Beranda · Al-Quran Hadits · Aqidah · Akhlak Ibadah/Fiqih Tarikh Serba-Serbi ·

Laman

hadits illegal loging


PENDAHULUAN
Illegal logging atau penebangan hutan secara liar merupakan perbuatan yang tidak baik dan tidak mendidik bagi seluruh umat manusia didunia, perbuatan ini jelas dilarang oleh agama islam, karen adampak dari perbuatan penebangan hutan akan mengakibatkan bencana alam, tidak seimbangnya ekosistem di dunia.
Untuk lebih jelasnya mengenai larangan-larang penebangan hutan di dalam agama islam maka pemakalah mejelaskannya melalui hadits tentang  larangan illegal loging dan beberapa aspek-aspek tarbawi yang terkandung didalam hadits tersebut.
Saya selaku pemakalah mohon maaaf yang sebesar-besarnya bila terjadi kesalahan dan kekurangan dalam membuat makalah yang saya buat ini. Adapun kritik yang membangun saya butuhkan dari pembaca yang budiman agar semua tentang makalah ini bisa sempurna terimakasih.
BAB I
PEMBAHASAN
A.      HADITS
عَنْ عَبْدِ الله بْنِ حُبْشِيِّ قَالَ قاَلَ رَسُوْ لُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوْبَ اللهُ رَأْسَهُ فِي النَّارِ) سُئِلَ أَبُوْ دَوُادْ عَنْ مَعْنَى هَذَا الْحَدِيْثِ فَقَالَ هَذَا الْحَدِيْثِ مُخْتَصَرِ يَعْنِي : مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً فِي فَلَا ةٍ يَسْتَظِلٌ بِهَا ابْنِ السَّبِيْلِ وَالْبَهَائِمَ عَبَثًا وَظُلْمًا بِغَيْرِحَقٌ يَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا صَوَّبَ اللهُ رَأْسَهُ فِي النَّارِ.
(رواه ابو داود فى السنن , كتاب الأدب , باب قطع السدر)
Terjemah : Dari Abdullah bin Hubsyiy r.a: Telah bersabda Rasulullah s.a.w: “barang siapa yang memotong pohon bidara, Allah jatuhkan kepalanya ke neraka.” Dari hadits tersebut Abu Daud mengartikan bahwa hadits itu termasuk hadits mukhtashor yakni : Barang siapa menebang pohon di padang tandus (yang lapang) dan menggantinya (pohon tersebut) orang yang berjalan  dan menyembunyikan atau membuat kelucuan (bermain-main) dan menganiayayanya tanpa menggunakan kebenaran, sesungguhnya disitu terdapat kerendahan (orang tersebut) di mata Allah, dan  kelak kepalanya akan di masukan ke dalam neraka.”
B.       MUFRODAT
Memotong
قَطَعَ
Pohon Bidara
سِدْرَةً
Allah Jatuhkan
صَوْبَ اللهُ
Kepalanya
رَأْسَهُ
Ke dalam Neraka
فِي النَّارِ

