaan yang sesuai dan
proses belajarnya perlu diseling dengan waktu istirahat yang cukup.
- Melatih anak menulis sambung sambil
memperhatikan cara anak duduk dan memegang pensilnya. Tulisan sambung
memudahkan murid membedakan antara huruf yang hampir sama misalnya ’b’ dengan
’d’. Murid harus diperlihatkan terlebih dahulu cara menulis huruf sambung
karena kemahiran tersebut tidak dapat diperoleh begitu saja. Pembentukan huruf
yang betul sangatlah penting dan murid harus dilatih menulis huruf-huruf yang
hampir sama berulang kali. Misalnya huruf-huruf dengan bentuk bulat: ”g, c, o,
d, a, s, q”, bentuk zig zag: ”k, v, x, z”, bentuk linear: ”j, t, l, u, y”,
bentuk hampir serupa: ”r, n, m, h”.
- Guru dan orang tua perlu melakukan pendekatan
yang berbeda ketika belajar matematika dengan anak disleksia, kebanyakan mereka
lebih senang menggunakan sistem belajar yang praktikal. Selain itu kita perlu
menyadari bahwa anak disleksia mempunyai cara yang berbeda dalam menyelesaikan
suatu soal matematika, oleh karena itu tidak bijaksana untuk ”memaksakan” cara
penyelesaian yang klasik jika cara terebut sukar diterima oleh sang anak.
- Aspek emosi. Anak disleksia dapat menjadi sangat
sensitif, terutama jika mereka merasa bahwa mereka berbeda dibanding
teman-temannya dan mendapat perlakukan yang berbeda dari gurunya. Lebih buruk
lagi jika prestasi akademis mereka menjadi demikian buruk akibat ”perbedaan”
yang dimilikinya tersebut. Kondisi ini akan membawa anak menjadi individu
dengan ”self-esteem” yang rendah dan tidak percaya diri. Dan jika hal ini tidak
segera diatasi akan terus bertambah parah dan menyulitkan proses terapi
selanjutnya. Orang tua dan guru seyogyanya adalah orang-orang terdekat yang
dapat membangkitkan semangatnya, memberikan motivasi dan mendukung setiap
langkah usaha yang diperlihatkan anak disleksia. Jangan sekali-sekali membandingkan
anak disleksia dengan temannya, atau dengan saudaranya yang tidak disleksia.
Faktor
Penyebab Kesulitan Belajar
Masalah kesulitan belajar ini, tentunya disebabkan
oleh berbagai factor. Untuk memberikan suatu bantuan kepada anak yang mengalami
kesulitan belajar, tentunya kita harus mengetahui terlebih dahulu faktor apa
yang menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar.
Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam dua
golongan, yaitu :
A. Faktor intern (factor dari dalam diri anak itu
sendiri ) yang meliputi:
1). Faktor fisiologi
Faktor fisiologi adalah factor fisik dari anak itu
sendiri. seorang anak yang sedang sakit, tentunya akan mengalami kelemahan
secara fisik, sehingga proses menerima pelajaran, memahami pelajaran menjadi
tidak sempurna. Selain sakit factor fisiologis yang perlu kita perhatikan
karena dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah cacat
tubuh, yang dapat kita bagi lagi menjadi cacat tubuh yang ringan seperti kurang
pendengaran, kurang penglihatan, serta gangguan gerak, serta cacat tubuh yang
tetap (serius) seperti buta, tuli, bisu, dan lain sebagainya.
2). Faktor psikologis
Faktor psikologis adalah berbagai hal yang
berkenaan dengan berbagai perilaku yang ada dibutuhkan dalam belajar.
Sebagaimana kita ketahui bahwa belajar tentunya memerlukan sebuah kesiapan,
ketenangan, rasa aman. Selain itu yang juga termasuk dalam factor psikoogis ini
adalah intelligensi yang dimiliki oleh anak. Anak yang memiliki IQ cerdas (110
– 140), atu genius (lebih dari 140) memiliki potensi untuk memahami pelajaran
dengan cepat. Sedangkan anak-anak yang tergolong sedang (90 – 110) tentunya
tidak terlalu mengalami masalah walaupun juga pencapaiannya tidak terlalu
tinggi. Sedangkan anak yang memiliki IQ dibawah 90 ataubahkan dibawah 60
tentunya memiliki potensi mengalami kesulitan dalam masalah belajar. Untuk itu,
maka orang tua, serta guru perlu mengetahui tingkat IQ yang dimiliki anak atau
anak didiknya. Selain IQ factor psikologis yang dapat menjadi penyebab
munculnya masalah kesulitan belajar adalah bakat, minat, motivasi, kondisi
kesehatan mental anak, dan juga tipe anak dalam belajar.
