Memancing Apersepsi Anak Didik
Sebelum saya membahas masalah
bagaimana cara memancing apersepsi anak didik, saya akan membahas masalah
peranan guru, Peranan guru artinya keseluruhan tingkah laku yang harus
dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru (Surya, 1997: 108).
Guru mempunyai peranan yang amat luas, baik di sekolah, di dalam keluarga, dan
di dalam masyarakat.
Disekolah guru berperan sebagai
perancang atau perencana, pengelola pengajaran dan pengelola hasil pembelajaran
siswa. Peranan guru di sekolah ditentukan oleh kedudukannya sebagai orang
dewasa, sebagai pengajar dan pendidik ,
yakni sebagai guru. Berdasarkan kedudukannya sebagai guru, ia harus menunjukkan
perilaku yang layak (bisa dijadikan teladan oleh siswanya). Tuntutan masyarakat
khususunya siswa dari guru dalam aspek etis, intelektual dan sosial lebih
tinggi daripada yang dituntut dari orang dewasa lainnya. (Tohirin, 2005: 152).
Pengajar perlu mengetahui sejauh
mana bahan yang telah dijelaskan dapat dimengerti oleh murid, karena dari
sinilah tergantung apakah ia dapat melanjutkan pelajaran atau kuliahnya dengan
bahan berikutnya. Bilamana murid belum mengerti bagian-bagian tertentu,
pengajar haurs mengulangi lagi penjelasannya. Pada umumnya murid juga tidak
tahu sejauh mana bahan yang diterangkan dapat mereka fahami. Hal ini kiranya
dapat dimaklumi, karena mereka tidak mempunyai waktu untuk memikirkan
pengetahuan yang baru saja mereka peroleh. Maka dari itu pengajar harus sedikit
memaksa sehingga murid dapat mengerti
betul-betul bahan yang diterangkan. Bagaimana hal tersebut dapat dilakukan? Ada
berbagai cara untuk itu. Cara paling sederhana adalah mengajukan
pertanyaan-pertanyaan selama atau pada akhir jam pelajaan. Dengan cara itu
pengajar akan menemukan apa saja yang belum tersampaikan secara jelas.
Segala hal yang ternyata belum
dimengerti secara jelas oleh pihak murid. Hendaknya dicatat dan diulangi lagi pada kesempatan berikutnya.
Cara lain yang lebih baik dan akan memberi keterangan lebih pasti adalah mengadakan
ujian singkat. Serupa dengan yang
disebut kwis, di akhir jam pelajaran. Dengan ujian singkat itu murid
dipaksa menuliskan. Sejauh mana bahan yang telah diterangkan dapat mereka
mengerti. Sering kali cara demikian tidak mungkin terlaksana, karena memerlukan
waktu cukup banyak. Namun kadang kala cara tersebut dapat sangat bermanfaat,
karena itu salah satu cara memancing apersepasi anak didik.
Umpan balik tidak sama dengan
penilaian. Umpan balik hanya dimaksudkan untuk mencari informasi sampai dimana
murid mengerti bahan yang telah dibahas. Selain itu murid atau mahasisiwa juga
diberi kesempatan untuk memeriksa diri sampai di mana mereka mengerti bahan
tersebut. Sehingga mereka dapat melengkapi pengertian-pengertian yang belum
lengkap.
Itulah tadi bentuk-bentuk umpan
balik yang dimaksudkan untuk melihat.
Sejauh mana suatu penjelasan dapat tersampaikan secara baik. Dan dari sini
kiranya saya telah mengetahui bahwa ada berbagai macam bentuk umpan balik.
Pilihan tentu saja paling tergantung pada pengajar yang bersangkutan sendiri.
Hal yang paling penting adalah sejauh mana uraian yang diberikan dapat diterima
secara jelas oleh murid. Pada umumnya pengajar kurang memikirkan perlunya
mengadakan umpan balik seperti itu. Setelah seluruh kursus atau seluruh
rangkaian pelajaran selesai diberikan. Terlihat pada waktu ujian bahwa murid
belum mengerti secara baik bahan yang diajarkan. Dan itu berarti suatu
keterlambatan. Sebaliknya, bilamana pengajar menyadari pentingnya umpan balik.
Maka pengajaran yang ia berikan akan menjadi lebih efektif.
Artikel AL-ISLAM lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "memancing apersepsi anak didik"
Post a Comment