Beranda · Al-Quran Hadits · Aqidah · Akhlak Ibadah/Fiqih Tarikh Serba-Serbi ·

Laman

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM KONSEP PENDIDIKAN ESQ ARY GINANJAR AGUSTIAN


NAMA                        : HUSEIN SYAUQI AZMI
NIM                            : 202 109 479
JURUSAN/PRODI     : TARBIYAH / PAI
SEMESTER                 : VII

A.    NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM KONSEP PENDIDIKAN ESQ ARY GINANJAR AGUSTIAN

B.     LATAR BELAKANG MASALAH

Pendidikan sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia; aspek rohaniah dan jasmaniah, juga harus berlangsung Secara bertahap. Oleh karena itu suatu kematangan yang bertitik akhir pada optimalisasi perkembangan/pertumbuhan, baru dapat tercapai bila mana berlangsung melalui proses demi proses kearah tujuan akhir perkembangan/pertumbuhannya.
Akan tetapi, suatu proses yang diinginkan dalam usaha kependidikan adalah proses yang terarah dan bertujuan, yaitu mengarah anak didik (manusia) kepada titik optimal kemampuannya. Sedangkan tujuan yang hendak dicapai adalah terbentuknya kepribadian yang bulat yang utuh sebagai manusia individual dan sosial serta hamba Tuhan yang mengabdikan diri kepadanya.[1]
Ditinjau dari sudut pandangan sosiologis dan antropologi, fungsi utama pendidikan untuk menumbuhkan kreativitas peserta didik, dan menanamkan nilai yang baik. Karena tujuan akhir pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi kreatif peserta didik aagar menjadi manusia yang baik menurut pandangan manusia dan Tuhan Yang Maha Esa.[2]
Kalau kita melihat kembali pengetian pendidikan islam, akan terlihat dengan jelas sesuatu yang diharapkan terwujud setelah orang mengalami pendidikan islam secara keseluruhan, yaitu kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi “insan kamil” dengan pola takwa Insan  kamil artinya manusia utuh rohani dan jasmani, dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena takwanya kepada Allah SWT. Ini mengnadung arti bahwa pendidikan islam itu diharapkan menghasilkan manusia yang berguna bagi dirinya dan masyarakat serta senang dan gemar mengamalkan dan mengembangkan ajaran islam dalam berhubungan dengan Allah dan dengan manusia sesamanya, dapat mengambil manfaat yang semakin meningkat dari alam semesta ini untuk kepentingan hidup didunia kini dan di akhirat nanti. Tujuan ini kelihatannya terlalu ideal, sehingga sukar dicapai. Tetapi dengan kerja keras yang dilakukan secara berencana dengan kerangka-kerangka kerja yang konsepsional mendasar, pencapaian tujuan itu bukanlah sesuatu yang mustahil.[3]
Menurut Ary Ginanjar  Islam bukan hanya peraturan dan hukum-hukum,  melainkan juga ilmu dan cinta kasih, dan yang paling mengesankan bagi beliau bahwa Kecerdasan Emosi atau EQ (Emotional Quotient), bahkan Kecerdasan Spritual SQ (Spiritual Quotient) , ternyata mengikuti konsep Rukun Iman, Islam, dan Ihsan yang menjadi dasar agama islam. Namun sayangnya, kosep-konsep berpikir yang berkembang saat ini agaknya mengarah pada pemisahan kepentingan duniawi dan kepentingan ruhani. Jika dikotomisasi aspek akhirat dan duniawi ini terus menerus menjadi dua opsi yang harus ditentukan? Bisa dipastikan erosi kehidupan masyarakat akan terjadi. Hal ini ternyata tercermin dalam bentuk hilangnya iman, juga hancurnya daya tarik spiritual.
Manusia adalah makhluk dua dimensi yang membutuhkan penyelarasan kebutuhan akan kepentingan jasmani dan ruhani. Oleh sebab itu manusia harus memiliki konsep duniawi atau kepekaan emosi serta intelegensi yang baik (IQ plus SQ) dan penting pula penguasaan ruhiah vertikal atau Spiritual Quotient (SQ).
Dari berbagai hasil penelitian, telah banyak terbukti bahwa kecerdasan emosi  memiliki peran penting yang jauh lebih signifikan dibanding kecerdasan intelektual (IQ). Kecerdasan otak (IQ) berperan sebatas syarat minimal meraih keberhasilan, namun kecerdasan emosilah yang sesungguhnya mengantarkan seseorang menuju puncak prestasi. Ketika seseorang dengan kemampuan EQ dan IQ-nya berhasil mendaki kesuksesan, acap kali ia disergap perasaan ‘kosong’ dan hampa dalam selah batinnya. Setelah prestasi puncak dipijak, ketika semua pemuasan kebendaan telah diraih, setelah uang hasil jerih usaha berada dalam genggaman, ia tak lagi harus kemana harus melangkah; untuk apa tujuan semua prestasi itu diraihnya; hingga tidak tahu dan tidak mengerti untuk apa ia hidup dan dimana ia harus berpijak.[4]
Robert Stenberg juga mengemukakan, “Salah satu sikap yang paling membahayakan yang telah dilestarikan oleh budaya kerja modern saat ini kita tidak boleh, dalam situasi apapun , mempercayi suara hati kita. Kita dibesarkan untuk meragukan diri sendiri, untuk tidak memperdulikan intuisi serta mencari peneguhan dari luar diri kita bagi beberapa hal yang kita perbuat. Kita kondisikan untuk mengandaikan bahwa orang lain lebih tahu daripada kita dan dapat memberi tahu kebenaran sejati dengan lebih jelas dibanding yang dapat kita ketahui sendiri.
Hal di atas agak bertolak belakang dengan sistem pendidikan kita selama ini, terlalu menekankan nilai akademik saja. Mulai dari tingkat sekolah dasar sampai ke bangku kuliah, jarang sekali dijumpai pendidikan tentang kecerdasan emosi yang mengajarkan inetgritas; kejujuran; komitmen; visi; misi; kreativitas; ketahanan mental; kebijaksanaan; keadilan; prinsip; kepercayaan; dan penguasaan atau sinergi.[5]
Spritualitas lebih menekankan subtantis nilai-nilai luhur keagamaan dan cenderung memalingkan diri dari formalisme keagamaan. Biasanya orang yang merespons agama dengan menekankan dimensi spritualitasnya cenderung bersifat apresiatif terhadap nilai-nilai luhur keagamaan, meskipun berada dalam wadah agama lain. Sebaliknya, ia merasa terganggu oleh berbagai  bentuk formalisme agama yang berlebihan, karena hal itu dinilainya akan menghalangi berkembangnya nilai-nilai moral dan spiritual keagamaan (komarudin hidayat dalam andito (ed,),1998: 41-2). Oleh karena itu, kita perlu mengetahui kebenaran agama bukan hanya pada dataran eksoterik melikan juga pada dataran esoteris.[6]
Di sinilah ESQ menjawab permasalahan tersebut. ESQ sebagai sebuah metode dan konsep pasti jawaban dari kekosongan batin sang jiwa. Ia adalah konsep universal mampu menghantarkan seorang pada ‘predikat memuaskan’ bagi dirinya sendiri dan bagi sesamanya. ESQ dapat pula menghambat segala hal yang kontraproduktif terhadap kemajuan umat manusia.[7]













