Beranda · Al-Quran Hadits · Aqidah · Akhlak Ibadah/Fiqih Tarikh Serba-Serbi ·

Laman

SEJARAH MADRASAH (PENDIDIKAN ISLAM) DI INDIA



PENDAHULUAN

Madrasah mempunyai peranan penting di dalam sejarah pendidikan Islam dan perkembangannya. Ide-ide yang dihasilkan oleh para pembaharu Islam dalam mewujudkan pendidikan Islam yang maju selalu melekat erat di pendidikan Islam itu sendiri.
Pemikiran dan ide-ide pendidikan Islam disini akan diahas sejalan dengan terbentuknya beberapa lembaga pendidikan Islam (madrasah, sekolah Islam, universitas Islam).
Semoga konsep daripada makalah ini dapat memberikan sumbangan Ilmu pengetahuan mengenai sejarah pendidikan Islam khususnya untuk para teman-teman mahasiswa seperjuangan.

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Madrasah
Madrasah merupakan isi makan dari fiil madhi dari darasa, mengandung arti tempat atau wahana untuk mengenyam proses pembelajaran. Dengan demikian, secara teknis madrasah menggambarkan proses pembelajaran secara formal dan memiliki konotasi spesifik. Madrasah itu sendiri merupakan institusi peradaban Islam yang sangat penting.
Madrasah (bahasa arab) yang akan dibicarakan pada bagian ini berbeda dengan madrasah (bahasa indonesia) yang merupakan lembaga pendidikan dasar dan menengah. Disini madrasah didefinisikan sebagai lembaga pendidikan tinggi yang secara luas berkembang didunia Islam pramodern sebelum era unversitas (Al-jami’ah).
Hasan Asy’ari  mengansumsikan ciri-ciri madrasah tidak dapat dikonotasikan dengan lembaga pendidikan yang ada sekarang dan kesulitan besar menerjemahkan kata madrasah itu sendiri.
Sedangkan Nakosteen dan beberapa sarjana lain, menerjemahkan kata madrasah dengan university. Walaupun tidak terlalu tepat, tapi sedikitnya tidak dapat mewakili. Sebab, ada tiga perbedaan mendasar antara madrasah dan unversitas, pertama, kata unversitas dalam pengertian yang paling awal mengacu pada civitas akademika, sedangkan madrasah mengacu pada sarana dan prasarana. Kedua, universitas bersifat hierarkis sednagkan madrasah bersifat individualistis dan personal. Ketiga, izin mengejar pada universitas dikeluarkan oleh komite, sedangkan pada madrasah ijazah diberikan oleh Syaikh secara personal. Dengan demikian, pada bahasan selanjutnya istilah ini akan dipakai dalam bentuk aslinya. Namun demikan, madrasah pada periode awal merupakan cikal bakal berdirinya universitas.[1]


B.     Gambaran Umum Negara India
1.      Sejarah Singkat India
Dalam sejarahnya, india merupaka wilayah dengan berbagai macam kebudayaan yang berkesinambungan selama 5000 Tahun. Kebudayaan dilembah Indus (3000 SM sd. 1500 M) telah diikuti dengan zaman Vedic, yang menggunakan bahasa sansekerta (1500 SM sd. 5000 SM).
Kerajaan pertama di India, kerajaan Maurya, dimulai oleh Chandragupta Maurya (274-237 SM). Kerajaan-kerajaan setelah raja Asoka dipimpin oleh raja-raja seperti Gupta, Pratihara, Pala, Calukya, Chola, dan dinasti Pandya. Keaadan ini diikuti oelh zaman kekuasaan Islam sekitar abad ke 9 M dan diikuti dengan kedatangan bangsa Eropa, terutama bangsa Inggris, pada abad ke-17 M .