C.      BIOGRAFI PERAWI
Beliau bernama Imam Al Hafidz Al Faqih Sulaiman bin Imron bin Al Asy`ats bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Amr bin Imron -atau disebut dengan Amir- Al Azdy As Sajistaany, dan dilahirkan pada tahun 202 H/817M di kota Sajistaan, menurut kesepakatan referensi yang memuat biografi beliau,demikian juga didasarkan keterangan murid beliau yang bernama Abu Ubaid Al Ajury ketika beliau wafat,ketika berkata: aku telah mendengar dari Abi Daud ,beliau berkata : Aku dilahirkan pada tahun 202 H / 817 M (Siyar A`lam An Nubala` 13/204)
Perkembangan Keilmuannya
Tidak didapatkan berita atau keterangan tentang masa kecil beliau kecuali keterangan bahwa keluarganya memiliki perhatian yang sangat besar dalam hadits-hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasalam, dan ini sangat mempengaruhi perkembangan keilmuan beliau di masa depannya.Keluarga beliau adalah keluarga yang terdidik dalam kecintaan terhadap hadits-hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasalam dan ilmu-ilmunya. Bapak beliau yaitu Al Asy`ats bin Ishaq adalah seorang perawi hadits yang meriwayatkan hadits dari Hamad bin Zaid, dan demikian juga saudaranya Muhammad bin Al Asy`ats termasuk seorang yang menekuni dan menuntut hadits dan ilmu-ilmunya juga merupakan teman perjalanan beliau dalam menuntut hadits dari para ulama ahlil hadits. Maka berkembanglah Abu Daud dengan motivasi dan semangat yang tinggi serta kecintaan beliau sejak kecil terhadap ilmu-ilmu hadits, sehingga beliau mengadakan perjalanan (Rihlah)dalam mencari ilmu sebelum genap berusia 18 tahun.Beliau memulai perjalanannya ke Baghdad (Iraq) pada tahun 220 H/835M dan menemui kematian Imam Affan bin Muslim, sebagaimana yang beliau katakan : “Aku menyaksikan jenazahnya dan mensholatkannya” (Tarikh Al Baghdady 9/56). Walaupun sebelumnya beliau telah pergi ke negeri-negeri tetangga Sajistaan, seperti khurasan, Baghlan, Harron, Roi dan Naisabur.
Riwayat Perjalanan
1.  Tahun 221H/836M beliau datang ke Kufah dan mengambil hadits dari Al Hafidz Al Hasan bin Robi` Al Bajaly dan Al Hafidz Ahmad bin Abdillah bin Yunus Al Yarbu`iy (mereka berdua termasuk dalam guru-gurunya Imam Muslim).
2.  Sebelumnya beliau berkelana ke makkah dan meriwayatkan hadits dari Abdulloh bin Maslamah Al Qo`naby (Wafat tahun 221 H/836M).
3.  Di Damaskus mengambil hadits dari Ishaq bin Ibrohim Al Faradisy dan Hisyam bin Ammaar.
4.  Tahun 224 H/839M pergi ke Himshi dan mengambil hadits dari Imam Hayawah bin Syuraih Al Himshy.
5.  Mengambil hadits dari Ibnu Ja`far An Nafiry di Harron
6.  Di Halab mengambil hadits dari Abu Taubah Robi` bin Nafi` Al Halab
7.  Di Mesir mengambil hadits dari Ahmad bin Sholeh Ath Thobary, kemudian beliau tidak berhenti mencari ilmu di negeri-negeri tersebut bahkan sering sekali bepergian ke Baghdad untuk menemui Imam Ahmad bin Hambal disana dan menerima serta menimba ilmu darinya.Walaupun demikian beliaupun mendengar dan menerima ilmu dari ulama-ulama Bashroh, seperti: Abu Salamah At Tabudzaky, Abul Walid Ath Thoyalisy dan yang lain-lainnya. Karena itulah beliau menjadi seorang imam ahlil hadits yang terkenal banyak berkelana dalam mencari ilmu.
Guru-Guru Beliau.
Guru-guru beliau sangat banyak,karena beliau menuntut ilmu sejak kecil dan sering bepergian kepenjuru negeri-negeri dalam menuntut ilmu, sampai-sampai Abu Ali Al Ghosaany mengarang sebuah buku yang menyebut nama-nama guru beliau dan sampai mencapai 300 orang,demikian juga Imam Al Mizy menyebut dalam kitabnya Tahdzibul Kamal 177 guru beliau.
Dan diantara mereka yang cukup terkenal adalah : Imam Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Ibrohim bin Rahuyah, Ali bin Al Madiny, Yahya bin Ma`in, Abu Bakr ibnu Abi Syaibah, Muhammad bin Yahya Adz Dzuhly, Abu Taubah Robi` bin Nafi` Al Halaby, Abdulloh bin Maslamah Al Qo`naby, Abu Khoitsamah Zuhair bin Harb, Ahmad bin Sholeh Al Mishry, Hayuwah bin syuraih, Abu Mu`awiyah Muhammad bin Hazim Adh Dhorir, Abu Robi` Sulaiman bin
Daud Az Zahrony, Qutaibah bin Sa`di bin Jamil Al Baghlany. (LihatTahdzibul Kamal 11/358-359).Murid-Murid Beliau.Demikian pula murid-murid beliau cukup banyak dan saya cukupkan dengan menyebut sebagian dari mereka disini, yaitu : Abu `Isa At Tirmidzy, An Nasa`i, Abu Ubaid Al Ajury, Abu Thoyib Ahmad bin Ibrohim Al Baghdady (Perawi sunan Abi Daud dari beliau), Abu `Amr Ahmad bin Ali Al Bashry (perawi kitab sunan dari beliau), Abu Bakr Ahmad bin Muhammad Al Khollal Al Faqih, Isma`il bin Muhammad Ash Shofar, Abu Bakr bin Abi Daud (anak beliau), Zakariya bin Yahya As Saajy, Abu Bakr Ibnu Abi Dunya, Ahmad bin Sulaiman An Najjar (perawi kitab Nasikh wal Mansukh dari beliau), Ali bin Hasan bin Al `Abd Al Anshory (perawi sunsn dari beliau), Muhammad bin Bakr bin Daasah At Tammaar (perawi sunan dari beliau), Abu `Ali Muhammad bin Ahmad Al Lu`lu`y (perawi sunan dari beliau), Muhammad bin Ahmad bin Ya`qub Al Matutsy Al Bashry (perawi kitab Al Qadar dari beliau). (lihat Siyar A`lam An Nubala` 13/206 dan Tahdzibul Kamal 11/360).
Aqidah Beliau.Beliau adalah imam dari imam-imam ahlisunnah wal jamaah yang hidup di Bashroh kota berkembangnya kelompok Qadariyah, demikian juga berkembang disana pemikiran Khowarij, Mu`tazilah, Murji`ah dan Syi`ah Rafidhoh serta Jahmiyah dan lain-lainnya, tetapi walaupun demikian beliau tetap dalam keistiqomahan diatas Sunnah dan beliaupun membantah Qadariyah dengan kitabnya Al Qadar, demikian pula bantahan beliau atas Khowarij dalam kitabnya Akhbar Al Khawarij, dan juga membantah terhadap pemahaman yang menyimpang dari kemurnian ajaran islam yang telah disampaikan olah Rasulullah shalallahu alaihi wasalam. Maka tentang hal itu bisa dilihat pada kitabnya As Sunan yang terdapat padanya bantahan-bantahan beliau terhadap Jahmiyah, Murji`ah dan Mu`tazilah.
Wafatnya Beliau.Beliau wafat dikota Bashroh tanggal 16 Syawal 275 H (20 Februari 889) dan disholatkan janazahnya oleh Abbas bin Abdul Wahid Al Haasyimy.

D.      KETERANGAN HADITS
Hadits diatas menjelaskan tentang penebangan liar atau illegal loging yang mana perbuatan tersebut akan mendapat kehinaan dengan  kepala seseorang  yang menebang pohon tanpa mempedulikan kelestarian pohon itu akan di masukan ke dalam neraka. Adapun pohon yang dimaksud adalah pohon bidara sebuah pohon yang meneduhkan di daerah padang pasir sehingga orang yang menebangnya baik untuk lahan bermain dan yang lainnya akan di masukan ke dalam neraka kepalanya.

E.       ASPEK TARBAWI
1.      Pendidikan  lingkungan pada jenjang dan taraf usia dini perlu diajarkan agar terjaga keseimbangan alam.
2.      Pohon merupakan tempat untuk melindungi kita dari bencana yang ditimbulkan oleh alam seperti bancir, longsor dan lainnya
3.      Pendidikan lingkungan sangat perlu ditekankan agar kita sebagai khalifah di bumi bisa memakmurkan bumi sesuai perintah Allah.
4.      Tujuan Pendidikan lingkungan hidup adalah mewujudkan masyarakat yang sadar akan lingkungan sehingga kerusakan lingkungan bisa di kurangi.
5.      Pendidikan keluarga juga sangat berpengaruh terhadap pendidikan lingkungan hidup, pendidikan lingkungan hidup hendaknya ditanamkan sejak dini mulai dari keluarga,lingkungan, masyarakat dan dunia.