C.    RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana konsep pendidikan ESQ Ary Ginanjar?
2.      Bagaimana nilai-nilai pendidikan Islam Ary Ginanjar?

D.    Telaah terdahulu
Di dalam skrispsi Umi Masruroh yang berjudul “Pendidikan Nilai Spiritual Dalam Al-Qur’an (Telaah Surat Al-Isra’ Ayat 79 dan Surat Al-Muzammil Ayat 20) ”. mengandung nilai positif yang berkaitan dengan pendidikan nilai spiritual antara lain sebagai komunikasi kepada sang khalik untuk mencapai ketentraman antara batin dan jiwa, sebagai sarana mendapatkan pahala yang lebih, yang telah dijanjikan oleah Allah tempat terpuji.[8]
E.     FOKUS PENELTIAN
Fokus penelitiannya adalah untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan islam yang terkandung didalam konsep ESQ ary ginanjar.




[1] H.Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2010), hal. 12
[2] HM.Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hal. 56
[3] Zakiah Daradjat,dkk. Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2011), hal.29-30
[4] Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun ESQ, (Jakarta, PT. Agra tilanta,2001) hal.xviii
[5] Ibid, hal. 5-6
[6] Atang Abd. Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, (Bandung, PT. Remaja Rosda Karya, 2010).Hal. 4
[7] Ibid, hal. xix
[8] Umi Masruroh,” “Pendidikan Nilai Spiritual Dalam Al-Qur’an (Telaah Surat Al-Isra’ Ayat 79 dan Surat Al-Muzammil Ayat 20) Skripsi, (Pekalongan: STAIN Pekalongan, 2011, hal. vii

Artikel keren lainnya:

1 Tanggapan untuk "NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM KONSEP PENDIDIKAN ESQ ARY GINANJAR AGUSTIAN"