Pada tanggal 15 Agustus 1947, Inggris memberikan kemerdekaan kepada India. Pada tanggal 26 Januari 1950, India resmi menjadi republik India dengan presiden sebagai kepala negara dan perdana mentri sebagai kepala pemerintahan. Usaha-usaha dan aktivitas diplomatisnya, seperti Konferensi Asia-Afrika, Gerakan Non-Blok, dan sebagainya menetapkan India sebagai salah satu negara terkemuka dalam dunia ketiga.[2]
2.      Letak Geografis Negara India
India adalah negara besar ke tujuh dan mempunyai penduduk kedua terbanyak di dunia. India berada di Asia selatan dan dikelilingi oleh Pakistan, Afganistan, Cina, Buthan, Myanmar, dan Bangladesh, Samudra Hindia, Laut Arabia, dan Teluk Bengal sebagai batas lautnya. Daratan india terbagi atas tiga macam daerah geografis: daerah pegunungan Himalaya, daratan rendah yang dibentuk oleh sungai Indus-Gangga-Brahmaputra, dan disebelah selatan terdapat semenanjung daratan tinggi Deccan.[3]

3.      Keadaan Iklim dan Cuaca Negara India
Iklim dan cuaca di India berbeda dari satu wilayah dengan wilayah yang lain. Beberapa wilayah, termasuk daerah pesisir, mempeunyai iklim dan cuaca yang seragam sepanjang tahun. Meskipun demikian, ada beberapa wilayah di India yang mempunyai iklim dan cuaca yang nyaman, seperti kota-kota diwilayah utara dan Bangalore di sebelah selatan. Selain daripada wilayah tersebut, hampir semua daerah akan terasa sangat panas pada musim panas.
Secara umum, iklim dan cuaca di India bisa dibagi sebagai berikut:
1)      Bulan Maret sampai dengan Juni: Musim panas.
2)      Bulan Juni sampai dengan Oktober: Musim penghujan.
3)      Bulan November sampai dengan Februari: Musim dingin.
4.      SDM di Negara India
India Juga merupakan negara terbesar ketiga dalam penyediaan seumberdaya manusia dalam bidang sains dan teknologi beberapa ilmuan besar India telah berhasil mendapatkan penghargaan baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
5.      Sisitem Pemerintahan di Negara India
India dibagi menjadi 27 negara bagian dan 7 wilayah kesatuan. Negara-negara bagian tersebut mempunyai kekuasaan otonomi sendiri yang cukup luas, sedangkan wilayah-wilayah kesatuan dipimpin langsung oleh presiden melalui kepala pemerintahan yang ditunjuk.
6.      Budaya dan Masyarakat di Negara India
Bahasa Hindi adalah bahasa resmi pemerintahan dan Bahasa Inggris juga dipakai sebagai bahasa penghubung. Selain itu ada sekitar 16 bahasa lainnya selain Hindi dan Inggris yang ditetapkan di dalam undang-undang sebagai bahasa resmi yang boleh dipakai dalam pelaksanaan pemerintahan dinegara-negara bagian.
India adalah sebuah negara sekuler. Penganut agama Hindu adalah kelompok terbesar yang diikuti oleh penganut agama Islam, Kristen, Sikh, Budha, Jain, dan Parsi. Sebanyak 70 persen dari seluruh penduduk India tinggal di daerah pedesaan dengan bergantung pada pertanian atau agrobisnis kecil.
Masyarakat India pada umumnya ramah dan santai. Banyak dari mereka yang berani memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum diminta untuk bicara.[4]

C.    Lembaga Pendidikan (Madrasah, Sekolah, Universitas) di India Pada Masa Pembaharuan
1.      Madrasah Dar Al-‘Ulum di India
a.       Sejarah Berdirinya
Adanya madrasah di India bermula sesudah wafatnya Sayyid Ahmad Syahid pada tahun 1831, segolongan pengikutnya meninggalkan medan jihad dan memasuki bidang pendidikan.
Sayyid Ahmad Syahid adalah salah seorang dari  murid Syah Abdul Aziz (1746-1823), yang kemudian berpengaruh dalam gerakan melaksanakan ajaran-ajaran Syah Waliyullah adalah Sayiyd Ahmad Syahid. Ia lahir di tahun 1786 di Rae Bareli, suatu tempat yang terletak di dekat Lucknow.
