Beranda · Al-Quran Hadits · Aqidah · Akhlak Ibadah/Fiqih Tarikh Serba-Serbi ·

Laman

Makalah Sejarah Psikologi Pendidikan


PENDAHULUAN
Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan.
Bidang psikologi pendidikan didirikan oleh beberapa perintis bidang psikologi sebelum awal abad ke-20. Ada tiga perintis terkemuka yang muncul di awal sejarah psikologi pendidikan. Tokoh tersebut adalah William James, John Dewey, dan E.L. Thorndike.
Dalam makalah ini, kita mencoba membahas dan memaparkan pengertian dan sejarah psikologi pendidikan dari abad 19 sampai abad 20 dan beberapa tokoh-tokoh       filsuf penting yang berpengaruh dalam perkembangan ilmu psikologi pendidikan itu sendiri.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca yang budiman. Kam mengharapkan kritik dan saran yang membangun karena dalam penulisan dan pembuatan makalah kami masih banyak kekurangan.










PEMBAHASAN
1.      Pengertian Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan terdiri dari dua kata, yaitu psikologi dan pendidikan. Psikologi berasal dari bahasa yunani, yaitu psyche yang berarti jiwa dan logos yang berati ilmu. Jadi secara harfiah psikologi mengandung makna yang berarti ilmu jiwa yang berarti pengetahuan yang mempelajari jiwa manusia melalui gejala-gejalanya, aktivitas-aktivitasnya atau perilaku manusia.[1]
Adapun mengenai pendidikan, berasal dari kata “didik” yang mendapat awalan “me”, sehingga menjadi “mendidik”, artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memeberi latihan diperlukan adanya ajaran dan tuntunan, dan pimpinsn mengenai akhlaq dan kecerdasan pikiran. Selanjutnya pengertian “pendidikan” menurut Kamus Besar bahasa Indonesia ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dalam pengertian yang agak luas, pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan
Tujuan psikologi pendidikan ialah mempelajari tingkah laku manusia dan perubahan tingkah laku itu sebagai akibat proses dari tangan pendidikan dan berusaha bagaimana seharusnya tingkah laku itu diubah, dibimbing melalui pendidikan. Dengan kata lain psikolgi pendidikan berusaha untuk mempelajari, menganalisa, menerangkan, dan memimpin proses pendidikan sedemikian rupa sehingga mendapatkan suatu system pendidikan yang efisien.[2]