B. Factor ekstern (factor dari luar anak) meliputi
;
1). Faktor-faktor sosial
Yaitu faktor-faktor seperti cara mendidik anak
oleh orang tua mereka di rumah. Anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian yang
cukup tentunya akan berbeda dengan anak-anak yang cukup mendapatkan perhatian,
atau anak yang terlalu diberikan perhatian. Selain itu juga bagimana hubungan
orang tua dengan anak, apakah harmonis, atau jarang bertemu, atau bahkan
terpisah. Hal ini tentunya juga memberikan pengaruh pada kebiasaan belajar
anak.
2). Faktor-faktor non- sosial
Faktor-faktor non-sosial yang dapat menjadi
penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah factor guru di sekolah,
kemudian alat-alat pembelajaran, kondisi tempat belajar, serta kurikulum.
Sejarah kesulitan belajar dibagi menjadi empat fase oleh Wiederholt (1974) dan
Lerner (1988).
1. Fase
pertama (foundation phase) tahun 1800-1930, penelitian tentang otak oleh Paul
Broca (1861), Hinshelwood (1917) dan Goldstein (1939), yang menjadi dasar para
pakar untuk menghubungkan kesulitan belajar dengan fungsi dan disfungsi otak.
2. Fase
kedua (transition phase) tahun 1930-1960, penyelidikan klinis pada anak
kesulitan belajar untuk mencari cara dalam mengajar. Fernald (1943) dan
McGinnis (1963) pelopor dalam membuat dasar bagaimana menangani anak-anak
kesulitan belajar, yang dilanjutkan oleh Cruickshank, Barsch, Frostig, Kephart,
Kirik dan Myklebust.
3. Fase
ketiga (integration phase) tahun 1960-1980 meliputi perkembangan program untuk
anak kesulitan belajar di sekolah dan ditemukan cara diagnostik medik, juga
menentukan kemungkinan penyebab kesulitan belajar.
4. Fase
keempat (contemporary phase) tahun 1980 sampai sekarang, Pengembangan upaya
untuk penanganan kesulitan belajar pada anak sampai dewasa melalui
komputerisasi mengingat meningkatnya usia yang mengalami kesulitan belajar.
Bagaimana sebaiknya
orangtua menyikapi gangguan belajar pada anak? Dengan sikap dan cara yang
tepat bukan mustahil potensi besar yang terpendam justru menjadi prestasi
luar biasa:
Coba memahami keadaan anak
Jangan membandingkan anak tersebut dengan anak-anak lain. Sikap
seperti itu akan membuat anak menjadi stres dan frustasi. “Sebenarnya anak
sudah menyadari kekurangannya dan juga merasa sedih. Jadi sebaiknya orangtua
menjadi motivator bagi si anak,”ujar Evita, psikolog dan dosen pendidikan.
Jangan terlalu menuntut
anak
Orangtua layaknya manusia biasa yang menginginkan kesempurnaan.
Namun, jangan terlalu menuntut dan bersikap tidak realistis kepada anak.
Tuntutan ini kadang terlontar tanpa disadari, seperti ‘kamu kok malas’ atau
‘kamu harus berusaha lebih keras lagi karena kamu gagal mendapat nilai bagus’.
Hati-hati kata-kata itu dapat mempengaruhi konsep diri anak.
Menyajikan tulisan dengan
media lain
Beri kesempatan anak menulis dengan menggunakan media selain buku
seperti komputer atau mesin ketik. Dengan menggunakan komputer anak bisa
mengetahui kesalahannya dalam mengeja dengan menggunakan fasilitas korektor
ejaan. “Orangtua juga dituntut untuk lebih kreatif lagi daam mengajari anak
membaca, menulis dan berhitung,”ujar Evita.
Membangun rasa percaya diri
anak
Berikan pujian yang wajar bagi anak atas usahanya. Hindari untuk
menyepelekan atau melecehkannya karena hal itu akan membuatnya rendah diri
dan frustrasi. “Sebaiknya orangtua tidak mengatakan ‘payah kamu’ atau ‘oh
kamu tidak bisa’ karena akan membuat anak malas mencoba belajar,”ujar Lody
Paat, psikolog pendidikan luar biasa.
Latih anak untuk terus
menulis
Pilih metode yang sesuai dengan tingkat kemampuannya ketika menulis.
Berikan tugas yang menarik dan memang diminatinya. Bisa juga memintanya untuk
membuat gambar di tiap paragraf.
Temukan potensi Anak
Jangan terpaku pada kekurangannya, berikan anak kesempatan untuk
mengenal kemampuan lain selain membaca, menulis dan berhitung misalnya
melukis, seni atau desain. Atau perluas pergaulannya sehingga anak mudah
bersosialisasi. Hal ini juga dapat melatih kemampuan bahasanya.