Setelah cukup memperoleh pengetahuan keagamaan, ia mulai mengadakan dakwah dimuka umum, sehingga namanya mulai dikenal. Ia berdakwah bukan di Delhi saja, tetapi juga di daerah-daerah yang terletak jauh dari ibu kota.
Dengan dibantu oleh murid-muridnya, ia mengarang suatu buku bernama Sirat-i Mustaqim. Sebagian besar dari buku itu mengandung pemikiran-pemikiran pembaharuan yang dikemukakan oleh syah Waliyullah.
Menurut pendapat Sayyid Ahmad, umat Islam India mundur, karena agama yang mereka anut tidak lagi Islam yang murni, tetapi Islam yang yang telah bercampur baur dengan paham dan praktek yang berasal dari Persia dan India. Umat Islam India harus dibawa kembali ke ajaran Islam yang murni. Untuk mengetahui ajaran murni itu orang harus kembali ke Al-qur’an dan Hadits. Dengan kembali kepada kedua sumber asli ini bid’ah (bidah) yang melekat ke tubuh Islam akan dapat dihilangkan.
Yang pertama sekali harus dibersihkan ialah tauhid yang dianut umat Islam India.  Keyakinan mereka harus dibersihkan dari paham dan praktek kaum tarekat sufi seperti kepatuhan tidak terbatas kepada guru dan ziarah ke kuburan wali untuk meminta syafaat. Juga dari paham animisme dan paham adat istiadat Hindu yang masih terdapat dalam kalangan umat Islam India.
Langsung terperinci ajarannya mengenai tauhid mengandung hal-hal sebgai berikut:
1)      Yang boleh disembah hanya Tuhan, secara langsung tanpa perantara dan tanpa ucapan yang berlebih-lebihan.
2)      Kepada makhluk tidak boleh diberikan sifat-sifat Tuhan. Malaikat, roh, wali, dan lain-lain tidak mempunyai kekuasaan apa-apa untuk menolong manusia dlam mengatasi kesulitan-kesulitannya. Mereka sama lemahnya dengan manusia dan sama terbatas pengetahuannya mengenai Tuhan.
3)      Sunah (tradisi) yang diterima hanyalah sunah Nabi dan sunah yang timbul di zaman Khalifah Yang Empat. Kebiasaan membaca tahlil dan menghiasi kuburan adalah bidah yang menyesatkan dan harus di jauhi.
Sayyid juga menentang taklid pada pendapat ulama, termasuk didalamnya pendapat ke empat imam besar. Oleh karena itu berpegang kepada mazhab tidak menjadi soal yang penting, sungguhpun ia sendiri adalah pengikut mazhab Abu Hanifah. Karena taqlid ditentang, pintu ijtihad baginya terbuka dan tidak tertutup. Ijtihad diperlukan untuk memperoleh interprestasi  baru terhadap ayat-ayat Al-qur’an dan Hadis.
Ide yang berpengaruh kemudian bukanlah ide-ide di atas tetapi pemiliknya dalam bidang politik. Daerah India telah banyak dikuasai oleh orang bukan Islam, dan oleh karena itu bukan lagi merupakan Dar al-Islam malahan telah menjadi Dar al-Harb. Terhadap Dar al-Harbi orang Islam harus mengambil salah satu dari dua sikap berikut, berpegang melawan Dar al-Harb atau hijrah, meninggal Dar al-Harb pindah ke Dar al-Islam. Yang dipilih sayyid Ahmad ialah berperang.
Daerah yang dahulu terletak dibawah Islam sekarang jatuh ke tangan bukan Islam. Di sini timbullah persoalan Dar al-Harb, daerah yang jatuh ke bawah kekuasaan bukan Islam,  dan Dar al-Islam, daerah yang masih berada di bawah kekuasaan Islam.
Sayyid Ahmad berpendirian bahwa daerah-daerah yang telah jatuh kebawah tangan bukan Islam harus kembali ke tangan Islam. Dar al-Harb mesti menjadi Dar al-Islam kembali. Dengan demikian timbullah perang jihad terhadap dua musuh, Hindu di satu pihak dan Inggris di pihak lain. Inggris dengan kemajuan ekonomi, ilmu pengetahian dan teknologinya ternyata kuat dan sukar untuk dapat dikalahkan. Kemungkinan memperoleh kemenangan lebih banyak, jika serangan dihadapkan Sikh.