PENUTUP
Dalam penjelasan hadits diatas kita bisa menarik kesimpulan bahwa, pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan dibumi yang kita tempati, Dalam kehidupan ini segala sesuatu yang kita lakukan perlu diketahui ilmunya agar semua yang dilakukan tidak sia-sia nantinya.Begitupun terhadap alam jika kita ingin alam mencintai kita,maka kitapun harus mencari tahu bagaimana ilmu untuk mencitai alam.Sebenarnya ilmu semacam ini hendaknya diperkenalkan sejak usia dini agar timbul rasa untuk mencintai alam sedini mungkin
Tujuan Pendidikan lingkungan hidup adalah mewujudkan masyarakat yang sadar akan lingkungan sehingga kerusakan lingkungan bisa di kurangi.
Pendidikan Lingkungan hidup bisa dimulai dari komunitas yang paling kecil yakni keluarga. Keluarga mempunyai peranan penting dalam memberikan pendidikan lingkungan kepada anak-anaknya. Bentuk yang paling kongkrit dari pendidikan dalam keluarga adalah mengajarkan anak-anak untuk membuaang sampai pada tempat sampah yang sudah disediakan.
Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan lingkungan karena keluarga merupakan ujung tombak pendidikan bagi anak-anaknya. Bila sejak dini anak-anak sudah diajarkan dengan pemahaman yang baik akan lingkungan hidup maka pendidikan lingkungan hidup sekolah akan berjalan dengan baik dan mendapat sambutan yang baik dari anak didik dan Pada akhirnya kerusakan dan permasalahan lingkungan yang terjadi akibat aktifitas kehidupan sehari-hari dapat dikurangi atau bahkan dihindarkan. Sehingga sumber daya alam yang ada bisa terus dilestarikan dan akhirnya bisa dinikmati dan diwariskan kepada generasi mendatang

Artikel keren lainnya:

Adab Menerima Tamu dalam Islam



1.      Bertamu
Bertamu adalah berkunjung ke tempat tinggal orang lain. Kunjungan dilaksanakan karena ada sesuatu kepentingan, adakalanya untuk menengok keluarga, menjalin persaudaraan, meminang anak, bisnis dll. Bertamu dengan maksud yang baik, ikhlas karena Allah untuk memperoleh ridho-Nya termasuk silaturahmi yang diajurkan dalam Islam. Nabi bersabda:
مَنْ سَرَّهُ اَنْيَبْسُطُ لَهُ فِيْ رِزْقِهِ وَاَنْ يُنْسَا الَهُ فِيْ اَثره فليصل رحمه (رواه البخار و مسلم)
Artinya:
Barangsiapa ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah bersilaturahmi
 (H.R. Bukhari dan Muslim).

Bila bersilaturahmi sudah erat ternyata banyak manfaat yang diperoleh, misalnya dapat bertukar informasi, berbagi pengalaman, memperbanyak rizki serta memanjangkan umur, walaupun sudah wafat tapi masih banyak orang yang mengenang kebaikannya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ بُيُوتِكُمۡ حَتَّىٰ تَسۡتَأۡنِسُواْ وَتُسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَهۡلِهَاۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ٢٧ فَإِن لَّمۡ تَجِدُواْ فِيهَآ أَحَدٗا فَلَا تَدۡخُلُوهَا حَتَّىٰ يُؤۡذَنَ لَكُمۡۖ وَإِن قِيلَ لَكُمُ ٱرۡجِعُواْ فَٱرۡجِعُواْۖ هُوَ أَزۡكَىٰ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ عَلِيمٞ ٢٨ لَّيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ أَن تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ مَسۡكُونَةٖ فِيهَا مَتَٰعٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا تَكۡتُمُونَ ٢٩
27. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat
28. Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan
29. Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan

Islam sangat mengatur tatakrama ialah:
Bertamu dengan berbusana sopan, menutup aurat, dan berpenampilan islami. Bermaksud baik yang diridhai Allah, missal: menanyakan alamat, meminjam telepon, mengajak berbisnis, dll. Mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Bila salam telah diucapkan sampai tiga kali dan tidak ada jawaban dari tuan rumah, maka pulanglah.
إِذَاسَلَّمْتَ ثَلاَ ثًا فَلَمْ يُؤْ ذَنْ لَكَ فَارجِعْ (متفق عليه)
Artinya :“Apabila kamu bertamu lalu minta izin (mengetuk pintu atau mengucapkan salam) sampai tiga kali dan tidak ditemui (tidak dibukakan pintu), maka hendaklah kamu pulang. (H.R Mutafaq ‘Alaih).

Bila perlu menunggu, duduklah dengan sopan dan rapi. Bersikap dan bertutur kata yang sopan sehingga tuan rumah merasa dihormati. Jika disajikan makan dan minuman hendaknya dimakan/diminum. Jangan sekali-kali mencela hidangan yang disajikan, lebih baik memujinya. Bertamu hendaknya memilih waktu yang senggang, waktu yang tepat dan cocok untuk bertamu. Segera kembali kalau sudah selesai, dan berpamitan kepada tuan rumah, jika seandainya dalam bertamu harus menginap, maka usahakan jangan sampai lebih dari tiga hari.
وَالضِياَفَةَ ثَلاَثَةَ اَيَّام (رواه البخارو مسلم)
Artinya: “Bertamu itu selama tiga hari

Artikel keren lainnya:

PERANG SALIB

BAB I
                                                  PENDAHULUAN                      

  1. Latar Belakang
Perjumpaan Islam dan Kristen bukan dimulai sejak perang salib. Jauh sebelumnya bahkan pada masa Nabi Muhammad SAW telah dicatat perjumpaan tersebut. Perluasan kekuasaan Islam dengan cara militer (perang) sampai ke daerah-daerah Kristen seperti pendudukan Spanyol bagian selatan dan daerah-daerah di Italia, Sicilia atau Perancis.
Menciptakan perdamaian diantara pluralisme agama dan budaya, memang merupakan cita-cita bersama. Karena itu, konsep toleransi sebagai elemen penting dalam masyarakat ideal, selalu menjadi prinsip kebersamaan. Meskipun demikian, fanatisme berlebihan dan loyalitas mendalam terhadap agamanya, sering membuat mati hati umat manusia hingga melupakan pentingnya kebersamaan di antara perbedaan.
Hal inilah yang melanda pemeluk agama Kristen dengan loyalitas tinggi pada Paus dan kaum muslim yang menjadikan semangat jihad sebagai pandangan hidup, lalu berada pada posisi saing yang sama dalam merebut hegemoni. Konsekwensinya, konflik berdasarkan kepentingan dan warisan sejarah pun tidak dapat dihindari yang dalam sejarah dikenal sebagai Perang Salib.

  1. Rumusan Masalah
Adapun masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
  1. Bagaimana timbulnya perang salib?
  2. Apa sebab-sebab terjadinya perang salib dan bagaimanaa periodisasinya?
  3. Bagaimana jalannya perang salib dan apa pengaruhnya terhadap dunia Islam?




BAB II
PEMBAHASAN

A.    TIMBULNYA PERANG SALIB
Perang Salib awalnya disebabkan adanya persaingan pengaruh antara Islam dan Kristen. Perang ini terjadi karena sejumlah kota dan tempat suci Kristen diduduki oleh Islam sejak 632, seperti di Suriah, Asia Kecil, Spanyol dan Sicilia.
Dilihat dari sudut lain faktor-faktor yang turut menimbulkan perang Salib ialah keinginan mengembara dan bakat kemiliteran bangsa Teutonia yang mengubah peta Eropa sejak mereka memasuki lembaran sejarah: penghancuran Gereja Suci dilakukan oleh seorang khalifah Fathimiyah tahun 1009. Akan tetapi, yang merupakan penyebab langsung terjadinya perang Salib ialah permintaan Kaisar Alexius Comnenus tahun 1095 kepada Paus Urbanus II. Kaisar dari Bizantium itu meminta bantuan dari Romawi, karena daerah-daerahnya yang terserak sampai ke pesisir Laut Marmora ditindasbinasakan oleh bani Saljuk. Bahkan kota Konstantinopel pusat kekuasaan diancam direbut oleh kaum muslimin.
Menurut Karen Armstrong, sebab utama Perang Salib adalah pendudukan Saljuk di Syiria yang sebelumnya dikuasai daulah Fathimiyah pada tahun 1070. Selama pertempuran itu, Saljuk juga terlibat konflik dengan Kekaisaran Bizantium yang sedang lemah dan perbatasannya tidak memiliki pertahanan yang cukup kuat. Ketika pasukan salib memasuki perbatasan Anatolia, mereka mengalahkan Bizantium di perang Manzikart pada tahn 1071. Tidak berdaya menghentikan laju orang Turki, Kaisar Bizantium Alexius Comnenus meminta bantuan Paus pada tahun 1091. Dan jawabannya, Paus Urbanus II menyatakan Perng Salib Pertama.
Perang Salib berlangsung 200 tahun lamanya, dari mulai 1095-1293 M dengan 8 kali penyerbuan. Perang tersebut bertujuan untuk merebut kota suci Palestina dari tangan kaum muslimin.[1]

B.     SEBAB-SEBAB PERANG SALIB
Adapun 3 faktor utama yang menyebabkan terjadinya perang salib, yaitu:
1.      Faktor Agama
Sejak dinasti Saljuk merebut Baitul Maqdis dari tangan dinasti Fathimiyah pada tahun 1070 M, pihak Kristen merasa tidak bebas lagi menunaikan ibadah ke sana karena penguasa Saljuk menetapkan sejumlah peraturan yang dianggap mempersulit mereka yang hendak melaksanakan ibadah ke Baitul Maqdis. Bahkan mereka yang pulang berziarah sering mengeluh karena mendapat perlakuan jelek dari orang Saljuk yang fanatik. Umat Kristen merasa perlakuan para pengauasa dinasti Saljuk sangat berbeda dari para pengusa Islam lainnya yang pernah menguasai kawasan itu sebelumnya.[2]

2.      Faktor Politik
Selain faktor agama, faktor politik juga cukup kental sebagai penyebab terjadinya perang Salib ini. Yaitu terutama sejak Dinasti Saljuk dapat meluaskan wilayah kekuasaannya sampai ke wilayah Byzantium setelah pertempuran Manzikart tahun 1071 M telah mengancam kota Konstantinopel sendiri, sehingga Kaisar Alexius I terpaksa meminta bantuan Paus Urbanus II dan raja-raja Eropa Barat untuk melakukan peperangan yang kemudian mereka sebut perang suci itu.
Paus Urbanus II dalam pidatonya di Clermont tahun 1095 ia meyerukan kepada umat Kristen melakukan perang suci menentang aggresor muslim. Himbauannya ini kemungkinan dilatarbelakangi oleh berbagai keberhasilan Kristen di Spanyol yang mencapai puncaknya dengan direbutnya Toledo dan juga mengenai penaklukan Kristen di Sicilia. Karena itu supaya Paus tersebut mendapat sambutan yang besar dari masyarakat Kristen Eropa.
Pada sisi lain, di tubuh Dinasti Saljuk juga terjadi perpecahan di samping juga adanya bahaya kelaparan dan wabah penyakit pada masa khalifah al-Mustanshir, turut menguntungkan kaum Salib mendapatkan kesuksesannya merebut Bait al-Maqdis, tanah suci mereka.

