PENDAHULUAN
Menurut Norman
E. Gronlund (1976) Evaluasi pendidikan merupakan suatu proses yang sistematis
untuk menentukan atau ,membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan
pengajaran telah dicapai oleh siswa, dengan kata-kata yang berbeda tetapi
mengandung pengertian yang hampir sama, Wrigstone dan kawan-kawan (1956 : 16)
mengemukakan rumusan evaluasi pendidikan sebagai berikut evaluasi pendidikan
ialah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah
ditetapkan dalam kurikulum.
Untuk mengukur
kesesuaian, efesiensi, kemantapan (consistency) suatu alat penilaian atau suatu
tes dipergunakan bermacam-macam kualitas seperti validitas, reabilitas, keandalan,
objektivitas, ekonomis, analisis butir soal dan kepraktisan serta cara
menghitung validitas suatu tes.
Makalah ini
akan membahas kualitas dan ciri-ciri tes yang baik, mulai dari efesiensi sampai
pada cara menghitung suatu tes, bila terjadi kesalahan atau
kekurangan-kekurangan dalam pembahasan materi maupun tulisan mohon kritik dan
saran dari para pembaca yang budiman agar makalah ini dapat mencapai
kesempurnaan.
1.
Validitas
Validitas
merupakan syarat yang terpenting dalam suatu alat evaluasi.
Suatu teknik evaluasi dikatakan mempunyai
validitas yang tinggi (disebut valid) jika teknik evaluasi atau tes itu dapat
mengukur apa sebenarnya akan alat ukur. Atau, seperti dikatakan Cronbarch: “How
well a testor evaluative technichue does the job that is employed to do. “
Validitas bukanlah suatu ciri atau sifat yang mutlak dari suatu evaluasi; ia
merupakan suatu ciri yang relative terhadap tujuan yang hendak dicapai oleh
tes. Teknik yang sama dapat digunakan untuk beberapa tujuan yang berbeda, dan
validitasnya sangat berbeda-beda dari yang tinggikepada yang rendah, bergantung
pada tujuan. Suatu tes pengerjaan berhitung, misalnya, dapat mempunyai
validitas yang tinggi untuk menentukan status siswa-siswa sekarang dalam
kecakapannya mengerjakan berhitung. Validitas tes itu mungkin sedang atau cukup
untuk mengukur kecakapan murid-murid dalam hitung dagang (bussunes arithmetic).
Dan mungkin juga tes tersebut mempunyai validitas rendah dalam mengukur
dan meramalkan keberhasilan dalam aspek-aspek matematis dari suatu pelajaran
ilmu alam yang akan datang.
Oleh karena, validitas harus ditentukan dalam
hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai dalam alat evaluasi itu.
·
Jenis-jenis validitas
Telah dikatakan bahwa validitas suatu alat
evaluasi bukanlah merupakan ciri yang absolut atau mutlak. Suatu tes dapat memiliki
validitas yang bertingkat tingggi: sedang ,rendah bergantung pada tujuannya.
Sehubungan dengan itu, ada beberapa jenis validitas, yaitu:
1.
Conten validity (curricular
validity)
Suatu tes dikatakan memiliki content validity jika scope
da nisi kurikulum yang sudah diajarkan. Isi tes sesuai atau mewakili sampel
hasil-hasil belajar yang seharusnya dicapai menurut tujuan kurikulum.
2.
Construct validity
Untuk menentukan adanya construct validity, suatu korelasi
yang dengan suatu konsepsi atau teori. Items dalam tes itu harus sesuai
dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam konsepsi tadi, yaitu konsepsi tentang
objek yang akan dites. Dengan kata lain, hasil-hasil tes itu disesuaikan dengan
tujuan atau ciri-ciri tingakah laku (domein) yang hendak diukur.
3.
Predictive validity
Suatu tes dapat dikatakan predictive validity jika hasil korelasi
tes itu dapat meramalkan dengan tepat keberhasilan seseorang pada masa
mendatang didalam lapangan tertentu. Tepat tidaknya ramalan tersebut dapat
dilihat dari korelasi koefisian antara hasil tes itu dengan hasil alat ukur
lain pada masa mendatang.
4.
Concurrent validity
Jika hasil suatu tes mempunyai korelasi yang tinggi dengan hasil
suatu alat ukur lain terhadap bidang yang sama pada waktu yang sama pula, maka
dikatakan tes itu memiliki concurrent validity (concurrent =
bersamaan waktu).
Validitas suatu tes ditanyakan dengan angka korelasi koefisien
(r). Kriteria korelasi koefisien adalah sebagai berikut:
0,00 – 0,20 sangat
rendah (hampir tidak ada korelasi)
0,20 – 0,40
korelasi rendah
0,40 – 0,70
korelasi cukup
0,70 – 0,90
korelasi tinggi
0,90 – 1,00 korelasi sangat tinggi (sempurna)
Cara
menghitung validitas suatu tes dapat dilakukan antara lain sebagai
berikut:
1.
Dengan product moment correlation (metode pearson).
Rumusnya :
2.
Dengan rank method of
correlation (metode spearman):
Cara menghitung dengan
menggunakan rumus koefisien kore;asi tersebut diatas akan diterangkan kemudian.[1]