2.      Beberapa Definisi Mengenai Psikologi Pendidikan
“Psikologi Pendidikan” menurut H.C. Whiterington adalah suatu studi yang sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubugan dengan pendidikan manusia.[3]
Menurut Lester. D. Crow, Ph. D. dan alice Crow, Ph. D. “Psikologi Pendidikan dapat dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang praktis, berguna untuk menerangkan belajar sesuai dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan secara ilmiah dan fakta-fakta sekitar tingkah laku manusia.”
Sedangkan menurut WS. Wingkel SJ, M.SC. “Piskologi Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari pra syarat-pra syarat (faktor-faktor) bagi pelajar disekolah berbagai jenis belajar dan fase-fase dalam semua proses belajar.”[4]
Secara lebih sederahana dan praktis, Barlow mendefinisikan psikologi pendidikan sebagai sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologi yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu pendidik dan untuk melaksanakan tugas-tugas sebagai seorang guru dalam proses belajar mengajar secara lebih efektif.[5]
3.      Sejarah Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan adalah cabang psikologi. Karena psokologi sebagai lmu pengetahuan masih muda usianya, maka psikologi pendidikan sebagai cabang lebih-lebih muda usianya. Berhubung dengan itu, ia masih dalam  proses perkembangan; disana-sini masih banyak problem yang masih memerlukan pemecahannya; masih banyak hal-hal yang yang masih perlu perkembangannya. Akan tetapi, walaupun ditinjau dari segi ilmu pengetahuan usianya masih sangat muda, akan tetapi pemikirannya (dalam arti yang menyangkut pendidikan dan problem jiwa) telah dipikirkan orang sejak dahulu kala. Demikianlah misalnya, sampai ada yang mengatakan bahwa saat timbulnya tentang psikologi pendidikan dapat diikuti jejaknya kembali pada Aristoteles. Bahwa Aristoteles sebagai seorang filsuf telah menyusun periode-periode perkembangan anak, sifat-sifat anak menurut periode dan bentuk pendidikan yang perlu diselenggarakan sesuai dengan periode-periode itu. Walaupun demikian tentu saja pemikirannya baru merupakan pemikiran secara filsafat, belum merupakan psikologi pendidikan.
Upaya-upaya yang bersifat semi ilmiah dipelopori oleh para pendidik, seperti Pestalozzi, Herbart, Frobel dan sebaagainya. Mereka itu sering dikatakansebagai pendidik yang mempsikologikan pendidikan, yaitu dalam wujud upaya memperbaharui pendidikan dengan melalui bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat usia, metode yang sesuai dengan bahan yang diajarkan dan sebaginya, dengan mempertimbangkan tingkat-tingkat usia dan kemampuan anak didik.
Akhir abad 19 penelitian-penelitian dalam lapangan psikologi pendidikan secara ilmiah sudah semakin maju. Di Eropa Ebbinghaus mempelajari aspek daya ingatan dalam hubungannya dengan proses pendidikan. Dengan penelitiannya itu misalnya terkenalah Kurve Daya Ingatan, yang menggambarkan, bahwa kemampuan mengingat mengenai sejumlah objek kesan-kesannya semakin lama semakin berkurang (menurun), akan tetapi tidaklah hilang sama sekali.
Psikologi pendidikan baru merupakan ilmu yang sebenarnya dalam arti sebgai ilmu yang bersifat empiris, baru timbul pada abad ke 20. Thorndike orang yang pertama mengarang buku psikologi pendidikan yang didasarkan atas hasil-hasil penyelidikan empiris experimentail pada tahun 1913.[6]
Pada awal abad 20 pemerintah Prancis merasa perlu untuk mengetahui prestasi belajar para pelajar, yang dirasa semakin menurun. Pertanyaannya yang ingin dijawab, apakah prestasi belajar itu semata-mata hanya tergantung pada soal rajin dan malasnya si pelajar, ataukah ada factor kejiwaan atau mental yang ikut memegang peranan. Maka untuk memecahkan problem itu ditunjuklah seorang ahli psikologi yang bernama Alfred Binet, Dengan bantuan Theodore Simon, mereka menyusun sejumlah tugas yang terbentuk dalam sebuah tes baku untuk mengetahui inteligensi para pelajar. Tes ini kemudian dikenal dengan tes Inteligensi. Tes inteligensi Binet-Simon ini sangat terkenal, yang kemudian banyak dipakai di Amerika Serikat, yang di negri itu mengalami revisi berkali-kali untuk mendapat tingkat kesesuaiannya dengan masyarakat atau orang-orang Amerika. Di antara para ahli yang mengambil bagian dalam revisi-revisi itu misalnya : Stern, Terman, Merril dan sebaagainya.
Perlu juga diketahui, bahwa laboratorium ciptaan Wundt di Leipzig juga tidak hanya melakukan aktivitas penelitian yang bersifat “psikologi umum”, melainkan juga memegang peranan dalam psikologi pendidikan. Banyak orang Amerika yang belajar di Leipzig kepada Wundt. Akibatnya setelah mereka mengembangkan psikologi itu di negaranya, termasuk psikologi pendidikan. Terkenallah psikologi pendidikan di Amerika misalnya Charles H. Judd, E.L. Thorndike, B.F. Skinner dan sebagainya. Orang-orang ini sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan di Amerika Serikat. Terutama E.L. Thorndike, sehingga ia dipandang sebagai Bapak Psikologi Pendidikan di Amerika Serikat. Menurut seorang pakar psikiatri dan psikologi Amerika Serikat yang bernama Perry London, yang telah meneliti tentang penggunaan jasa psikologi di Amerika Serikat, yang menggunakan jasa psikologi bagi lapangan-lapangan tertentu adalah : 25% merupakan para pendidik, 25% ahli psikologi klinis dan konsultan, 16% merupakan para peneliti psikologi sendiri, sedang yang 34% tersebar pada lapangan atau pakar yang lain.
Di Indonesia psikologi pada umumnya dan psikologi pendidikan pada khususnya sedang dalam proses perkembangan yang cepat. Pada mata pelajaran, misalnya di sekolah calon guru (HK, HIK, Hoofd Acted an sebagainya). Setelah merdeka dan dengan berdirinya Fakultas Psikologi di beberapa Universitas serta berdirinya FKIP atau IKIP di berbagai kota, maka psikologi pada umumnya atau psikologi pendidikan khususnya, tidak hanya dipelajari sebagai mata kuliah, melainkan juga diteliti sebagai ilmu pengetahuan. Hal ini memang amat perlu, karena psikologi atau psikologi pendidikan yang didasarkan penelitiannya pada orang-orang barat belum tentu sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia.