Sayyid Ahmad dengan gerakan Mujahidinnya melalui peperangan terhadap golongan sikh di India Utara. Ia serang pusat kekuatan mereka di Akora, sehingga mereka mundur. Ia teruskan peperangan ke medan datar dan dapat menguasai Pesyawar. Kekuatan militernya menurut keterangan berjumlah seratus ribu orang dengan bantuan Afganistan ia mengharap dapat mengembalikan daerah-daerah yang telah lepas dari tangan Islam. Sokongan dlam menjalankan jihad banyak ia peroleh dari kepala suku-suku bangsa yang ada di daerah tersebut.
Dalam pada itu perlawanan dari Sikh bertambah kuat dengan dapatnya mereka menarik golongan-golongan bukan Islam lainnya, seperti golongan Barakzai, untuk sama-sama melawan Mujahidin kekuatan Sayyid Ahmad berkurang dan dalam pertempuran dengan satu pasukan Sikh di Balekot ia mati terbunuh di tahun 1831. Dari peristiwa inilah ia mendapat gelar Syahid.
Bersama Sayyid Ahmad Syahid turut terbunuh banyak dari para Mujahidin. Pengikutnya pecah menjadi dua segolongan berpendapat bahwa kekuatan sudah tidak cukup untuk meneruskan Jihad, dan oleh karena itu mereka mimdahkan perhatian pada pendidikan. Dalam pembentukan madrasah Doeband yang besar pengaruhnya di India, mereka turut berjasa.[5]    
b.      Dasar dan Tujuan  Pendidikan Madrasah Dar Al-‘Ulum di India
Doeban bertujuan memberikan pendidikan terorganisasi secara birokratis dalam ilmu tradisional ulama.[6] Yang diutamakan ialah pemurnian tauhid yang dianut umat Islam India dari paham-paham salah yang dibawa tarekat dan dari keyakinan animisme lama. Selanjutnya juga pemurnian praktek keagamaan mereka dari segala macam bidah. Yang ingin diwujudkan doeband kembali ialah Islam murni sebagai terdapat di zaman Nabi, Sahabat, tabiin, dan zaman sesudahnya. Doeband dengan demikian kuat berpegang pada tradisi zaman klasik. Mazhab yang dianut Doeband mazhab Hanafi.
Dalam bidang politik,  Doeband mengambil sikap anti Inggris ini demikian karena Doeban didirikan oleh pemuka-pemuka gerakan Mujahidin yang melawan kekuasaan Inggris dan didirikan untuk menentang pendidikan sekuler barat yang dibawa Inggris dan juga sebagai reaksi terhadap usaha misi Kristen yang datang ke India bersama-sama dengan Inggris. Oleh karena itu bekerja sama dengan Hindhu untuk melawan Inggris dapat diterima oleh ulama-ulama Doeband. Partai kongres nasional India mendapat sokongan dari Doeband. Liga muslimin, karena dianggap pro-Inggris tidak dapat disokong bahkan di tentang oleh doeband. Doeband juga kurang setuju dengan ide pembagian India menjadi dua negara, negara Islam dan negara Hindhu. Menurut Doeband, politik pembagian India dan pembentukan negara pakistan berasal dari Inggris.[7]
c.       Kurikulum Pendidikan Madrasah Dar Al-‘Ulum di India.
Para siswa mengikuti pendidikan selama enam tahun, mengikuti silabus, menempuh ujian formal, dan ikut pertemuan. Sekolah ini terutama terkenal karena karyannya dalam Hadis, dan pada abad ini membengun jaringan sekolah yang masih terus tumbuh hingga sekarang
Ulama Doeband berupaya apolotis dan sepenuhnya menyebarkan tuntunan yang benar melalui pendidikan guru, imam sholat, pengelola wakaf, penulis, dan sebagainya.[8]
Ajaran yang dibawa Syah Waliyullah dan yang kemudian yang diteruskan oleh anaknya Syah Abdul Aziz, dan selanjutnya Sayyid Ahmad Syahid serta pengikutnya untuk melaksanankannya banyak mempunyai perserupaan dengan ajaran Wahabiah dari Arabia. Dan yang banyak dilaksanakan adalah pula ajaran pemurnian praktek umat Islam dari berbagai macam bidah. Oleh karena itu gerakan Mujahidin disebut juga oleh penulis barat, gerakan Wahabiah India.