3.    Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi dimaksud adalah bahwa para pedagang besar yang berada di pantai timur Laut Tengah, terutama yang berada di kota Veneria, Genoa dan Pisa, berambisi untuk menguasai sejumlah kota dagang di sepanjang pantai timur dan selatan Laut Tengah untuk memperluas jaringan dagang mereka. Untuk itu mereka rela menanggung sebagian dana Perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan itu sebagai pusat perdagangan mereka.
Selain itu juga ada kelas-kelas sosial di tengah masyarakat Eropa. Stratifikasi sosial masyarakat Eropa ketika itu terdiri dari tiga kelompok, yaitu kaum gereja, kaum bangsawan serta kesatria, dan rakyat jelata. Meskipun kelompok terakhir ini merupakan mayoritas dalam masyarakat, tetapi mereka menempati kelas yang paling rendah. Kehidupan mereka sangat tertindas dan terhina. Mereka harus tunduk kepada para tuan tanah yang sering bertindak semena-mena, di samping harus memikul berbagai beban pajak dan kewajiban lainnya.
Dalam peperangan Salib ini, mayoritas masyarakat Eropa ikut ambil bagian di dalamnya. Segenap elemen masyarakat di banyak negara, baik raja, bangsawan, petani dan rakyat jelata mempunyai pandangan yang tidak berbeda terhadap perang Salib. Dengan kata lain, perang Salib bagi bangsa-bangsa Eropa merupakan perekat kesatuan moral.

C.    PERIODISASI PERANG SALIB
1.      Periode Pertama (1096-1144 M).
Pada periode pertama ini disebut periode penaklukan yang dilakukan oleh pasukan Salib terhadap kekuasaan Islam, Kaisar Alexius I (Byzantium)  bekerja sama dengan Paus Urbanus untuk membangkitkan semangat umat Kristen. Paus kemudian berpidato  di Clermont, Perancis tahun 1095 M. Pidato ini merupakan pidato yang paling berkesan sepanjang sejarah yang telah dibuat paus. Pidato ini bergema ke seluruh penjuru Eropa yang mengakibatkan seluruh negara Kristen mempersiapkan berbagai bantuan untuk mengadakan penyerbuan. Gerakan ini merupakan gerakan spontanitas yang diikuti oleh berbagai kalangan masyarakat.
Menurut Hasan Ibrahim Hasan mengatakan bahwa gerakan ini justru terdiri atas umumnya rakyat jelata, tak lebih dari sekedar gerombolan yang tak mempunyai pengalaman berperang, tidak disiplin, dan tanpa memiliki persiapan.[3]
Pasca kegagalan total pasukan salib pimpinan Boutros dan tewasnya seluruh tentaranya, keluarlah pasukan salib baru ayang jauh lebih besar yang berasal dari Eropa. Ikut di dalamnya, para gubernur pasukan kavaleri dan panglima perang. Motif mereka jelas, yaitu menyelamatkan Baitul Maqdis, tempat haji orang-orang kristen dan tempat suci mereka.
Itu terjadi pada tahun 491 H/ 1097 M. Pada perang salib kali ini, pasukan salib menuai sukses besar disebabkan kelemahan negara Saljuk dan ketidakmampuannya dalam menangkal serangan pasukan salib, lalu pasukan salib mendirikan kerajaan-kerajaan Kristen diantaranya Raha(Edessa),Antakiayah, Armenia, Tarablus dan Baitul Maqdis setelah tahun 492 H/1098 M.[4]
Selanjutnya gelombang pasukan Salib berikutnya sudah merupakan pasukan yang disiplin. Pasukan ini dipimpin oleh Godfrey of Bouilon. Mereka berhasil menduduki Yerussalempada tanggal 7 Juni 1099. Pasukan Godfrey ini melakukan pembantaian besar-besaran selama lebih kurang satu minggu tehadap umat Islam tanpa membedakan laki-laki dan perempuan, anak-anak dan dewasa. Selain itu mereka membumihanguskan berbagai bangunan umat Islam. Sebelum pasukan ini menduduki Bait al-Maqdis mereka terlebih dahulu merebut Anatolia Selatan, daerah Tarsus, Antiokia, Aleppo dan Edessa. Di samping itu, mereka juga berhasil merebut Tripoli, Syiria dan ‘Uka. Bisa dikatakan bahwa pasukan Godfrey ini sangat sukses dalam ekspedisinya.
Dengan kemenangan pasukan Salib ini maka kemudian orang-orang Kristen dapat membuat kerajaan-kerajaan di wilayah Timur. Kerajaan-kerajaan tersebut antara lain kerajaan Bait al-Maqdis (1109) di bawah kekuasaan Raymond.