4.      Tokoh-tokoh psikologi pendidikan

1)      William James. Dia adalah seorang filsuf dari Amerika Serikat, yang terkenal sebagai salah seorang pendiri Mazhab Pragmatisme. Selain sebagai filsuf, James juga terkenal sebagai seorang psikolog. Ia dilahirkan di New York pada tahun 1842. Setelah belajar ilmu kedokteran di Univ.  Harvard, ia belajar psikologi di Jerman danPerancis. Kemudian ia mengajar di Universitas Havard untuk bidang anatomi, fisiologi, psikologi, dan filsafat, hingga tahun 1907. Tak lama setelah meluncurkan buku ajar pikologinya yang pertama, yang pertama, principles of psychology, William James memberikan serangkaian kuliah yang bertajuk “talks to Teacher”. Dalam kuliah ini dia mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak. James mengatakan bahwa eksperimen psikologi di laboratorium sering kali tidak bisa menjelaskan kepada kita bagaimana cara mengajar anak secara efektif. Dia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan memperluas cakrawala pemikiran anak.
2)      John Dewey. Dia adalah seorang filsuf dari Amerika Serikat, yang termasuk Mazhab Pragmatisme. Selain sebagai filsuf, Dewey juga dikenal sebagai kritikus sosial dan pemikir dalam bidang  pendidikan.  Dewey dilahirkan di Burlington pada tahun 1859. Setelah menyelesaikan studinya di Baltimore, ia menjadi guru besar dalam bidang filsafat dan kemudian dalam bidang pendidikan pada beberapa universitas. Sepanjang kariernya, Dewey menghasilkan 40 buku dan lebih dari 700-an artikel. Dia menjadi motor penggerak untuk mengaplikasikan psikologis di tingkat praktis. Banyak ide penting lahir dari pemikiran John Dewey. Pertama, kita mendapatkan pandangan tentang anak-anak sebagai pembelajar aktif. Pemikiran yang kedua dari Dewey adalah bahwa pendidikan seharusnya di fokuskan pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya, ia percaya bahwa anak-anak seharusnya tidak hanya mendapat pelajaran akademik saja, tetapi juga harus di ajari cara untuk berpikir dan dan beradaptasi di luar sekolah sehingga anak-anak mampu memecahkan masalah secara reflektif.
3)      E.L Thorndike. Edward Lee “Ted” Thorndike (31 Agustus 1874 – 9 Agustus 1949) adalah seorang psikolog Amerika yang menghabiskan hampir seluruh karirnya di Teachers College, Columbia University. Dia adalah anggota dewan Corporation Psikologis, dan menjabat sebagai presiden American Psychological Association pada tahun 1912. Thorndike member banyak perhatian pada penilaian dan pengukuran serta perbaikan dasar-dasar belajar secara ilmiah. Thorndike berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di sekolah adalah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak. Ia mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan harus berfokus pada pengukuran. [7]

5.      Diversitas dan Psikologi Pendidikan Awal
Tokoh paling menonjol dalam sejarah awal psikologi pendidikan kebanyakan adalah pria kulit putih, seperti yang telah di uraikan sebelumnya. Hanya ada sedikit tokoh non-kulit putih yang berhasil mendapatkan gelar dan bisa menembus rintangan diskriminasi rasial untuk melakukan riset di bidang ini. Dua tokoh keturunan Amerika-Afrika yang menonjol di bidang psikologi adalah Mamie dan Kenneth Clark. Mereka berdua melakukan riset tentang identitas dan konsep diri anak-anak Amerika-Afrika. Tokoh etnis minoritas lain dalam bidang ini adalah George Sanchez, psikolog keturunan Negara latin, ia melakukan riset yang mrnunjukksn bahwa tes kecerdasan secara cultural telah dibiaskan dan merugikan anak-anak etnis minoritas. Tokoh lain di bidang ini adalah Leta Hollingworth, seorang tokoh perempuan, yang sering diabaikan dalam sejarah psikologi pendidikan. Hollingworth juga adalah orang pertama yang menggunakan istilah gifted untuk mendeskripsikan anak-anak yang mendapat skor istimewa dalam tes kecerdasan.


PENUTUP
Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan yang tercermin dalam bentuk prilaku baik prilaku yang tampak maupun yang tidak tampak.

Pendidikan ialah suatu proses kegiatan atau aktivitas seseorang atau kelompok untuk memperoleh pengetahuan pemahaman dan ketrampilan sehingga tercapai kedewasaan dan mampu bertanggung jawab dalam kehidupannya.

Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan mengkaji oerilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi yang berkaitan dengan pendidikan yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu dalam rangka pencapaian efektifitas proses pendidikan.













[1] Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Asdi Mahastya, 2001). hlm. 1
[2] Mustaqim dan Abdul Wahid, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003). hlm. 1
[3] Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008). Hlm. 1
[4] Ibid, hlm. 2
[5] Dalyono, Opcit,hlm. 7
[6] Mustaqi dan abdul Wahid, Op Cit. hlm. 5
[7] Santrock, John W. (2008). Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua (alih bahasa dari Educational Psychology, 2nd Edition oleh Tri Wibowo B.S.). Jakarta: Kencana. hlm. 4-6

Artikel keren lainnya:

1 Tanggapan untuk "Makalah Sejarah Psikologi Pendidikan"