2.      Sekolah Muhammedan Anglo Oriental College (MAOC) di India
a.       Sejarah Berdirinya
Latar belakang didirikannya Sekolah Muhammedan Anglo Oriental College (MAOC) di India adalah hancurnya Gerakan Mujahidin dan Kerajaan Mughal sebagai akibat dari “Pemberontakan 1857” serta hasil pemikiran oleh pendirinya yaitu Sayyid Ahmad Khan.
Sayyid Ahmad Khan lahir di Delhi pada tahun 1817 dan menurut keterangan  berasal dari keturunan Husein, cucu Nabi Muhammad melalui Fatimah dan Ali. Neneknya, Sayyid hadi adalah pembesar istana zaman Alamghir II (1754-1759). Ia mendapat didikan tradisional dalam pengetahuan agama agama dan disamping bahasa Arab ia juga belajar bahasa Persia. Ia orang yang rajin membeca dan banyak memperluas pengetahuan dengan membaca buku dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Sewaktu berusia 18 tahun ia masuk pekerja pada serikat India Timur kemudian ia bekerja pula sebagai hakim. Tetapi di tahun 1846 ia pulang kembali ke Delhi untuk meneruskan studi.
Dimasa “Pemberontakan 1857” ia banyak berusaha untuk mencegah terjadinya kekerasan dan dengan demikian banyak menolong orang Inggris dari pembunuhan. Pihak Inggris menganggap ia telah banyak berjasa bagi mereka dan ingin membalas jasanya, tetapi hadiah yang dianugerahkan Inggris kepadanya ia tolak. Gelar Sir kemudian kemudian di berikan kepadanya dapat ia terima. Hubungan dengan pihak Inggris menjadi baik dan ini ia pergunakan untuk kepentingan umat Islam India.
Sayyid Ahmad Khan berpendapat bahwa peningkatan kedudukan umat Islam India, dapat diwujudkan hanya dengan bekerjasama dengan Inggris. Inggris telah merupakan penguasa yang terkuat di India, dan menentang kekuasaan itu tidak akan membawa kebaikan bagi umat Islam India. Hal ini akan membuat mereka tetap mundur dan akhirnya akan jauh ketinggalandari masyarakat Hindhu India.
Disamping itu dasar ketinggian dan kekuatan Barat, termasuk di dalamnya Inggis, ialah ilmu pengetahuan dan tekhnologi modern. Untuk dapat maju, umat Islam harus pula menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi modern itu. Jalan yang harus ditempuh umat Islam untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan itu bukanlah bekerjasama dengan Hindhu dalam menentang Inggris tetapi memperbaiki dan memperkuat hubungan baik dengan Inggris.
Ia berusaha meyakinkan pihak Inggris bahwa dalam “Pemberontakan 1857”, umat tidak memainkan peranan utama. Untuk itu ia keluarkan pamflet yang mengandung penjelasan tentang hal-hal yang membawa pada pecahnya “Pemberontakan 1857”. Di antara sebab-sebab yang ia sebut adalah sebagai berikut:
1)      Intervensi Inggris dalam soal keagamaan, seperti pendidikan agama Kristen yang diberikan kepada yatim piatu di panti-panti yang diasuh oleh orang Inggris, pembentukan sekolah-sekolah misi Kristen dan penghapusan pendidikan agama di perguruan-perguruan tinggi.
2)      Tidak turut sertanya orang-orang India, baik Islam maupun Hindu, dalam lembaga-lembaga perwakilan rakyat, hal yang membawa kepada:
a)      Rakyat India tidak mengetahui tujuan dan niat Inggris, mereka anggap Inggris datang untuk mengubah agama mereka menjadi Kristen.
b)      Pemerintah Inggris tidak mengetahui keluhan-keluhan rakyat India.