2.      Periode Kedua (1144-1192 M)
Dalam periode pertama beberapa wilayah kekuasaan Islam jatuh ke tangan kaum Salib yang mengakibatkan bangkitnya kesadaran umat Islam untuk menghimpun kekuatan guna menghadapi mereka. Di bawah komando Imadudin Zanki, (gubernur Mosul), pasukan Islam bergerak maju membendung serangan pasukan Salib. Bahkan mereka berhasil kembali merebut Aleppo dan Edessa pada tahun 1144 M. Setelah Imaduddin wafat tahun 1146 M posisinya digantikan oleh putranya Nuruddin Zanki. Di bawah kepemimpinannya, ia meneruskan cita-cita ayahnya untuk membebaskan nergara-negara Islam di Timur dari cengkeraman kaum Salib. Dalam berbagai serangan balik yang dilakukannya, ia berhasil membebaskan Damaskus pada tahun 1147 M, Antiokia tahun 1149 M, dan Mesir tahun 1169 M. Baik Immadudin Zanki maupun Nuruddin Zanki memiliki peran penting dalam mengusir pasukan Salib
Selain kedua nama tersebut, pahlawan Islam terkenal yang sukses dalam melawan pasukan Salib adalah Shalahudin al-Ayyubi. Shalahuddin sukses mengalahkan pasukannya Syawar dan pasukan Salib. Bahkan berhasil membebaskan Bait al-Maqdis kembali pada tanggal 2 Oktober 1187 M. Shalahuddin mengobarkan perang suci diberbagai tempat yang akhirnya dapat mengalahkan kaum Salib di sebelah utara Palestina (al-Ladhiqiyah, Jabalah dan Sihyaun) serta selatan  (al-Syaqif Arnun, Kaukab, Safad).
Keberhasilan Shalahuddin dalam mengalahkan pasukan Salib itu menjadikan kaum Kristen menggalang kekuatan kembali untuk menyerang pasukan Islam. Kemudian mereka mengirimkan ekspedisi yang lebih kuat yang dipimpin oleh raja Eropa yang besar, yaitu Frederick I (Barbarossa, Kaisar Jerman), Richard I (The Lion Heart, Raja Inggris), dan Philip II (Augustus, Raja Perancis). Ekspedisi perang Salib ini dibagi beberapa divisi, sebagian menempuh jalur jalan darat dan sebagian lagi menempuh jalur laut. Frederick yang memimpin divisi jalur darat ini tewas ketika menyerangi sungai Armenia, dekat kota Ruba (Edessa). Sebagian tentaranya kembali, kecuali beberapa orang yang masih hidup melanjutkan perjalanannya. Dua divisi lainnya yang menempuh jalur laut bertemu di Sicilia. Mereka berada di Sicilia hingga musim dingin berlalu. Richard menuju Ciprus dan mendudukinya di sana. Sedangkan Philip langsung ke Akka, dan pasukannya berhadapan dengan pasukan Shalahuddin, sehingga terjadi pertempuran sengit. Namun, dengan pasukan Shalahuddin memilih mundur dan mengambil langkah untuk mempertahankan Mesir. Dalam keadaan demikian, pihak Richard dan pihak Shalahuddin sepakat untuk melakukan genjatan senjata dan membuat perjanjian. Perjanjian ini disebut dengan Shulh al-Ramlah. Inti dari perjanjian damai itu adalah bahwa umat Kristen yang akan berziarah ke Bait al-Maqdis akan terjamin keamanannya. Begitu juga dengan daerah pesisir utara, Akka dan Jaita berada di bawah kekuasaan tentara Salib.

3.      Periode Ketiga (1193-1291)
Periode ini disebut sebagai periode perang kecil-kecilan, karena yang muncul ke permukaan disebabkan oleh suasana perang lebih banyak dilatarbelakangi oleh ambisi kekuasaan dan sesuatu yang bersifat materi, bukan motivasi agama. Tujuan utama mereka yang semula untuk menaklukan bait al-Maqdis seolah-olah terlupakan. Di antaranya adalah ketika pasukan salib yang dipersiapkan menyerang Mesir (1202-1204 M) tetapi ternyata mereka membelokkan haluan menuju Konstantinopel. Kota ini direbut sambil melakukan berbagai penjarahan terhadap penduduknya.
Kemudian upaya untuk merebut kembali Bait al-Maqdis dengan menguasai dua pusat penting Mesir dan Asia Kecil, yang dilakukan melalui pendaratan Raja Louis dan Perancis di Mesir tahun 1249 dan ekspedisinya ke Tunisia tahun 1270, yang ternyata dapat diptahkan oleh pihak muslim dengan mudah. Dengan demikian, meskipun perang salib telah berakhir namun usaha mereka untuk menguasai Bait al-Maqdis tidak membuahkan hasil. Dan peperangan Salib ini dianggap selesai secara total pada tahun 1291, yang berarti bahwa peperangan salib ini berlangsung selama dua abad kurang empat tahun, dari taun 1095-1291 M.[5]



