NAMA : HUSEIN SYAUQI AZMI
NIM : 202 109 479
JURUSAN/PRODI :
TARBIYAH / PAI
SEMESTER : VII
A.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM KONSEP
PENDIDIKAN ESQ ARY GINANJAR AGUSTIAN
B.
LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan
sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia; aspek rohaniah dan
jasmaniah, juga harus berlangsung Secara bertahap. Oleh karena itu suatu
kematangan yang bertitik akhir pada optimalisasi perkembangan/pertumbuhan, baru
dapat tercapai bila mana berlangsung melalui proses demi proses kearah tujuan
akhir perkembangan/pertumbuhannya.
Akan tetapi,
suatu proses yang diinginkan dalam usaha kependidikan adalah proses yang
terarah dan bertujuan, yaitu mengarah anak didik (manusia) kepada titik optimal
kemampuannya. Sedangkan tujuan yang hendak dicapai adalah terbentuknya
kepribadian yang bulat yang utuh sebagai manusia individual dan sosial serta
hamba Tuhan yang mengabdikan diri kepadanya.
Ditinjau dari
sudut pandangan sosiologis dan antropologi, fungsi utama pendidikan untuk
menumbuhkan kreativitas peserta didik, dan menanamkan nilai yang baik. Karena
tujuan akhir pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi kreatif peserta
didik aagar menjadi manusia yang baik menurut pandangan manusia dan Tuhan Yang
Maha Esa.
Kalau kita
melihat kembali pengetian pendidikan islam, akan terlihat dengan jelas sesuatu
yang diharapkan terwujud setelah orang mengalami pendidikan islam secara
keseluruhan, yaitu kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi “insan kamil”
dengan pola takwa Insan kamil artinya
manusia utuh rohani dan jasmani, dapat hidup dan berkembang secara wajar dan
normal karena takwanya kepada Allah SWT. Ini mengnadung arti bahwa pendidikan
islam itu diharapkan menghasilkan manusia yang berguna bagi dirinya dan
masyarakat serta senang dan gemar mengamalkan dan mengembangkan ajaran islam
dalam berhubungan dengan Allah dan dengan manusia sesamanya, dapat mengambil
manfaat yang semakin meningkat dari alam semesta ini untuk kepentingan hidup
didunia kini dan di akhirat nanti. Tujuan ini kelihatannya terlalu ideal,
sehingga sukar dicapai. Tetapi dengan kerja keras yang dilakukan secara
berencana dengan kerangka-kerangka kerja yang konsepsional mendasar, pencapaian
tujuan itu bukanlah sesuatu yang mustahil.
Menurut Ary
Ginanjar Islam bukan hanya peraturan dan
hukum-hukum, melainkan juga ilmu dan
cinta kasih, dan yang paling mengesankan bagi beliau bahwa Kecerdasan Emosi atau
EQ (Emotional Quotient), bahkan Kecerdasan Spritual SQ (Spiritual Quotient) ,
ternyata mengikuti konsep Rukun Iman, Islam, dan Ihsan yang menjadi dasar agama
islam. Namun sayangnya, kosep-konsep berpikir yang berkembang saat ini agaknya
mengarah pada pemisahan kepentingan duniawi dan kepentingan ruhani. Jika
dikotomisasi aspek akhirat dan duniawi ini terus menerus menjadi dua opsi yang
harus ditentukan? Bisa dipastikan erosi kehidupan masyarakat akan terjadi. Hal
ini ternyata tercermin dalam bentuk hilangnya iman, juga hancurnya daya tarik
spiritual.
Manusia adalah
makhluk dua dimensi yang membutuhkan penyelarasan kebutuhan akan kepentingan
jasmani dan ruhani. Oleh sebab itu manusia harus memiliki konsep duniawi atau
kepekaan emosi serta intelegensi yang baik (IQ plus SQ) dan penting pula
penguasaan ruhiah vertikal atau Spiritual Quotient (SQ).
Dari berbagai
hasil penelitian, telah banyak terbukti bahwa kecerdasan emosi memiliki peran penting yang jauh lebih
signifikan dibanding kecerdasan intelektual (IQ). Kecerdasan otak (IQ) berperan
sebatas syarat minimal meraih keberhasilan, namun kecerdasan emosilah yang
sesungguhnya mengantarkan seseorang menuju puncak prestasi. Ketika seseorang
dengan kemampuan EQ dan IQ-nya berhasil mendaki kesuksesan, acap kali ia
disergap perasaan ‘kosong’ dan hampa dalam selah batinnya. Setelah prestasi
puncak dipijak, ketika semua pemuasan kebendaan telah diraih, setelah uang
hasil jerih usaha berada dalam genggaman, ia tak lagi harus kemana harus
melangkah; untuk apa tujuan semua prestasi itu diraihnya; hingga tidak tahu dan
tidak mengerti untuk apa ia hidup dan dimana ia harus berpijak.
Robert
Stenberg juga mengemukakan, “Salah satu sikap yang paling membahayakan yang
telah dilestarikan oleh budaya kerja modern saat ini kita tidak boleh, dalam
situasi apapun , mempercayi suara hati kita. Kita dibesarkan untuk meragukan
diri sendiri, untuk tidak memperdulikan intuisi serta mencari peneguhan dari
luar diri kita bagi beberapa hal yang kita perbuat. Kita kondisikan untuk
mengandaikan bahwa orang lain lebih tahu daripada kita dan dapat memberi tahu
kebenaran sejati dengan lebih jelas dibanding yang dapat kita ketahui sendiri.
Hal di atas
agak bertolak belakang dengan sistem pendidikan kita selama ini, terlalu
menekankan nilai akademik saja. Mulai dari tingkat sekolah dasar sampai ke
bangku kuliah, jarang sekali dijumpai pendidikan tentang kecerdasan emosi yang
mengajarkan inetgritas; kejujuran; komitmen; visi; misi; kreativitas; ketahanan
mental; kebijaksanaan; keadilan; prinsip; kepercayaan; dan penguasaan atau
sinergi.
Spritualitas
lebih menekankan subtantis nilai-nilai luhur keagamaan dan cenderung
memalingkan diri dari formalisme keagamaan. Biasanya orang yang merespons agama
dengan menekankan dimensi spritualitasnya cenderung bersifat apresiatif terhadap
nilai-nilai luhur keagamaan, meskipun berada dalam wadah agama lain.
Sebaliknya, ia merasa terganggu oleh berbagai
bentuk formalisme agama yang berlebihan, karena hal itu dinilainya akan
menghalangi berkembangnya nilai-nilai moral dan spiritual keagamaan (komarudin
hidayat dalam andito (ed,),1998: 41-2). Oleh karena itu, kita perlu mengetahui
kebenaran agama bukan hanya pada dataran eksoterik melikan juga pada dataran
esoteris.
Di sinilah ESQ
menjawab permasalahan tersebut. ESQ sebagai sebuah metode dan konsep pasti
jawaban dari kekosongan batin sang jiwa. Ia adalah konsep universal mampu
menghantarkan seorang pada ‘predikat memuaskan’ bagi dirinya sendiri dan bagi
sesamanya. ESQ dapat pula menghambat segala hal yang kontraproduktif terhadap
kemajuan umat manusia.
C.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana konsep pendidikan ESQ Ary Ginanjar?
2.
Bagaimana nilai-nilai pendidikan Islam Ary
Ginanjar?
D.
Telaah terdahulu
E.
FOKUS PENELTIAN
Fokus
penelitiannya adalah untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan islam yang
terkandung didalam konsep ESQ ary ginanjar.
Artikel AL-ISLAM lainnya:
Membantu
ReplyDelete