Sesungguhya sampai sekarang masih belum diketahui secara pasti
penyebab Disleksia. Namun, sejumlah neurolog di AS berpendapat ini merupakan
gangguan pada saraf atau otak, sama sekali bukan karena anak itu bodoh, idiot
atau bahkan cacat jiwa seperti mayoritas pendapat orang. Walau tidak
menjalani pengobatan khusus, penderita disleksia tidak akan selamanya
menderita gangguan membaca dan menulis. Ketika pertumbuhan otak dan sel
otaknya sudah sempurna, ia akan dapat mengatasinya. Tentu didukung dengan
metode pelatihan yang tepat.
|
|
Sumber: Majalah Inspire Kids
|
DISLEKSIA
Disleksia atau reading disabilities adalah kelainan
neurologis yang menyebabkan kemampuan membaca anak di bawah kemampuan yang
semestinya, jika mempertimbangkan tingkat intelegensi, usia, dan pendidikannya.
PENYEBAB:
1.
Neurologis
Gangguan ini bukanlah suatu ketidakmampuan fisik,
semisal kesulitan visual. Namun murni karena kelainan neurologis, yakni
bagaimana otak mengolah dan memproses informasi yang sedang dibaca oleh anak
secara tidak tepat, terutama otak bagian kiri depan yang berhubungan dengan
kemampuan membaca dan menulis. Selain itu, ada perkembangan yang tidak
proporsional pada sistem magno-cellular, yang berhubungan
dengan kemampuan melihat benda bergerak (moving images) yang menyebabkan
ukurannya menjadi lebih kecil. Kondisi ini menyebabkan proses membaca jadi
lebih sulit karena otak harus membaca dan memahami secara cepat huruf-huruf dan
sejumlah kata yang berbeda yang terlihat secara bersamaan oleh mata ketika mata
men-scanning kata dan kalimat.
2.
Keturunan
Menurut penelitian, 80% penderita disleksia
mempunyai anggota keluarga dengan kesulitan belajar (learning
disabilities) dan 60% di antaranya kidal (left-handedness).
3.
Gangguan pendengaran sejak dini
Jika kesulitan pendengaran terjadi sejak dini dan
tak terdeteksi, maka otak yang sedang berkembang akan sulit menghubungkan bunyi
atau suara yang didengarnya dengan huruf atau kata yang dilihatnya.
4.
Kombinasi
Kombinasi dari berbagai faktor di atas menjadikan
kondisi anak dengan gangguan disleksia kian serius atau parah, hingga perlu
penanganan menyeluruh dan kontinu.
DISGRAFIA
Kelainan neurologis yang menyebabkan kemampuan
menulis anak di bawah kemampuan yang semestinya, jika mempertimbangkan tingkat
intelegensi, usia dan pendidikannya. Kondisi ini bisa meliputi hambatan secara
fisik, seperti tak dapat memegang pensil dengan mantap ataupun tulisan tangan
yang buruk.
PENYEBAB:
Seperti halnya disleksia, disgrafia juga
disebabkan faktor neurologis, yakni adanya gangguan pada otak bagian kiri depan
yang berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis. Anak mengalami kesulitan
dalam harmonisasi secara otomatis antara kemampuan mengingat dan menguasai
gerakan otot menulis huruf dan angka. Kesulitan ini tak berkaitan dengan
masalah kemampuan intelektual.
DISKALKULIA
Yaitu, ketidakmampuan kalkulasi secara matematis
atau istilah lainnya, math difficulty. Bentuk kesulitan yang
dialami anak adalah dalam berhitung (counting) dan mengalkulasi (calculating).
Anak juga kesulitan mengonseptualkan atau memahami proses-proses matematis.
PENYEBAB:
1.
Mempunyai kelemahan dalam proses visual (Visual Processing Weakness).
2. Masalah
dalam hal mengurutkan (Problem
Sequencing)
Anak yang mengalami kesulitan dalam mengurutkan
dan mengorganisasikan informasi secara detail, umumnya akan sulit mengingat
sebuah fakta, konsep ataupun formula untuk menyelesaikan kalkulasi matematis.
Jika problem ini yang menjadi penyebabnya, anak cenderung mengalami hambatan
pada aspek kemampuan lainnya, seperti membaca kode-kode dan mengeja serta apa
pun yang membutuhkan kemampuan mengingat hal-hal detail.
3. Fobia
matematika
Beberapa anak yang pernah mengalami trauma dengan
pelajaran matematika membuatnya kehilangan rasa percaya diri dan akhirnya
mengalami kesulitan dengan hal-hal yang mengandung unsur hitungan.
Belum ada tanggapan untuk "RUANGLINGKUP PISKOLOGI"
Post a Comment