D.    JALANNYA PERANG SALIB
Perang salib yang berlangsung dalam kurun waktu hampir dua abad terjadi dengan serangkaian peperangan.
Pada tahun 490H/1096M, pasukan salib yang dipimpin oleh komandan Walter dapat ditundukkan oleh kekuatan Kristen Bulgaria. Kemudian Peter yang mengomando kelompok kedua pasukan salib bergerak melalui Hongaria dan Bulgaria. Pasukan ini berhasil menghancurkan setiap kekuatan yang menghalanginya.
Setahun kemudian yakni pada tahun 491H/1097M, pasukan Kristen di bawah komando Goldfrey bergerak dari Konstantinopel menyeberangi selat Bosporus dan berhasil menaklukan Antioch setelah mengepungnya selama 9 bulan.
Setelah menundukkan Antioch, pasukan salib bergerak ke Ma’arrat An-Nu’man, sebuah kota termegah di Syria. Pasukan salib selanjutnya menuju ke Yerussalem dan dapat menaklukannya dengan mudah. Ribuan jiwa kaum muslimin menjadi korban pembantaian dalam penaklukan kota Yerussalem ini. Goldfrey selanjutnya menjabat sebagai penguasa atas negeri Yerussalem. Pada tahun 503H, 1109M, pasukan salib menaklukan kota Tripoli. Selain membantai masyarkat Tripoli, mereka juga membakar perpustakaan, perguruan dan sarana industri hingga menjadi abu.
Selama terjadi peperangan tersebut, kesultanan Saljuk sedang mengalami kemunduran. Perselisihan antara sultan-sultan Saljuk memudahkan pasukan salib merebut wilayah kekuasaan Islam.
Sepeninggal Sultan Mahmud, tampilah seorang perwira muslim yang cakap dan gagah pemberani. Ia adalah Imaduddin Zanki seorang anak dari pejabat tinggi Sultan Malik Syah. Atas kecakapannya, ia menerima kepercayaan berkuasa atas kota Wasit dari Sultan Mahmud.
Masyarakat Aleppo dan Hammah yang menderita di bawah kekuasaan perang salib berhasil diselamatkan oleh Imaduddin Zanki setelah berhasil mengalahkan pasukan salib. Tahun berikutnya ia juga berhasil mengusir pasukan salib dari Al-Asyarib. Satu persatu Zanki meraih kemenangan atas pasukan salib, hingga ia merebut wilayah Eddesa pada tahun 539H/1144M.
Penaklukan Eddesa merupakan keberhasilan Zanki yang terhebat. Dalam penaklukan Eddesa, Zanki tidak berlaku kejam terhadap penduduk sebagaimana tindakan pasukan salib. Dalam perjalanan penaklukan Kalat Jabir, Zanki terbunuh oleh tentaranya sendiri.
Kepemimpinan Imaduddin Zanki digantikan oleh putranya yang bernama Nuruddin Mahmud, ia bukan hanya seorang prajurit yang cakap, sekaligus sebagai ahli hukum, dan seorang ilmuwan. Pada saat itu umat Kristen Eddesa dengan bantuan pasukan Perancis berhasil mengalahkan pasukan muslim yang bertugas di kota inidan sekaligus membantainya. Nuruddin segera mengerahkan pasukannya ke Eddesa dan berhasil merebutnya kembali.
Dengan jatuhnya kembali kota Eddesa oleh pasukan musim, tokoh-tokoh Kristen Eropa dilanda rasa cemas. St. Bernard segera menyerukan kembali Perang Salib melawan kekuatan kaum muslimin. Seruan tersebut membuka gerakan Perang Salib kedua dalam sejarah Eropa.
Nuruddin segera mulai memainkan peran baru sebagai sang penakluk. Tidak lama setelah mengalahkan pasukan salib, ia berhasi menduduki benteng Areima, merebut wilayah perbatasan Apamea pada tahun 544H/1149M, dan kota Joscelin.
Pada tahun 563H/1167M Syirkuh berusaha datang kembali ke Mesir, Shawar pun segera meminta bantuan raja Yerussalem yang bernama Amauri. Gabungan pasukan Shawar dan Amauri ditaklukan secara mutlak oleh pasukan Syirkuh dalam peprangan di Balbain. Atas permintaan Khalifah Mesir Syirkuh diperintahkan oleh Nuruddin agar segera menuju ke Mesir. Masyarakat Mesir dan khaifah menyambut hangat kedatangan Syirkuh dan pasukannya dan akhirya Syirkuh ditunjuk sebagai Perdana Menteri. Dua bulan sesudah penunjukkan ini, Syirkuh meninggal dunia, kedudukannya digantikan oleh kemenakannya yang bernama Shalahuddin.
Shlahuddin putra Najamuddin Ayyub, lahir di Takrit pada tahun 432H/1137M. Ayahnya adalah pejabat kepercayaan pada masa Imaduddin Zanki dan Nuruddin. Shalahuddin seorang letnan pada masa Nuruddin, dan telah berhasil dan mengonsolidasikan masyarakat Mesir, Nubia, Hijaz, dan Yaman. Setelah beberapa lama tampilan Shalahuddin berjuang mengamankan Damaskus dari pendudukan pasukan salib.
Selanjutnya Shalahuddin memusatkan perhatiannya untuk menyerang Yerussalem, di mana ribuan rakyat muslim dibantai oleh pasukan salib Kristen. Shalahuddin bersumpah untuk membalas dendam atas pembantaian ribuan warga muslim. Setelah beberapa lama terjadi pengepungan, pasukan salib kehilangan semangat tempurnya dan memohon kemurahan hati sang Sultan. Jiwa sang Sultan terlalu lembut dan penyayang untuk melaksanakan sumpah dendamnya, sehingga Sultan pun memaafkan mereka. Bangsa Romawi dan Syiria Kristen diberi hidup dan diizinkan tinggal di Yerussalem dengan hak-hak warga negara secara penuh. Bangsa Perancis dan bangsa-bangsa latin diberi hak meninggalkan Palestina dengan membayar uang tebusan 10 dinar untuk setiap orang dewasa, dan 1 dinar untuk setiap anak-anak. Jika tidak bersedia mereka dijadikan budak.
Pada sisi lainnya Shalahuddin juga membina ikatan persaudaraan antara warga Kristen dengan warga muslim, dengan memberikan hak-hak orang Kristen sama persis dengan hak-hak warga muslim di Yerussalem. Sikap Shalahuddin demikian ini membuat umat Kristen di negeri-negeri lain ingin sekali tinggal di wilayah kekuasan sang Sultan ini.
Jatuhnya Yerussalem dalam kekuasaan Shalahuddin menimbulkan keprihatinan besar kalangan tokoh-tokoh Kristen. Seluruh penguasa negeri Kristen di Eropa berusaha kembali menggerakkan pasukan salib. Perancis mengerahkan seluruh pasukannya baik pasukan darat maupun pasukan laut. Bahkan wanita-wanita Kristen turut ambil bagian dalam peperangan ini. Setelah seluruh kekuatan salib berkumpul di Tyre, mereka segera bergerak mengepung Acre.
Pada tanggal 14 September 1189M. Shalahuddin terdesak oleh pasukan salib, namun kemenakannya yang bernama Taqiyuddin berhasil mengusir pasukan salib dari posisinya dan mengembalikan hubungan dengan Acre. Namun, setelah mendesak separuh kekuatan Perancis, pasukan muslim kembali dilemahkan pada hari berikutnya. Kota Acre kembali terkepung selama hampir dua tahun. Sultan Shalahuddin merasa kepayahan menghadapi peperangan ini, sementara itu pasukan muslim dilanda wabah penyakit dan kelaparan. Ia membantai pasukan muslim secara kejam.
Setelah berhasil menundukkan Acre, pasukan salib bergerak menuju Ascalon dipimpin Jenderal Richard. Bersamaan dengan itu Shalahuddin sedang mengarahkan pasukannya dan tiba di Ascolon lebih awal. Ketika tiba di Ascolon, Richard mendapatkan kota ini telah dikuasai oleh pasukan Shalahuddin. Merasa tidak berdaya mengepung kota ini, Richard mengirimkan delegasi perdamaian menghadap Shalahuddin. Setelah berlangsung perdebatan yang kritis, akhirnya sang sultan bersedia menerima tawaran perdamaian tersebut. Jadi perjanjian damai yang menghasilakan kesepakatan di atas mengakhiri Perang Salib ketiga.
Pada tahun 1193 M yakni enam bulan setelah tercapainya perdamaian Shalahuddin meninggal dunia karena kesehatannya terganggu akibat perjalanan panjang yang meletihkan dari Yerussalem ke Damaskus.
Dua tahun setelah meninggalnya Shalahuddin juga berkobar Perang Salib atas inisiatif Paus Celesti III. Anak Shalahuddin yang bernama Al-Adil segera menghalau pasukan salib. Ia selanjutnya menyerang kota perlindungan pasukan salib. Lantaran makin kuatnya tekanan dari pasukan muslim, pihak salib akhirnya menempuh inisiatif damai yang menghasilkan kesepakatan pada tahun 1198M, bahwa peperangan ini harus dihentikan selama tiga tahun.
Belum genap tiga tahun, Kaisar Innocent III menyatakan secara tegas berkobarnya Perang Salib kembali setelah berhasil menyusun kekuatan militer.  Pada kesempatan ini pasukan salib yang bergerak menuju Syiria tiba-tiba mereka membelokkan gerakannya menuju Konstantinopel. Pembantaian ini berlangsung beberapa hari, jadi pasukan muslim sama sekali tidak mengalami kerugian karena tidak terlibat dalam peristiwa itu. Pada tahun 613H/1216M, Innocent III juga mengobarkan propaganda perang salib kembali. 250.000 pasukan salib, mayoritas Jerman, mendarat di Syiria. Mereka terserang wabah penyakit di wilayah pantai Syiria hingga kekuatan pasukan tinggal tersisa sebagian. Mereka kemudian bergerak menuju ke Mesir dan mengepung kota Dimyat. Namun akibat serangan pasukan muslim yang terus menerus, mereka menjadi terdesak dan terpaksa menempuh jalan damai dengan syarat bahwa pasukan salib harus segera meninggalkan kota Dimyat.
Yerussalem berada di bawah kekuasaan tentara salib sampai dengan tahun 1244M, setelah itu kekuasaan salib direbut oleh Malik Ash Shalih Najamuddin Al-Ayyubi atas bantuan pasukan Turki Khawarizmi yang berhasil melarikan diri dari kekuasaan Jenghiz Khan. Dengan direbutnya kota Yerussalem oleh Malik Ash-Shalih, pasukan salib kembali menyusun penyerangan terhadap wilayah Islam. Ketika pasukan Louis IX bergerak menuju ke Kairo melalui jalur sungai Nil, mereka mengalami kesulitan lantaran arus sungai mencapai ketinggiannya, dan mereka juga terserang oleh wabah penyakit sehingga kekuatan salib dengan mudah dapat dihancurkan oleh pasukan Turan Syah putra Ayyub.
Setelah berakhir perang salib pada masa Turan Syah, pasukan salib Kristen berkali-kali berusaha membalas kekalahannya, namun selalu mengalami kegagalan.[6]