3)      Pemerintah Inggris tidak berusaha mengikat tali persahabatan dengan rakyat India, sedang kestabilan dalam pemerintahan bergantung pada hubungan baik rakyat. Sikap tidak menghargai dan tidak menghormati rakyat India, membawa kepada akibat yangtidak baik.
Sayyid Ahmad Khan melihat bahwa umat Islam mundur karena mereka tidak mengikuti perkembangan zaman. Peradaban Islam klasik telah hilang dan telah timbul peradaban baru di Barat. Dasar peradaban bari ini ialah ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan sebagai telah disebut diatas inilah yang menjadi sebab utama bagi kemajuan dan kekuatan orang barat.
Ilmu dan pengetahuan dan teknologi modern adalah hasil pemikiran manusia. Oleh karena itu akal mendapat penghargaan tinggi bagi Sayyid Ahmad Khan. Tetapi sebagai orang Islam yang percaya kepada wahyu, ia berpendapat bahwa kekuatan akal bukan tidak terbatas.
Karena ia percaya pada kekuatan dan kebebasan akal, sungguhpun mempunyai batas, ia percaya pada kebebasan dan kemerdekaan manusia dalam menetukan kehendak dan melakukan perbuatan. Dalam kata lain, ia mempunya paham qadariah (free will and free act) dan tidak paham jabariah atau fatalisme. Manusia, demikian pendapatnya, dianugrahi Tuhan daya-daya, diantaranya daya berpikir, yang disebut akal, dan fisik untuk mewujudkan kehendaknya. Manusia mempunyai kebebasan untuk mempergunakan daya-daya yang diberikan Tuhan kepadanya itu.
Inilah pokok-pokok pemikiran Sayyid Ahmad Khan mengenai pembaharuan dalam Islam. Ide-ide yang dikemukakannya banyak persamaannya dengan pemikiran Muhammad Abduh di Mesir. Kedua pemuka pembaharuan ini sama-sama memberi penghargaan tinggi pada akal manusia, sama-sama menganut paham qadariah, sama-sama percaya kepada hukum alam ciptaan Tuhan, sama-sama menetang taqlid dan sama-sama membuka pintu ijtihad yang dianggap tertutup oleh umat Islam pada umumnya diwaktu itu.
Sebagai telah disebut diatas, jalan bagi umat Islam India untuk melepaskan diri dari kumunduran dan selanjutnya mencapai kemajuan, ialah memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern Barat. Dan agar yang tersebut akhiri ini dapat di capai, sikap mental umat yang kurang percaya kepada kekuatan akal, kurang percaya kepada kebebasan manusia dan keurang percaya pada adanya hukum alam, harus diubah terlebih dahulu.
Perubahan sikap mental itu ia usahakan melalui tulisan-tulisan dalam bentuk buku dan artikel dalam majalah Tanzib al-Akhlaq. Usaha melalui pendidikan juga ia tidak lupakan, bahkan pada akhirnya ke dalam lapangan inilah ia curahkan perhatian dan pusatkan usahanya. Jalan yang efektif untuk merubah sikap mental memanglah pendidikan.
Di tahun 1861 ia dirikan sekolah Inggris di Muradabad. Di tahun 1876 ia minta berhenti sebagai pegawai pemerintahan Inggris dan sampai akhir hayatnya di tahun 1898, ia mementingkan pendidikan umat Islam India. Di tahun 1878, ia mendirikan Sekolah Muhammedan Anglo Oriental College (MAOC) di Aligarh yang merupakan karyanya yang besejarah dan berpengaruh dalam cita-citanya untuk memajukan umat Islam India.[9]
b.      Dasar dan Tujuan Sekolah Muhammedan Anglo Oriental College (MAOC) di India
Menurut penulis I.H. Qureshi, sekolah Sekolah itu mempunyai peranan penting dalam kebangkitan umat Islam India, dan sekiranya tidak karena sekolah itu, umat india di pakistan sekarang akan lebih jauh ketimggalan dari umat-umat lain.[10]
Sebelumnya di tahun 1869/70 Sayyid Ahmad Khan telah berkunjung ke Inggris, antara lain untuk mempelajari sistem pendidikan Barat. Sekembalinya dari kunjungan itu ia membentuk panitia peningkatan pendidikan umat Islam. Salah tujuan panitia ialah menyelidiki sebabnua umat Islam India sedikit sekali memasuki sekolah-sekolah pemerintah. Disamping itu di bentuk lagi panitia dana pembentukan perguruan tinggi Islam. Di tahun 1886 ia bentuk Muhammadan Educational Conference dalam usaha mewujudkan pendidikan nasional dan seragam untuk umat Islam India. Progam dari lembaga ini adalah menyebarluaskan pendidikan Barat dikalangan umat Islam, menyelidi pendidikan agama yang diberikan di sekolah-sekolah Inggris yang didirikan oleh golongan Islam dan menunjang pendidikan agama yang diberikan oleh sekolah-sekolah swasta.
Perhatian Sayyid Ahmad Khan terhadap umat Islam memang besar, tetapi pengaruhnya tidak terbatas dalam pendidikan saja. Melalui buku karangannya dan tulisannya di Tahzib al-Akhlaq ide-ide pembaharuan yang dicetuskannya menarik perhatian golongan terpelajar Islam India. Penafsiran-penafsiran baru yang diberikannya terhadap ajaran-ajaran Islam lebih dapat diterima golongan pelajar ini dari pada tafsiran-tafsiran lama.[11]
c.       Kurikulum Sekolah Muhammedan Anglo Oriental College (MAOC) di India
MAOC dibentuk sesuai dengan model sekolah di Inggris dan bahasa yang dipakai di dalamnya ialah bahasa Inggris. Sedang guru dan stafnya banyak terdiri atas orang Inggris. Ilmu pengetahuan modern merupakan sebagian besar dari mata pelajaran yang diberikan. Pendidikan agama tidak di abaikan. Dalam hubungan ini baik disebut bahwa di sekolah-sekolah inggris yang diasuh pemerintah, agama tidak di ajarkan. Di MAOC pendidikan agama Islam dan ketaatan siswa menjalankan ajaran agama diperhatikan dan di pentingkan. Sekolah itu terbuka bukan hanya bagi orang Islam, tetapi juga bagi orang Hindu, Parisi, dan Kristen.[12]
Viqar al-Mulk sebagai seorang ulama, keras pendirian dan pegangan terhadap agama. Hidup keagamaan di MAOC ia perkuat. Pelaksanaan ibadat, terutama salat dan puasa, ia perketat pengawasannya. Lulus dalam ujian agama menjadi syarat untuk dapat naik tingkat. Hal-hal tersebut di atas membuat MAOC menjadi lebih populer dikalangan ulama India.[13]

3.      Universitas Muslim Aligarh di India
a.       Sejarah berdirinya
Ide-ide pembaharuan yang di cetuskan Sir Sayyid Ahmad Khan dianut dan disebarkan selanjutnya oleh murid serta pengikut dan timbullah apa yang dikenal dengan gerakan Aligarh. Pusatnya ialah Muhammedan Anglo Oriental College yang didirikan pemimpin pembaharuan Islam itu di Aligarh. Setelah ditingkatkan menjadi universitas, dengan nama Universitas Islam Aligarh di tahun 1920, perguruan tinggi ini meneruskan tradisi sebagai pusat gerakan pembaharuan Islam India.
Gerakan Aligarh inilah yang menjadi penggerak utama bagi terwujudnya pembaharuan dikalangan umat Islam India. Tanpa adanya gerakan ini, ide-ide pembaharuan selanjutya seperti yang di cetuskan Amir Ali, Muhammad Iqbal, Muhammad Abul Kalam Asad, dan sebagainya.
b.      Dasar dan Tujuan Universitas Muslim Aligarh di India
Pada tahun 1875, Sayyid Ahmad Khan mendirikan Kolese Anglo Oriental Mohammadan yang kemudia menjadi Unversitas Muslim Islam Aligarh, dengan model Oxford dan Cambrige, dan bertujuan melahirkan kaum berpendidikan Inggris. Sayyid Ahmad Khan mendapati bahwa warisan intelektualnya adalah dari para pembaharu Wali Allah. Namun, dia bertujuan menunjukan keselarasan fundamental antara wahyu Al-qur’an dan sains modern, dengan menyingkirkan dari Islam unsur-unsur yang bergantung pada ruang dan waktu tertentu serta hanya mempertahankan yang esensial. Dia menggunakan ijtihad untuk menggantikan penafsiran historis.[14]
c.       Kurikulum  Universitas Muslim Aligarh di India.
Kemajuan Gerakan Aligarh disebabkan adanya mata pelajaran umum, seperti ilmu alam, filsafat, humaniora dan sebagainya.



PENUTUP

Pada tahun 1867, sekelompok ulama yang berhubungan dengan pembaruan Syah Wali Allah – akrab dengan lembaga-lembaga Inggris melalui perguruan Delhi dan dinas pemerintah – mendirikan Dar Al-‘Ulum di Doeband. Diantara pemuka-pemuka itu terdapat Maulana Muhammad Qasim Nanantawi dan Maulana Muhammad Ishaq, seorang cucu dari Syah Abdul Aziz. Di bawah pimpinan mereka suatu madrasah kecil di Doeban ditingkat menjadi perguruan tinggi agama dengan nama Darul Ulum Doeband. Darul Ulum inilah yang kemudian mengeluarkan ulama-ulama besar India dan melalui ulama-ulama besar itu Doeband mempunyai pengaruh besar terhadap masyarakat Islam India, terutama awamnya. Kedudukan Doeband di India sama dengan kedudukan Al-Azhar di Mesir.
Latar belakang didirikannya Sekolah Muhammedan Anglo Oriental College (MAOC) di India adalah hancurnya Gerakan Mujahidin dan Kerajaan Mughal sebagai akibat dari “Pemberontakan 1857” serta hasil pemikiran oleh pendirinya yaitu Sayyid Ahmad Khan. . Di MAOC pendidikan agama Islam dan ketaatan siswa menjalankan ajaran agama diperhatikan dan di pentingkan. Sekolah itu terbuka bukan hanya bagi orang Islam, tetapi juga bagi orang Hindu, Parisi, dan Kristen.
Pada tahun 1875, Sayyid Ahmad Khan mendirikan Kolese Anglo Oriental Mohammadan yang kemudia menjadi Unversitas Muslim Islam Aligarh, dengan model Oxford dan Cambrige, dan bertujuan melahirkan kaum berpendidikan Inggris.
Demikian makalah yang masih jauh dari kesempurnaan, Billahiaufikwalhidayah Wassalamu’alaikum Wr. Wb.




[1] Abuddun Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004), hlm. 50-51.
[2] Abdul Hayyie al-Katttani dkk, Study In Islamic Countries Panduan Lengkap Kuliah di Negara-negara Islam, (Jakarta: Gema Insani, 2009 ), hlm. 254.
[3] Ibid, hlm. 255
[4] Ibid., hlm. 256
[5] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam (Sejarah Pemikiran dan Gerakan), (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 2001), hlm. 149-153.
[6] Ensiklopedi-Oxford, Dunia Islam Modern, diterjemahkan dari The Oxford Encyclopedia of  the Modern Islmiic World, (bandung: Mizan, 2002), hlm. 301.
[7] Harun Nasution,  Op. Cit., hlm. 156.
[8] Ensiklopedi-Oxford, Op. Cit., hlm. 301.
[9] Harun Nasution, Op. Cit., hlm. 158-162.
[10] Ibid.,  hlm. 163.
[11] Ibid., hlm. 164
[12]Harun Nasution.,  Loc. Cit., hlm. 163
[13] Ibid., hlm. 169
[14] Ensiklopedi-Oxford, Loc. Cit., hlm. 301.

Artikel keren lainnya:

1 Tanggapan untuk "SEJARAH MADRASAH (PENDIDIKAN ISLAM) DI INDIA"