E.     PENGARUH PERANG SALIB TERHADAP PERADABAN ISLAM
Bangsa Eropa belajar berbagai disiplin ilmu yang saat itu berkembang di dunia Islam lalu mengarangnya dalam buku-buku yang bagi dunia Barat tetap terasa mencerahkan. Mereka juga mentransfer industri dan teknologi konstruksi dari kaum muslimin, sehingga pasca perang salib terjadi pembangunan yang besar-besaran di Eropa. Gustav Lebon berkata: “Jika dikaji hasil perang salib dengan lebih mendalam, maka didapati banyak hal yang sangat positif dan urgen. Interaksi bangsa Eropa selama dua abad masa keberadaan pasukan salib di dunia Islam boleh dikatakan faktor dominan terhadap kemajuan peradaban di Eropa. Perang salib membuahkan hasil gemilang yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.”
Perang salib menghabiskan aset umat Islam baik harta benda maupun putra-putra terbaik. Kemiskinan terjadi karena seluruh kekayaan negara dialokasikan untuk perang. Dekadensi moral terjadi karena perang memakan habis orang laki-laki dan pemuda. Kemunduran ilmu pengetahuan terjadi karena umat Islam menghabiskan seluruh waktunya untuk memikirkan perang sehingga para ulama tidak punya waktu untuk mengadakan penemuan-penemuan dan karya-karya baru kecuali yang berhubungan dengan dunia perang.
Namun, peperangan salib selama kurang lebih 200 tahun telah memberikan warna kepada dunia Islam dan Kristen. Utamanya dalam bidang pemikiran, peradaban, ilmu dan teknologi. Bahkan, sejarah mencatat bahwa perang salib merupakan jembatan awal antara kebudayaan Islam dan bangsa Eropa. Meskipun terdapat luka sejarah dan sensitifitas yang mengiringi pertautan dua peradaban tersebut. Dan tetap membekas hingga saat ini.[7]


KESIMPULAN

Perang Salib merupakan peperangan antara tentara Islam dengan Kristen. Hal ini terjadi bermula kebencian umat Kristiani terhadap masa pemerintahan Dinasti Saljuk yang dapat menguasai kota suci mereka. Terlebih dinasti menguasai Bait al-Maqdis. Dalam peperangan ini tentara Salib memakai tanda salib di pakaiannya sebagai tanda pemersatu umat Kristiani dan menunjukkan peperangan suci.
Ada tiga faktor utama penyebab terjadinya perang salib, yaitu faktor agama, faktor politik, dan faktor ekonomi
Perang Salib dibagi ke dalam tiga periode, yaitu periode pertama yang disebut sebagai periode penaklukkan. Kemudian periode kedua yang disebut dengan periode reaksi umat Islam dan yang terakhir adalah periode ketiga atau yang disebut dengan periode kehancuran
            Pengaruh perang salib dalam umat Islam mengalami banyak kerugian karena peperangan tersebut terjadi di wilayah umat Islam. Sedangkan umat Kristen mendapatkan keuntungan dan pengalaman yang cukup berarti dari kebudayaan dan peradaban Islam, misalnya mengetahui kemajuan intelektual di wilayah Islam, industri, pertanian, dan militer.












DAFTAR PUSTAKA

Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, 2010.
Al-Wakil, Muhammad Sayyid, Wajah Dunia Islam, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 1998.
Fuadi, Imam, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, Yogyakarta: Teras, 2012.
http://adzrohanimah.wordpress.com/2010/08/17/perang-salib-dan-dampaknya/

Artikel keren lainnya: